Membawa Karya Sastra Indonesia ke Kancah Dunia

Melalui Yayasan Lontar yang didirikan bersama para sastrawan ternama Indonesia, John McGlynn menerjemahkan banyak karya sastra kontemporer Indonesia ke dalam bahasa Inggris.

Mulai  dari karya Pramoedya Ananta Toer, The Mute’s Soliloquy sampai karya puisi   Sapardi Djoko Damono, Before Dawn. Sastra  terjemahan buah karya John pun melanglang buana sampai Eropa dan Amerika Serikat.

Jakarta – Rambutnya terlihat sudah memutih saat John kali pertama menyapa penulis di ruang kerja kantornya di Jl. Danau Laut Tawar No.53A, Pejompongan, Jakarta. Maklum, tahun ini saja dia  berusia 63 tahun. Usia boleh  semakin tua, namun semangat yang dipancarkan seperti layaknya anak muda.

Di usianya yang senja, John McGlynn masih tetap gigih bergulat dengan karya-karya sastra Indonesia. “Tahun ini Lontar rencananya akan menerbitkan buku-buku  terjemahan dari puisi 350 sajak dan  100 cerpen, dan dari 100 cerpen, akan ada kontrak dengan 100 pengarang. Jadi bisa dibayangkan!” tutur John.

2207_50300122911_9490_n

Perkenalan John dengan Indonesia diawali pada dekade 1970-an. John yang dilahirkan pada tahun 1952 dari keluarga besar petani  di Cazenovia, Wisconsin, Amerika,  di awal tahun 1970  kuliah  di  Universitas Wisconsin, Madison Jurusan Seni Desain dan Teater. Tetapi di tahun 1973, John   pindah ke Jurusan Asia Tenggara di tahun 1973. Dan kebetulan salah satu guru ditempatnya menimba ilmu  ada yang mempunyai wayang kulit dari Indonesia.

Sebagai  proyek kelas, John membuat wayang kulit versi Amerika dengan berbahan fiberglass dan tokoh wayangmnya diambil dari legenda barat. Namun terkendala bagaimana John memaainkannya atau menjadi dalang dari wayang kreasinya. Akhirnya John pun mencari dalang dan  kebetulan dalang itu  berada di Seattle. Lalu John pergi ke Seattle dan mulailah dia belajar tentang budaya Indonesia.

Setelah pertemuannya dengan seorang dalang yang mengajar di Seattle, pada tahun 1976 John   mengambil keputusan untuk pergi ke Indonesia. Sebelum kesana John belajar bahasa Indonesia secara inensif kemudian ia mendapatkan beasiswa dari U.S. Department of Education dan berangkat ke Malang, Jawa Timur dan tinggal di sana selama tiga bulan. “Sesudah itu seharusnya saya  ke Yogyakarta untuk belajar wayang, tetapi di  akhir tahun 1976 saya pindah ke Jakarta  dan  belajar Bahasa dan Sastra Indonesia I Universitas Indonesia” kata John.

Dari UI, John ketemu dengan sastrawan Sapardi Djoko Damono dan menjadi temannya sekaligus memperkenalkan John dengan banyak sastrawan lainnya. John  sering dimintakan oleh para sastrawan-sastrawan untuk menerjemahkan karyanya karena tidak ada penerjemah saat itu.  Pada tahun 1979 ia kembali ke Amerika untuk menyelesaikan gelar Master di bidang Sastra Indonesia pada Universitas Michigan, Ann Arbor dan kembali lagi ke Indonesia pada tahun 1981.

Pada periode 1976 – 1987 John bekerja sebagai penerjemah lepas untuk U.S. Department of State, Perusahaan Film Negara, Dewan Film Nasional, Kementerian Penerangan, survey ekonomi, dan analisa politik. Masa itu John banyak bertemu dengan politikus Indonesia dan pernah bekerja sebagai penerjemah Prof. Dr. Soemitro Djojohadikoesoemo selama enam tahun. Namun menerjemahkan tulisan berbau ekonomi sangat membosankan baginya.

