Korban Penyintas Perlu Dukungan Moral 100 Persen

Jakarta – Masih terngiang dalam ingatan belasan pemuda dengan tega memperkosa dan membunuh secara keji Yuyun, siswi Sekolah Menengah Pertama 5 Satu Atap Padang Ulak Tanding, Kabupaten Rejanglebong, Bengkulu.  Tak berhenti sampai disitu, kasus-kasus kekerasan seksual pun banyak muncul ke permukaan.

Masifnya kasus kekerasan seksual,  sampai-sampai Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa kejahatan seksual terhadap anak di Indonesia masuk dalam kategori kejahatan luar biasa. Hukuman biasa tak membuat jera, kebiri pelaku menjadi solusi. Tetapi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menolak menjadi eksekutor.

Rencana eksekusi kebiri jalan terus,   Perppu Kebiri dirancang. Tinggal menunggu waktu walau Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI sampai saat ini belum mengesahkan Peraturan Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak (Perppu Kebiri).

Wulan Danoekoesoemo dari Lentera Sintas Indonesia memberikan tanggapannya,  berikut petikan wawancara penulis setahun yang lalu di Jakarta.

Sering terjadi kasus kekerasan seksual akhir-akhir ini, tanggapan Anda selaku Direktur Eksekutif Lentara Sintas Indonesia ?

Lentera Sintas Indonesia ini didirikan tahun 2011, organisasi nirlaba ini menyediakan layanan untuk para penyintas kekerasan seksual dan memberikan edukasi dan advokasi terkait isu kekerasan seksual. Melihat banyaknya kasus yang terjadi, menurut kami sebenarnya itu bukan sesuatu yang terjadi tiba-tiba. Hanya berangkali media lebih intens memberitakan kejadian sehingga urgensinya terlihat.

Setiap tahunnnya Komnas Peremnpuan merilis data pelaporan kasus korban kekerasan seksual. Dan sekarang ini kekerasan yang terjadi juga melibatkan unsur sadisme. Barangkali dengan proporsi media yang memberitakan, masyarakat Indonesia menyadari urgensinya tinggi sekali.

Kasus kekerasan seksual, setiap tahunnya apakah ada kecenderungan meningkat atau tidak?

Yang perlu digarisbawahi adalah angka yang dicatat oleh Komnas Perempuan, kalaupun ada peningkatan adalah ujung dari gunung es dan hanya merefleksikan sedikit angka yang dilaporkan. Angka Komnas Perempuan memang besar tetapi tidak mencerminkan apa yang terjadi di lapangan. Mudah-mudahan dengan banyak kasus yang terjadi, masyarakat tersadar dan kami berharap lebih banyak para penyintas untuk berani melaporkan ke pihak berwajib.

Pertanyaan mendasar, apa yang menjadi penyebab orang melakukan tindak kekerasan seksual?

Penyebab tindak kekerasan seksual karena faktor si pemerkosa itu sendiri. Jika kita kaitkan dengan berbagai faktor yang dijadikan penyebab, apakah kemudian bisa digeneralisir, pada kenyataan tidak!. Misalnya, bahwa ada unsur miras terlibat dalam suatu kasus, fakta unsur itu terlibat ada didalam konteks iya, tetapi apakah semua orang yang minum  miras menjadi pemerkosa?. Jadi disitu yang berperan adalah di pelakunya sendiri yang memiliki niatan untuk melakukan tindak kejahatan. Fundamentalnya disini adalah harus mulai berhenti untuk menyalahkan faktor-faktor diluar pemerkosanya itu sendiri.

Bagaimana pendapat Anda dengan langkah pemerintah terkait dengan hukuman kebiri bagi para pelaku kekerasan seksual?

Langkah yang dilakukan pemerintah saat ini terus terang patut diapllause karena  pemerintah akhirnya memutuskan mempercepat proses dan menilai bahwa urgensi itu ada. Tetapi sebenarnya sangat disayangkan juga harus menunggu urgensi dulu baru bertindak,  namun itu lebih baik daripada tidak.

Namun apa hukuman yang tepat dan adil bagi para pelaku kekerasan seksual?

Mengenai apa hukuman yang tepat adil atau tidak, saya bukan pakar hukum jadi tidak bisa mengatakan tepat atau tidak. Namun sebagai orang yang bekerja mendampingi para penyintas, yang bisa saya sampaikan tentang adil adalah ketika aparat penegak hukum tidak menyalahkan korban, bersikap objektif dan tidak menyudutkan korban. Karena kalau proses hukum di Indonesia yang terjadi adalah  peyintas yang harus membuktikan bahwa itu terjadi, bukan pelakunya. Adanya korban yang dikejar-kejar yang harus menjalani BAP berjam-jam dan lainnya. Kalau bukti lengkap pelaku baru ditangkap. Ini sesuatu yang harus dirubah menurut saya.

Menjalani proses hukum tidaklah mudah dan murah. Seberapa jauh pemerintah dapat memberikan pendampingan dalam hal ini?  Ketika korban harus menjalani visum dan rangkaian test yang tidak murah, apakah itu dikover oleh asuransi atau memakai uang sendiri. Jika pilihan kedua yang berlaku, maka besar kemungkinan korban lebih memilih untuk tidak melaporkan saja karena tidak punya uang. Seberapa jauh juga negara memberikan jaminan pendampingan hukum?

Selanjutnya?

Kemudian bagaimana jika korbannya anak sekolah, dan ketika mengalami tindak perkosaan kemudian hamil? apakah ada kebijakan sekolah untuk tidak mengeluarkan siswa dari sekolahnya?. Itu kan jatuhnya jadi bentuk diskriminasi pendidikan. Alangkah baiknya ada kebijakan sekolah harus tetap bisa memfasilitasi korban tersebut.  Dan yang tidak langkah penting adalah Resosialisasi, alangkah baiknya apabila adanya peningkatan kesadaran yang simultan di masayakat, ketika penyintas kembali ke masyarakat mereka tidak disudutkan atau sebagainya.

Penyintas yang mengalami tindak kekerasan seksual tidak melaporkan karena suatu hal tertentu, bagaimana pendapat anda?

Salah satu alasan utama mereka menolak melapor adalah malu. Karena malu itu kan terhadap orang lain, mereka sadar ketika melapor, pandangan orang ke dia akan negatif. Kalau kita menuntut ada peningkatan pelaporan, kitanya  siap atau tidak untuk tidak menyudutkan mereka. Ketika mereka melapor, dengan didukung oleh keluarga, teman atau siapa saja, keyakinan mereka akan lebih besar karena merasa akan dilindungi oleh orang sekitarnya.

Tapi bayangkan, siapa yang berani melapor, kalau mereka tahu misalnya belum-belum keluarganya sudah menyalahkannya? Mereka pasti keburu ciut, sebab penyintas perlu dukungan emosional dan psikologis karena itu penting.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s