SAM_5687

Gedung bioskop itu tetap berdiri kokoh. Tak banyak yang berubah saat awal berdirinya di Juli 1989 silam. Masih tetap berada di pinggir pertigaan jalan Raden Inten Jakarta Timur. Parkiran mobil luas membentang. Etalase poster film dalam kaca menyambut saat kaki melangkah masuk ke gedung bioskop. Tempat duduk melingkar penonton tunggu terasa sangat jadul. Pun dengan poster-poster kecil film di samping atas tempat pembelian tiket karcis yang nampak klasik seperti tidak pernah diganti. Sejauh mata memandang siang itu, hanya ada segelintir penonton saja yang duduk seraya menunggu masuk layar teater.

Buaran Teater atau yang akrab disebut Butet ini memang tidak seperti bioskop lainnya di Jakarta. Bagi penikmat film yang terbiasa menonton di bioskop sekelas XXI di mal-mal Ibukota, Buaran tak lebih cerita lama yang sudah usang. Harga karcisnya hanya Rp.15.000 untuk sekali tonton. Baleho film yang sedang diputar diatas atau disamping luar gedung bioskop tiada tampak.  Tak ada wanita cantik penyobek karcis yang menunggu di depan ruang teater. Belum lagi dengan film yang diputarnya, bukanlah film up date alias film lama yang mungkin sudah pernah diputar di televisi.

Namun Buaran Teater berhasil melawan waktu disaat bioskop tua di Jakarta lainnya tenggelam. Roda pembangunan menjamah dan menggilas tanpa bekas. Yang tersisa hanya cerita muda mereka yang pernah duduk manis menatap layarnya. Kabar pernah beredar, Buaran Teater akan dijual ke pihak swasta untuk menutupi biaya operasionalnya yang membengkak. Tetapi hal ini ditampik oleh Widianto, Manager Buaran Teater, yang mengatakan Buaran tak pernah ingin dijual. “Keputusan mau dijual atau tidak, itu ada di tangan pemilik Buaran ini. Toh,  sampai sekarang Buaran tetap saja buka” tuturnya.

Buaran Teater dibangun di tahun 1988, dan baru beroperasi setahun kemudian. Letaknya sedikit di pinggiran Jakarta, kata Widi waktu itu ada tanah kosong yang dijual. Kebetulan yang menjual tanah itu kenal dengan pemilik Buaran.  Lantas dibelilah tanah itu di tahun 1988. Di tahun yang sama, Buaran pun mulai dibangun. Pemilik Buaran saat itu ada lima orang yang salah satunya adalah Jiwatram. Jiwatram merupakan pemain lama dalam bisnis perfilman di Jakarta. Dia sudah lama berbisnis bioskop, tetapi  hanya bioskop tunggal atau satu layar saja.

Di bioskop Buaran, dia mencoba peruntungan dengan mengadopsi konsep Cineplex atau cinema complexs yang memiliki empat layar. Dibangun dengan mengadopsi Cineplex karena melihat perkembangan bisnis bioskop kala itu. Tahun 1987,di Jakarta  mulai diperkenalkan bioskop Cineplex s yang dikenal sebagai “21” yang dikelola oleh perusahaan Subentra milik pengusaha Sudwikatmono. Kartika Chandra Theater di Jalan Jenderal Gatot Subroto adalah salah satu yang pertama memperkenalkan konsep satu gedung empat ruang bioskop. Konsep Cineplex ini membuat jumlah ruang pemutaran bioskop bertambah.  Dengan empat pintu juga memberikan banyak pilihan untuk ditonton.

Buaran pun mengambil film dari jaringan 21 dan mengikuti perkembangan film dari 21. Namun uniknya dari dulu sampai sekarang Buaran Tetaer lebih mengutamakan memutar film dalam negeri ketimbang film Barat. Film Barat hanya diputar sebagai pengisi tambahan jika ada kekosongan film Indonesia.  Widi yang telah bekerja sejak Buaran beroperasi ini mengingat tiket masuk di awal berdirinya Buaran sebesar Rp. 2000 dan responnya sangat bagus dan banyak penonton yang datang.” Film Demi Moore yang judulnya Ghost waktu diputar disini yang nonton banyak” katanya. Namun film yang berbau esek-esek yang marak di Indonesia tahun 1990-an justru membuat antusiame film menurun.

Nah, film hantu yang  banyak diproduksi di tahun 2000-an malah meningkatkan jumlah penonton. Masa keemasan  Buaran tergantung dari film yang diputarnya. Buaran baru ketimpa untung jika film yang ditayangkannya banyak peminat, seperti Film Ayat-ayat Cinta, Sang Pemimpi, dan Habibi ainun. Buaran yang tak lagi masuk jaringan 21, mendapatkan stock film-filmnya dari para pengedar film atau pemilik filmnya sendiri. Jadi, mereka yang meminta Buaran untuk menayangkan filmnya dengan cara disewa. “ Film diputar dulu baru, setelah tidak ada yang nonton baru bagi hasil dengan mereka” tutur Widi

Lagi-lagi tak semua film ramai peminat. Operasional Buaran tetap berjalan, namun tertatih dua ahun belakangan ini. Buaran merugi, sampai-sampai pihak manajemen menyuntik modal buat operasional tiap bulannya. Pengeluaran lebih banyak pendapatan kilah Widi. Memang tiap hari ada empat film yang sedang tayang, hanya saja tidak semua film dapat diputar semuanya. Setiap hari hanya gonta-ganti studio yang digunakan tergantung dari banyaknya tiket film yang terjual. Proyektor yang digunakan pun masih konvensional atau selulose 35 mm. Layar atau screen tak pernah dicuci, seingat Widi hanya beberapa kali dicuci. Setali tiga keping dengan departemen suaranya yang berbunyi seadanya.

Dengan Harga tiketnya saat hari kerja Rp. 10.000 sedangkan di hari Sabtu dan Minggu menjadi Rp.15.000, rata-rata jumlah penonton ke Buaran kurang lebih 100 orang tiap harinya. Hasil penjalan tiket tidak menutup biaya operasional. Pihak manajemen Buaran punya angan  ingin menaikkan harga tiket tetapi kuatir nanti malahan tidak ada yang menonton. “Serba salah kondisinya sebenarnya, mau gimana lagi” kata Widi.  “Terserah pemiliknya saja Buaran akan dijadikan apa,  mungkin ya berjalan seperti apa adanya seperti sekarang