Mendirikan Yayasan Lontar

Pada tahun 1985, Sapardi bekas gurunya di UI terpilih menjadi pemenang SEA Write di Thailand datang kepadanya untuk menerjemahkan kumpuluan puisinya, dan kebetulan Gunawan Muhammad memberikan dana sedikit untuk menerbitkan. John pun kian sering bertemu dengan mereka dan timbullah pertanyaan mengapa tidak ada lembaga yang menerjemahkan karya sastra ke dalam bahasa asing?  sebab di seluruh dunia banyak sekali yang mempunyai lembaga seperti dan dibiayai oleh pemerintah. Dari sanalah terpercik ide untuk mendirikan Lontar. Bersama Goenawan Susatyo Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Umar Kayam, Subagio Sastrowardoyo dan John H. McGlynn, Lontar pun didirikan pada tanggal 28 oktober 1987. Lontar sendiri berdiri dengan tujuan  untuk menerjamahan sastra Indonesia sekaligus mempromosikan sastra dan kebudayaan Indonesia ke dunia luar.

Nama Lontar dipilih karena nama ini memiliki arti istimewa dalam budaya Indonesia, daun lontar dikeringkan, dipotong, dan diawetkan untuk menjadi bahan mentah berbagai manuskrip literer. Selain itu lontar juga bisa berarti melempar,  dalam hal ini “melempar” atau melontarkan gagasan-gagasan kebudayaan Indonesia ke dunia luar. Tanggal 28 Oktober dipilih karena makna simbolisnya sebagai Hari Sumpah Pemuda, memperingati momentum lahirnya bangsa Indonesia pada tahun 1928 dengan ikrar satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa.

11403014_10205954370150760_3211458013264920249_n

John mengatakan untuk bertahan sebagai lembaga non-profit tidaklah gampang. Tahun pertama berdirinya Lontar, John masih kerja freelance untuk menyambung hidup. Hingga pada tahun 1990-an, Lontar mendapatkan kucuran dana dari Ford Foundation karena di tahun 1991 akan diadakan Festival KIAS di Amerika Serikat dan memberikan dana untuk menerjemahkan beberapa buku. Mulai dari situ, John bisa bekerja full time di Lontar dan tak perlu mencari dana lagi.  Dalam rentang waktu 28 tahun Yayasan Lontar berdiri, dari  segi jumlah baru 200 buku saja yang diterbitkan. Hanya saja,  di dalam dua ratus buku itu ada banyak seri drama diterjemahkan, pun dengan puluhan sandiwara. “Jadi Jumlah 200 itu tidak mencerminkan hasrat karya secara keseluruhan.” kata penerjemah karya Pramoedya Ananta Toer, The Mute’s Soliloquy.

Pada tahun 1991 Yayasan Lontar pernah melakukan survey di perpustakaan-perpustakaan utama dunia yang memiliki arsip manuskrip-manuskrip Nusantara. Hampir 1000 bentuk manuskrip Indonesia berhasil dilacak pada waktu itu. Yayasan Lontar juga mengumpulkan esai-esai hasil karya para ahli atau peneliti dari dalam dan luar negeri mengenai tradisi tulis di Indonesia. Puncak kegiatan proyek ini adalah penerbitan buku berjudul Illuminations: The Writing Traditions of Indonesia. Illuminations: The Writing Traditions of Indonesia disusun dan disunting oleh Ann Kumar dan John H.McGlynn, berisi kumpulan esai dan foto-foto manuskrip Nusantara. Selain itu Lontar juga pernah menerbitkan empat jilid Antologi Drama Indonesia. Sejumlah 34 naskah dipilih untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan dalam 3 jilid The Lontar Anthology of Indonesian Drama. Keduanya terbit pada 2010.

Menerjemahkan Karya Sastra Bukan Proses Instan

Bagi John yang telah menerjemahkan atau mengedit hampir 100 karya penulis Indonesia,   masing-masing karya sastra baik itu cerita legenda, puisi, novel memiliki tantanganya sendiri. Namun tantangan itu bisa di atasi asalkan seorang penerjemah memiliki kemampuan menulis yang baik.  Ditambah lagi dengan kemampuan untuk mengalihkan konsep dasar dari sebuah karya ke  wadah baru, dan itu merupakan proses penciptaan karya baru. John tidak memungkiri bahwa karya terjemahan tidak bisa seratus persen akurat jika dibandingkan dengan karya aslinya karena memang bahasa yang digunakan berbeda.

