11 September Dalam Ingatan Orang Indonesia di AS

Serangan teror yang menghilangkan nyawa sekitar 2.976 orang itu masih sulit dilupakan.

Jakarta – Pada pagi 11 September  2001, 19 pembajak mengambil alih empat pesawat komersial yang sedang terbang menuju San Francisco dan Los Angeles setelah lepas landas dari Boston, Newark, dan Washington, D.C. Pukul 8.46 pagi, lima pembajak menabrakkan American Airlines Penerbangan 11 ke Menara Utara World Trade Center (1 WTC) dan pada pukul 9.03 pagi, lima pembajak lainnya menabrakkan United Airlines Penerbangan 175 ke Menara Selatan (2 WTC).

Dunia pun berduka tak terkecuali Joutje Kaunang.  Joutje masih teringat peristiwa pilu itu. Pria yang tinggal di New York, AS,  selama 18 tahun ini mengenang  tragedi kemanusiaan itu dari tempat tinggalnya di Queens.

Asap hitam saat itu terlihat membumbung tinggi di angkasa dari tempat tinggalnya.  Pria yang bekerja di Manhattan kala itu sedang berada dirumahnya. “ Aku sedang menjaga anak kami, Erica Kaunang  dan Istri sedang kerja. Setelah Istri pulang kerja, istri yang  gantian jaga Si Erica dan aku kerja malam” katanya.

Asap hitam yang dilihat oleh Joutje pikirnya itu adalah kecelakaan pesawat. Nah, saking penasarannya ia langsung keluar dan melihat banyak orang yang pulang jalan kaki dari Manhattan ke Queens. “Semua transportasi semacam kereta atau subway langsung tidak jalan. Banyak warga Queens yang bekerja di Manhattan  terpaksa rela berjalan kaki dari Manhattan ke  Queens. Karena memang tidak  ada kereta yang jalan, semua ,moda transporatasi umum dihentikan.”

Kelihatan sekali, katanya,  goresan api mengepul di atas langit-langit Down Town NY waktu pesawat pertama menabrak  WTC. Selang beberapa menit kemudian datang lagi pesawat lain menabrak Menara yang satu lagi. Dia pun langsung  mengatakan dalam hati ditambah dengan siaran televisi, Ini pasti kerjaannya Teroris.

Benar saja Amerika di hari itu sedang diserang oleh Teroris. Perang melawan teror dimulai,  Afganistan pun menjadi ladang sasaran serangan tentara negeri Paman Sam. Al-Qaeda dengan Osama bin laden menjadi buronon kelas kakap yang harus ditangkap hidup atau mati.

Senada dengan cerita Touje, Dani Sirait yang ketika itu menjadi jurnalis kantor berita Antara yang ditugaskan di New York mengatakan, peristiwa 11 September merupakan peristiwa yang tidak bisa dilupakannya.

Walaupun apartemen tempat tinggalnya rada sedikit jauh dari WTC, Dani melihat secara jelas dari jendela apartemennya. “Saya waktu itu tinggal di Queens, dan pas jam 8 pagi siap-siap untuk berangkat kerja terus baru saja saya mau berangkat ada kapal pertama yang menabrak, tak lama kemudian pesawat kedua menabrak.” katanya.   Saat itu insting jurnalisnya langsung bekerja seraya mengatakan ini bukanlah peristiwa biasa yang dapat dia  jumpai setiap hari.

Dani langsung berusaha mengirimkan berita ke Jakarta secepat mungkin mengenai apa yang dilihatnya pagi itu. Setelahnya dia keluar menuju lokasi terjadinya tragedi.  Sejak hari itu sampai 3 minggu kemudian, Dani sangat sibuk. Selain tugas sebagai  wartawan yang harus diembannya, dia juga merasakan perasaan ngeri luar biasa melihat masifnya kerusakan dan korban, suasana mengerikan secara keseluruhan.

