I Create a Different Flavor

Jakarta – Kala itu di tahun 1976, ruang makan kapal SS Rotterdam di  Holland America Line Cruise begitu sibuk. Widjiono Purnomo yang bekerja disana hilir mudik tak hentinya melayani para penumpang yang lapar. Tak peduli peluh dirasa,  dalam batinnya terbesit sudah enam tahun ternyata dirinya bekerja di Holland America Line Cruise selepas lulus sekolah pariwisata Akademi Perhotelan, Bandung.

Suatu ketika di sela kerja ada pemandangan indah yang menarik perhatian. Mata Chef Yono sapaan akrab Widjiono Purnomo tertuju pada seorang penumpang wanita yang bernama Donna. Kehadirannya bagai angin segar di tengah lautan. Hati kecilnya dibuat menari. Tak pelak, hati pun berbisik wanita ini lah yang akan berlabuh di pelaminannya kelak.

Dan benar saja, hati tak pernah berbohong, Widjiono Purnomo pun memberanikan diri untuk menikah, meski kapal tempat bekerjanya berlayar kemudian tanpa dia. Tahun 1978, Chef Yono mulai menetap di Albany, Amerika Serikat bersama sang istri. Perjalanan hidupnya pun dimulai.  Hal pertama yang harus dilakukan adalah bekerja.

Tentu,  tinggal di negeri orang harus ada sesuatu yang dapat menghasilkan uang. Widjiono kemudian mencari peruntungan dan rezekinya ternyata berada di sebuah restoran New York, bernama 21 restaurant.

Bekerja beberapa tahun di sana dan tepat di tahun 1982, dewi fortuna berpihak kepadanya. Atas sikap dan perilaku yang baik serta cekatan saat bekerja menarik hati sang empunya restoran. Alhasil, Chef Yono mendapat kesempatan untuk mengelola restoran berikut dengan dapurnya.

“Dari situlah saya harus tahu semuanya tentang dunia restoran dan belajar kuliner dari teman-teman di Amerika. Tiap sebulan sekali saya pergi ke seminar-seminar untuk menambah ilmu” tutur Widjiono Purnomo.

Di tahun itu juga, masakan Indonesia mulai dijajakan di restorannya, mulai dari Opor, Gulai, Rawon, Soto Madura, Tahu Semarang, Bakmi Goreng dan yang lain-lainnya. Chef Yono mengatakan di tahun 1980-an masakan-masakan itulah yang digemari di Amerika Serikat. Hanya saja, masakan Indonesia itu belum masuk dalam menu restoran, sebab restorannya bersifat American Restaurant alias masakan-masakan Amerika yang dijual.

Hingga tiba waktu, sebuah peristiwa terjadi yang tak mungkin dilupakan olehnya. Entah karena apa, restorannya ludes dilahap si jago merah. Yono dibuat kelimpungan, sebab sumber rezekinya telah menjadi abu. Tanpa ada uang tak mungkin bisa hidup di negeri Pam Sam.  Chef Yono lalu  memutuskan menjual lahan yang terbakar itu.

Lumayan hasilnya, sebab ia membutuhkan modal untuk membangun kembali sumber penghidupan. Hasil penjualan itu lantas ia belikan bangunan yang lebih kecil dan memulai usahanya kembali dari nol. “Saat itulah, saya dan istri mendirikan Yono’s Fine Dining pada 1985 di Albany New York States,”katanya.  Restoran  Yono’s Fine Dining, Chef Yono membuatnya sedikit berbeda terutama dalam hal menu.

Dalam daftar menunya  tersedia masakan-masakan Indonesia. “Jadi menu itu setengah untuk masakan  Indonesia dan setengahnya lagi continental, east meet west” Imbuhnya. Chef  Yono pun mulai berpetualang dengan masakan Indonesia di Amerika Serikat.

