Masanya kaset radio sepertinya telah berlalu seiring dengan laju perkembangan teknologi yang kian massif.  Dulu ketika dunia digital belum menggurita seperti sekarang ini , kaset dan produksi fisik lainnya seperti compact disc dan lainnya menjadi primadona manakala orang ingin mendengarkan musik. Pun dengan keberadaan toko musik yang menjamur dan berdiri di kota-kota besar di Indonesia.

Kini, sejalan semakin berkurangnya produksi kaset dan cd, toko-toko musihk pun kelimpungan alih-alih tak jarang yang memilih untuk gulung tikar.  Sebut saja toko kaset dan CD semisal Aquarius dan Disc Tarra. Tepat di malam pergantian tahun baru 2016, 31 Desember 2015 secara resmi jaringan toko CD raksasa Disc Tarra menghentikan kegiatan operasionalnya. Nah, yang jadi pertanyaan dimana kita akan mencari kaset ataupun cd ketika tak ada lagi toko musik yang menjualnya?

Siang itu di sebuah toko kaset bekas atau second wilayah Jatinegara tepatnya di pinggiran jalan dekat lapangan Urip Soemaharjo, Opick sedang asik bercengrakama bersama temannya.  Sayup-sayup terdengar mereka sedang asik membicarakan penggrebekan polisi di Berlan, Jakarta Timur, yang menewaskan seorang polisi gara-gara menghindar dari amukan bandar narkoba. Mereka menyayangkan kenapa polisi dapat kalah dengan para bandar narkoba, bukankah polisi memiliki kekuatan untuk melumpuhkannya. Mereka pikir mungkin  polisi sedang naas di hari itu.

Selang tak lama Opick pun bicara “Mas saya tinggal shalat dulu ya, sebelum telat” katanya kepada penulis.  Belumlah sejam lama menunggu, Opick kembali dan bercerita perihal toko kasetnya ini. Toko kaset yang sekarang dihuni oleh ribuan kaset itu didirikan olehnya pada tahun 1999 silam.

Modalnya cukup sederhana, hanya kecintaan dirinya terhadap musik dan jumlah kaset yang hanya berjumlah 24 kaset.  Kala itu Opick gelar lapak seadanya yang penting kaset radio dari artis mancangera dan dalam negerinya dapat terjual. “ Dari dulu sampai sekarang lapak saya masih tetap disini gak pindah-pindah” kata Opick.

Sejalan dengan semakin berminat orang untuk membeli kaset radio, terlebih lagi booming kaset yang terjadi pada rentang waktu 1999-2007 usaha Opick pun semakin berkembang. Awalnya berjualan puluhan kaset , namun di tahun 2016 Opick tak ingat lagi berapa kaset yang dimilikinya. Dia pun kewalahan saat ditanya berapa banyak kaset yang ada di tokonya. “ Wah saya sendiri tidak tahu jumlah kaset saya sekarang” katanya sambal tertawa.

Opick bilang mendapatkan kaset-kasetnya dari banyak sumber, bisa dari pemulung, kolektor, barter dengan orang menjual kaset kepada dirinya, dan yang lainnya. Memang, tidak semua kaset yang dia terima dalam kondisi prima. Untuk mengembalikan kaset agar layak dengar, Opick memperbaiki kaset-kaset tersebut. Lantas barulah kaset itu dijual dengan harga yang telah disesuaikan.

Rata-rata kaset dari artis luar negeri dan dalam negeri Opick bandrol dari yang seharga Rp.15.000 sampai ratusan ribu. Kaset seharga ratusan ribu biasanya adalah kaset langka yang diproduksi tahun 1960-1970 yang diburu oleh para kolektor musik.” Biasanya yang dicari orang itu adalah kaset musisi Indonesia lama, harga kaset bisa mahal, kayak album iwam Fals waktu awal-awal berkarir di tahun 1980-an” terang Opick yang memiliki juga kaset-kaset lama dari band AKA, Koes Plus, Giant Step, Guruh Gypsy dan musisi lainnya.

Pembeli kasetnya pun beraneka ragam, tak hanya para kolektor kaset saja melainkan orang kebanyakan yang masih cinta terhadap kaset radio seraya bernostalgia dengan musisi tercinta. Perihal untung dari jualannya, Opick hanya memasrahkannya kepada yang Maha Kuasa.

Tak jarang pula berkat kemajuan teknologi dan kejelian Opick melihat peluang dengan memanfaatkan jejaring sosial, dia berhaisl menjual kasetnya sampai luar negeri. “ Dari media sosial kaset-kaset saya bisa menyebar kemana-mana tidak hanya Jakarta, kemarin-kemarin ada yang beli kaset Indonesia di luar negeri” tutur Opick.

Kini, memasarkan kaset secara digital melalui social media semacam Instagram dan facebook ternyata mendongkrak penjualannya.  Kebutuhan masyarakat untuk membeli kaset secara langsung sedikit menurut, malahan ramai penjualan di sosial media. Dan memang ada harga lebih yang harus dibayar, harga kaset terbebani ongkos kirim tergantung dari kota pembeli.

Kendati begitu, hal ini tidak menyurutkan para maniak kaset untuk membeli kaset Opick.  Kaset baginya adalah investasi, namanya dagang pastilah tak selalu mendulang untung.  Kaset tak lagu sekarang mungkin di lain hari akan mendatangkan untung. “ Untung sedikit tidak apa-apa yang penting berkah dan halal” pungkasnya.