Selang tak lama, dia mendengar dari konsulat di New York ada sekitar 50 orang Indonesia yang tinggal di wilayah Menara Kembar.  Dani berusaha menghubungi mereka satu persatu. Rata-ratanya, walaupun pada prosesnya sedikit susah karena hubungan telpon yang terputus. “Ternyata semuanya selamat tetapi ada satu korban yang tidak selamat karena dia merupakan salah satu penumpang dari pesawat kedua yangmenabrak menara kembar.” tutur Dani.

Dani bercerita, suasana sangat mengerikan sekali saat dia mencoba mendekati Ground Zero.  Dani dapat masuk karena mempunyai kartu izin wartawan dari NYPD. Dari kartu itu dia dizinkan untuk masuk ke daerah-daerah berbahaya. “Tetapi saya tidak masuk ke dalam sekali karena reruntuhan itu masih sangat baru dan rentan terjadi reruntuhan lain” katanya.

Saat itu dia sempat melakukan wawancara dengan orang Indonesia yang berasal dari Chinatown. Orang Indonesia itu harus berlari-lari padahal usianya sangat tua, di tengah reruntuhan bangunan dan untungnya dia selamat.

Bagi Dani, cerita ibu yang diwawancarainya adalah yang dialami oleh ratusan orang Amerika di pagi itu. “Sebagai seorang jurnalis, peristiwa 11 Seoptember itu sangat luar biasa baik dari segi liputan maupun emosi yang saya rasakan saat itu”.tutur Dani.

Selain Dani Sirait dan Joutje Kaunang, cerita 11 September juga dikisahkan oleh Bambang A Hartono di kompasiana. Dia menuliskan pada hari 11 September dia ingin makan di salah tempat makan di WTC, namun pemandangan yang tidak biasa terlihat ketika dirinya melintasi jembatan Queensborough sekitar pukul 9 pagi.

Ketika perlahan melintasi jembatan dari kejauhan sebelah kiriya melihat asap mengepul dari salah satu Twin Towers. Semakin mendekati pertengahan Queensborough Bridge, asap terlihat semakin jelas dan tampak api menyala. Saat itu dirinya hanya menduga bahwa kemungkinan telah terjadi kebakaran di salah satu gedung tertinggi di New York tersebut.

Sehari sebelumnya dia melakukan reservasi (dan telah mendapatkan konfirmasi) untuk makan siang pada hari itu 11 September 2001 pukul 12.30 di Windows of the World restaurant.  Maka melalui handphonenya dia mencoba menghubungi salah satu staff di KJRI New York. “Saya katakan bahwa terlihat asap dan api mengepul dari salah satu Twin Tower. Tampaknya sedang terjadi kebakaran di Twin Towers dimana terdapat Windows of the World restaurant.” tulis Bambang.

Staff yang dihubungi saat itu hanya mengatakan bahwa ada berita pesawat  crashed dan menghantam salah satu dari Twin Tower. Mendengar kabar tersebut, dia lalu melakukan scan di radio untuk mendapatkan breaking news.

Tidak lama kemudian, tersiar lah breaking news di radio yang menyebutkan bahwa telah terjadi kebakaran pada salah satu Twin Tower akibat pesawat yang crashed. Manhattan yang dikenal sebagai kota yang tak pernah tidur, saat itu langsung berubah seperti kota mati.

Dia langsung merenung dan bersyukur atas segala hikmah yang ada. Bambang membayangkan, apa yang akan menimpa dirinya, jika hari itu pesawat-pesawat yang menghantam Twin Tower terjadi persis ketika dia sedang makan siang di Windows of the World restaurant yang berada di lantai 107 Tower Utara.

Mungkin waktu itu dia hanya akan pulang nama, mungkin akan pulang secara tidak utuh, mungkin tidak akan dapat berkumpul dengan keluarga lagi atau kemungkinan-kemungkinan yang buruk lainnya. Dia yang seharusnya makan siang di Tower Utara tersebut, secara berkelakar kemudian  mengatakan telah mendapatkan perpanjangan  ‘stay permit’ untuk menghirup udara di dunia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s