Pria yang pernah menjadi editor Indonesia untuk Manoa, jurnal kesusastraan dari Universitas Hawaii ini menekankan, terjemahan bukan lah saduran atau ditulis ulang. Kadang-kadanng menurutnya, ada karya yang lebih baik disadurkan terutama jika tulisan bahasa dalam karya aslinya kurang sempurna, dan sering terjadi walaupun diterbitkan tapi belum tentu diedit dengan baik.

14906899_10154032608407444_5387161812771144168_n

Lantas bagaimana dengan proses waktu menerjemahkan karya sastra? Untuk  novel dibutuhkan waktu setahun lebih untuk menerjemahkan, dan rata-rata yang ratusan halaman akan memakan waktu kira-kira satu tahun. John mengatakan  menerjemahkan itu proses yang tidak instan dan sangat berbeda sekali dengan google translate.  “Dalam prosesnya akan dibuat beberapa draft dan biasanya terdiri atas tiga atau empat drafgt. Sebagai catatan dalam  membuat draft pertama,  belum berarti kita langsung ke draft kedua, sebab  kita harus melupakan karya aslinya karena kita sedang membuat karya yang baru.” Katanya.

Namun menurut John, karya sastra yang paling sulit untuk diterjemahkan adalah puisi. Proses penerjemahannya  dapat memakan waktu lama bahkan sampai berbulan-bulan. Apalagi jika ada kata yang tidak bisa diterjemahkan, dimana penuh dengan konsep yang bagi bahasa Inggris iu asing, seperti misalnya puisi ekperimental dalam bahasa Indonesia, tidak bisa sama dengan bahasa Inggris.

Akan halnya dengan jenis-jenis karya sastra Indonesia  yang baginya juga ada tantanganya tersendiri.  Sebuah zaman  dengan bahasa yang berlaku di zamannya  tentunya berbeda dengan masa kini. Bahasa Indonesia sangat cepat berkembang, berbeda dengan bahasa Inggris. “Dua abad lalu bahasa Inggris sudah baku bahasa, kalau baca karya  abad ke-19 tidak jauh berbeda dengan bahasa Inggris sekarang, tetapi kalau bahasa Indonesia dari abad ke-19 yang masih dominan dengan bahasa melayu lain sekali dengan sekarang. Jadi harus menggunakan siasat tertentu, cari kata-kata dalam Bahasa Inggris yang dipakai pada waktu itu dan harus disesuaikan dengan zamannya” urai anggota Komisi Internasional dari IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) ini.

Banyak orang Indonesia yang memuji karya terjemahannya.  Sapardi Djoko Damono, menyatakan terjemahan bukunya, Before Dawn yang berisi karya puisinya dalam periode tahun 1961-2001 (40 tahun) yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh McGlynn, adalah buku terjemahan terbaik yang pernah ia ketahui. Sapardi mengakui bahwa puisi-puisinya diterjemahkan hampir tanpa mengalami perubahan makna.  Goenawan Mohamad, salah satu pendiri Lontar, penyair dan esais ternama, mengakui karya McGlynn sebagai hasil karya cinta, bahwa McGlynn sangat fokus pada cita-cita mereka untuk memperkenalkan sastra Indonesia kepada dunia.

Bagaimana dengan respon orang luar membaca karya terjemahanna? Menurutnya, buku yang dihargai para kritikus sastra belum tentu laku di pasar. Dia mencontohkan terjemahan buku Pram, banyak menuai pujian dan penghargaan untuk terjemahannya. Akan tetapi penjualan  untuk karyanya ini tidak naik untuk ukuran buku best seller.  “Mungkin karena taste yang berbeda antara buku Pram yang serius dengan buku Laskar Pelangi’ kata John

Dan John menambahkan, Lontar tak pernah “bermain” di ranah novel yang ringan, kebanyakan akan menerjemahkan karya sastra yang sudah dinilai oleh kritikus. “Tujuan utama Lontar adalah memperkenal kan Indonesia melalui sastra dan untuk mencapai tujuan tersebut, kita harus menerjemahkan karya klasik dengan fokus karya sastra kontemporer supaya sastra Indonesia bisa diajarkan di sekolah atau universitas di luar negeri dengan bahasa pengantar, yaitu Bahasa Inggris”pungkas John.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s