Rawat Informasi Ala K Atmojo

Majalah lama yang tak lagi terpakai di rumah, mungkin sebagian besar dari kita akan  menyingkirkan atau memberikannya kepada tukang loak yang kebetulan lewat di depan rumah. Tapi bagaimana jika majalah lama itu ada di tangan K Atmojo ? keinginan untuk membuangnya pun mungkin tidak terbesit dalam pikiran. Ujungnya-ujungnya majalah itu akan menghiasi salah satu sudut ruangan yang penuh dengan ribuan majalah lainnya.

K Atmojo, bisa dibilang maniak kalau soal majalah. Majalah apa saja disimpannya dari yang usianya sudah seabad sampai majalah yang baru terbit kemarin.  Sampai saat ini, tak kurang dari 3.950 judul majalah yang Atmojo punya. Pun ditambah dengan ratusan tabloid dan ratusan koran dari segala zaman.

Mengumpulkannya sekitar 10 tahun lalu,  satu demi satu Atmojo cari dan kumpulkan. “Masih belum lengkap, tetapi sudah lumayan banyak sekarang” kata dia.

Alasan Atmojo mengoleksi ribuan majalah ini cukup sederhana. Dasarnya dia memang cinta membaca, tak hanya buku namun juga majalah.’Sebagian buku dan majalah itu saya simpan. Lama_lama kok jadi banyak. Tapi mau dibuang sayang. Jadi ya terus saya simpan” tuturnya.

Apalagi, Atmojo mengatakan seperti kita ketahui bersama, pers adalah pilar keempat demokrasi. Di dalam media cetak, tersimpan berbagai informasi dan data tentang berbagai hal. Ada soal sejarah, politik, ekonomi, termasuk gosip dan sangat disayangkan kalau dokumentasi itu raib begitu saja.

Sebagian besar majalah yang dikoleksinya, dia membeli dari berbagai kota. Dari timur Indonesia sampai ke Malang, Surabaya, Medan, Yogyakarta, dan kota lainnya. Dan hanya ada beberapa saja yang merupakan hadiah dari kenalannya.

Sampai saat ini Atmojo masih terus membeli, yang unik dari “perburuan” ini, semakin tua majalah atau koran pasti harganya akan semakin mahal dirasa sampai membuat sesak di dada dan kantongnya.

Selain itu saking asiknya berburu majalah, tak urung terkadang membuat istri tercintanya cemberut, merasa diduakan. Namun namanya juga sudah cinta,  keranjingan memburu majalah ini seakan-akan tak pernah berhenti.” saya pura-pura nggak mendengar saja sindiran istri saya” katanya Atmojo.

Terbelit Tempat yang Terbatas dan Rayap

Sindiran istri memang tidak seberapa, masalah yang dihadapinya kemudian lah yang dirasakannya  pelik. Ribuan majalah yang dikoleksi harus dihadapkan pada kenyataan yang pahit.

Gudang tempat tersimpannya majalah-majalah tersebut dirasanya sudah tak lagi mampu menampung jumlah majalah. Belum lagi dengan gangguan rayap yang datang seraya lapar dengan kerta-kertas majalah yang dikoleksi Atmojo.

“Sudah beberapa kali koleksi saya dimakan rayap. Juga terkena air yang bocor dari atap” tuturnya. Pada saat seperti itu, Atmojo merasa sebagian jiwanya melayang. Sedih sudah pasti, dan dia merasa pasrah saja dengan kondisinya. “Saya bukan orang kaya yang bisa mempekerjakan orang untuk merawatnya. Selama ini semuanya hanya saya tumpuk di gudang yang seadanya” kata Atmojo.

Atmojo merasa seharusnya koleksi yang dia miliki  ada orang atau institusi yang dapat merawatnya lebih baik dibanding dirinya. “Sayangnya kok belum ada yang terpikir. Padahal betapa pentingnya isi koleksi itu” bilangnya. Bahkan,  beberapa temannya pernah menyarakan agar koleksinya itu dijual  ke luar negeri. Tapi namanya Atmojo, dia merasa tidak  tega menjualnya. Sebab, menurutnya, kalau koleksi itu melayang ke luar negeri, suatu kali kalau ada orang yang memerlukan isinya, dia harus pergi ke luar negeri dan tragis namanya.

“Masak mencari data tentang indonesia kok malah ke luar negeri. Itu sebabnya saya tetap berusaha menyimpannya sampai sebatas kemampuan saya. Selanjutnya, kita lihat saja nanti.” tuturnya

Sebagian koleksi majalah Atmojo dapat dilihat sebuah blog sederhana yang bernama koleksikemalaatmojo.blogspot.com. Pun dengan berbagai macam majalah yang terbit di tahun-tahun yang berbeda. “Blog itu ya dibuat agar saya tahu aja koleksinya apa saja dan biar orang lain juga bisa tahu ”katanya.

Di blog majalahnya ini Anda dapat melihat majalah Sin Po yang merupakan majalah yang dimotori oleh etnis tionghoa yang terbit awal abad ke-21. majalah Jaya Express tahun 1930-an, majalah Het Licht Tahun 1932, dan banyak lagi. Tak hanya majalah berbahasa Indonesia, Atmojo juga mengoleksi majalah berbahasa asing contohnya  Majalah Het Indisch Leidersblad dan Majalah Eh Thoeng yang menggunakan bahasa Belanda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s