Masakan Indonesia, Lidah Amerika

Dari the real life, Chef Yono belajar untuk semakin menjadi chef. “Saya bertemu dengan banyak chef dari manapun, saya banyak belajar dari sana dan berani untuk maju. Saya berbeda dengan yang lainnya, dan benar-benar mentaati, menjiwai dan merangkul sambil belajar. Learn more, sharing more, take and give” tuturnya.

Alhasil, semangatnya untuk terus belajar membuatnya semakin cekatan dalam meracik masakan Indonesia yang sesuai dengan lidah orang Amerika. Chef Yono mengatakan dia membuat masakan bukan melulu untuk orang Indonesia saja, melainkan orang Amerika. Apalagi menyangkut dengan bisnis restoran yang dia geluti yang notabene banyak orang Amerika yang datang. Di sinilah tantangan yang mesti dihadapinya.

Chef  Yono harus membuat masakan Indonesia yang familiar di lidah orang Amerika. Seperti misalnya saat membuat masakan gado-gado, dijual jual laku atau tidak, dia lalu searching dan menanyakan kepada para pembeli soal rasanya.  Dari sana Chef Yono mengetahui rasa apa yang dinginkan oleh para pembelinya.

“Dan sebagai bisnis saya juga harus menyatukan ke penggemar atau pembeli di restauran, we create a different flavor, terutama soal bumbunya yang harus asli, misalnya seperti rasa pedas yang pada dasarnya komposisi sama, namun berapa banyak yang kita kasih kepada para pembeli, nah itu kita tanyakan ke orang-orang mencicipi masakan” tuturnya.

Dan disinilah kuncinya bertahan melewati waktu yang panjang. Yono selalu memberikan masakan yang cocok di lidah para konsumennya.  Untuk lidah orang Amerika sendiri, Chef Yono dalam menyajikan makanan selalu bertumpu pada kualitas. “Karena memang untuk orang amerika, kalau kita menyajikannya masakan-masakan yang biasa saja sepertinya sulit bertahan, jadi saya lebih  step up atau lebih ke atas. Disini kan kita tidak hanya dagang saja, melainkan melibatkan unsur entertaiment, service, ambiance, hospitallity dan selalu memenuhi keinginan dari para konsumen yang datang” kata Chef Yono.

Jadi menurutnya, chef itu harus mampu dan  menjiwai apa itu artinya service,  hospitallity, ambiance. Dan tentu, kualitas dan  never cheet the customer. Di Amerika Serikat itu berbeda, kata Chef Yono, sebab prestisiusnya restoran terkadang terletak di tangan seorang chef-nya. Para konsumen mencari chef-nya bukan selalu restorannya. Oleh karena itu chef itu mempunyai peranan tinggi di restoran karena dari tangannyalah dia menampilkan sajian makanannya. “Disini saat saya punya tamu katakanlah 10 orang pasti akan pulang dengan rasa gembira” imbuh Yono.

Tangan dingin pria asal Solo ini, selain dijajakan di lidah para pembeli di restorannya. Masakannya, tanpa dinyana pernah dijajal oleh para petinggi negara sekelas presiden, sebuat saja muli dari Presiden Susilo BambangYudhoyono, mantan presiden AS Bill Clinton sampai George Bush.

Tak hanya itu, Chef Yoni merupakan chef dengan segudang prestasi. Ia  pernah  mewakili New York State di Amerika Seafood Challenge, sebuah kompetisi nasional bergengsi yang diselenggarakan di New Orleans. Dia terpilih sebagai anggota Chefs Nasional Program Touring untuk Festival Indonesia lama dua tahun.  Chef Purnomo telah tampil di Today Show, dan TVFood

Dan juga pernah memenangkan berbagai “Best of Show” penghargaan serta Bronze, Silver dan Gold medali baik melalui Nasional dan kompetisi internasional. Chef Purnomo telah mewakili Amerika Serikat baik secara individu maupun sebagai kapten dari tiga anggota tim USA di Cookery Championship. Chef Purnomo, manajer tim, memimpin tujuh anggota New York State Kuliner Tim, Albany ke London untuk Hotelympia “La Parade des Chefs”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s