Catatan Kata Kelana

Jejak Nada Via Digital

Jika rindu dan merasa ingin tahu mengenai karya musik popular Indonesia via suara. 

Coba selasari mesin pencari dengan kata kunci irama nusantara. Sekejap akan muncul dalam laman depan,  sebuah situs bernama iramanusantara.org. Disini Anda akan menemukan sekaligus dapat mendengarkan  berbagai macam album karya musisi Indonesia tempo dulu tanpa harus mengunduhnya.

Jakarta – Ya, iramanusantara.org hadir bukan sebatas situs musik semata,  melainkan sebuah lembaga pengarsipan musik digital yang didirikan plus dikelola secara swadaya oleh enam anak muda pecinta musik Indonesia.

Adalah David Tarigan, Christoforus Priyonugroho, Toma Avianda, Alvin Yunata, Norman Illyas, dan Dian Wulandari  yang menjadi inisiator dibalik berdirinya iramanusantara. David Tarigan mengatakan iramanusantara pada dasarnya didirikan bertujunan ingin  berbagi apa yang mereka ketahui tentang  musik popular di Indonesia.

“Disini kita memulainya dengan sesuatu berupa data mentah karena ini untuk membantu semuanya,  dari orang yang ingin mengetahui musik Indonesia,  anak muda yang ingin mencari sesuatu yang baru, sampai para peneliti yang ingin mengetahui musik popular Indonesia” katanya kepada penulis beberapa waktu lalu di Fatmawati, Jakarta Selatan.

Selain itu, David menuturkan untuk urusan pengarsipan di Indonesia bukanlah prioritas penting dan negeri ini tidak memiliki tradisi pangarsipan yang baik, terlebih lagi pengarsipan dalam bidang seni khususnya musik popular. “Jadi ada gap atau jurang pendengar lintas generasi antara  apa yang pernah terjadi ke negeri ini dengan sekarang. Dan Irama nusantara mencoba untuk menjembatani jurang tersebut seraya memberikan pengetahuan perihal musik popular kepada generasi sekarang”

13325534_1334795793202941_1423534794462481571_n

Embrio iramanusantara sebenarnya sudah muncul sejak para inisiator termasuk David masih duduk di bangku kuliah. Awalnya mereka  suka musik popular Barat dan Indonesia.  Seiiring dengan waktu, ketertarikan itu membawanya  untuk mencari karya-karya musik hingga ke seluruh pelosok Jakarta.  Dan ketika mencari rekaman musik Barat, disaat bersamaan mereka juga banyak menemukan rekaman musik Indonesia tempo dulu.

Namun  mereka mendengarkannya dengan caranya sendiri, berbeda dengan orang tua mereka yang mungkin hidup atau tumbuh  bersama dengan musik-musik tersebut. “Yang kita suka pun bisa berbeda dengan mereka. Tetapi kita ingin mengetahui lebih jauh mengenai rekaman musik tersebut.” tuturnya.

Di bangku kuliah David bersama teman-temannya membuat website sendiri dengan nama Indonesia Jumawa. Website ini tidak terlalu serius dan dibuat untuk berbagi info tentang musik yang kontennya diisi dengan upload-an data rekaman berikut dengan cover, label rekaman, dan tulisan notes di album tersebut. Audionya disertakan tetapi tidak utuh. Namun berhubung kesibukan kuliah dan lain sebagainya, website ini pun  akhirnya terbengkalai.

Sampai akhirnya, zaman sudah sedemikian rupa berikut dengan  arus informasi yang semakin deras.  Kesimpang siur-an terjadi terhadap fakta dan data termasuk urusan musik popular Indonesia. Ketertarikan musik popular yang terlupakan ini makin lama makin membesar, tidak hanya dari  Indonesia saja, melainkan luar negeri. Tak jarang yang membawa kembali ke permukaan musik popular Indonesia lama adalah orang-orang dari luar Indonesia. Banyak  yang membuat rilisan ulang tidak resmi rekaman musisi Indonesia tempo dulu karena susah mencari rekaman-rekaman tersebut.

Nah, disaat seperti ini David bersama rekan-rekannya hadir dengan data-data yang sahih dengan kendaraannya berupa website, yang diisi dengan data visual, audio dan teks.  Iramanusantara.org pun dibuat untuk mempermudah mereka yang ingin mengetahui musik popular di Indonesia  tujuannya bukan untuk komersial tetapi lebih kepada berbagi pengetahuan.

Piringan hitam milik sendiri, mereka alih mediakan menjadi format digital. Pemindahan audio dari piringan hitam ke format audio digital memakan waktu yang cukup lama. Mereka harus mengolah dengan perangkat lunak agar hasil audio maksimal. Iramanusantara mengkhususkan rilisan yang beredar pada dekade 1960 sampai 1970. Selain mengalih-mediakan  piringan hitam milik pribadi, mereka juga meminjam dari para kolektor.

Diakui oleh David, lumayan sulit bagi para kolektor  membiarkan barang-barang koleksinya untuk keluar dari rumahnya, barang itu  seperti anaknya sendiri.  Mereka pun harus pasang badan, sebab mereka yang  scanning dan foto supaya kolektor percaya.  Kemudian para pedagang, sebab sumber perputaran rekaman Indonesia lama ada di tangan  kolektor dan pedagang. Selain itu mereka juga mencari  sumber asli, terkadang mereka   menemukan keluarga pemilik rekaman zaman dahulu bahkan radio.  Tak ketinggalan Radio Republik Indonesia (RRI) pun mereka sambangin dan mendapatkan lampu hijau untuk melihat koleksi-koleksi dan mengarsipkan.

Mentransformasikan bentuk konvensional berupa kaset dan piringan hitam ke bentuk digital bukanlah hal yang mudah. Untungnya, David beserta para inisiator iramanusantara lainnya cinta mati terhadap musik dan melakukannya dengan senang hati.

10679552_978520538830470_5246407206947931594_o

“Iramanusantara masih mengerjakan khusus untuk piringan hitam saja tetapi  kita akan menyiapkan transfer yang lebih tua lagi tahun 1950-an. Tapi piringan hitam di Indonesia sebelum dekade 1960-an masih ukurannya 10 cm, kecepatannya 78 rpm dan hanya dua lagun dan bahannya bukan vinyl  yang mudah rusak,  ini merupakan tantangan bagi kita”  tutur salah satu pendiri Aksara Record ini.

Setelah berjalan beberapa tahun, penggunjung  iramanusantara semakin meningkat. Nama-nama besar semisal Koes Bersaudara atau Koes Plus, Dara Puspita, lalu Benyamin adalah yang paling sering dikunjungi. Tetapi ada satu yang unik, selain musisi tersebut ternyata musik dangdut melayu pun banyak pengunjungnya. Tak jarang penggemar musik dangdut melayu mengirimkan surat sebagai bentuk apresiasi. Bahkan tidak hanya datang dari Indonesia, melainkan juga dari luar negeri.

“Suatu saat idealnya nanti ini akan menjadi jaringan besar dengan lebih banyak lagi rekaman yang bisa diarsipkan tidak hanya piringan hitam saja dan datanya bisa di share ke khayalak luas”pungkasnya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 30 December 2016 by in Humaniora, Lintasan Musik and tagged , , , , .
%d bloggers like this: