Kisah Wedha Sang Maestro Ilustrator

243945_104752802950437_6443990_o

Jakarta – Jumat silam, Wedha hanya mengenakan kaus kutang saja saat penulis bertandang ke rumahnya . “Sebentar ya” katanya. Tak lama kemudian dia masuk ke kamar dan bajunya pun berganti menjadi sedikit formal.

Diiringi bunyi detak jam dinding, Wedha dengan rambutnya yang sudah memutih mulai berkisah mengenai dirinya. Dikenal umum sebagai pencipta dari aliran WPAP (Wedha’s Pop Art Potrait) atau FMB (Foto Marak Berkotak). Laman wikipedia menyebutkan Wedha Abdul Rasyid merupakan bapak illustrator Indonesia. Tetapi predikat sebagai bapak Ilustrator yang disematkan kepadanya ditanggap enteng olehnya.

“Hehehe sebutan itu berlebihan juga, tapi ya itu hanya bentuk apresiasi mereka saja yang melihat karya-karya yang pernah saya buat” kata Wedha Abdul Rasyid merendah. Aliran ini mempunyai ciri yang sangat menonjol. Di mana potongan – potongan warna yang diusung biasanya warna – warna yang cerah dan hingar bingar, juga mengaplikasikan gaya kubisme. Dan tercipta olehnya berkat ketidakpuasan batin bercampur dengan kesehatan mata yang menurun.

Tapak Awal Jadi Ilustrator

Wedha remaja tak pernah menyangka dirinya nanti akan menjadi seorang ilustrator. Singkat cerita, selepas SMA, Wedha mengikuti keinginan orang tua yang ingin anaknya ini menjadi dokter.  “Saat itu ya saya nurut aja waktu itu tes UI, saya kalau diijinkan ibu kuliah di jurusan teknik saya akan masuk” katanya.

Dan, dia pun berhasil masuk, hanya saja di ujung jalan Wedha tahu ternyata uang untuk biaya kuliahnya itu adalah hasil pengorbanan kakaknya. “Kerjaannya cuma ngurusin adik-adiknya saja sampai lupa ngurusin dirinya sendiri, saya kasihan” tutur Wedha.

Dalam hatinya langsung berontak, Wedha merasa  sebagai seorang anak laki-laki melihat ada kepintaran yang bisa dijual dalam dirinya, yaitu menggambar. “Diam-diam ngakunya kuliah saya nyari kerja orderan gambar saja di majalah-majalah” katanya. Wedha mengatakan dulu waktu awal tahun 70-an dengan bayaran yang terbilang cukup murah, bahkan ada pula yang gratis tapi baginya yang penting kerja.

381831_191912544234462_1053155114_n

Tanpa disangka mengorder karyanya ternyata tidak mudah. “Ternyata susah juga, saya yang lomba gambar di kampung dapat juara malah di Jakarta tidak laku” tutur pria yang lahir di Cirebon pada 10 Maret 1951 ini.

Untungnya ada satu media yang melirik bakatnya. Wedha pun bersandar di majalah Midi atau yang kini dikenal dengan majalah Hai sebagai illustrator setelah berpindah-pindah dari satu majalah ke majalah lainnya. “Saya ingat waktu dulu pertama kali masuk majalah itu ditanya, menurut kamu majalah MIDI (Muda Mudi) seperti apa’” kata Wedha. Lantas dia menjawab majalah itu terlalu steril atau gitu-gitu aja tidak ada yang nakalnya  “Ya kan  anak muda nakal ya wajar lah, saat itu saya juga masih muda juga” tuturnya. Dan saat itu kiblatnya masih majalah Luar Negeri Look and Learn dan goresan tangan Wedha dianggap cocok.

Tahun 1990-an, awalnya Wedha ingin membuat sesuatu yang gampang, menarik, dan belum pernah ada, lebih dinamis, dan striking. Ia lalu mencoba mencari-cari, sampai teringat dengan pelajaran lalu bahwa sebetulnya garis lengkung terdiri garis lurus yang jumlahnya tak terhingga. Kalau bidang lengkung juga bidang flat-lat yang jumlahnya tidak terhingga. “Ketika kita ke lapangan bola kita merasa itu bidang flat. Tetapi jika kita melihat ke bulan itu bukan flat. Jadi yang kita lihat itu bentuk yang nipu soalnya daripada saya bikin yang kecil-kecil.” kata Wedha.

Berhubung matanya sudah mulai kacau, dan merasakan adanya penurunan di fungsi matanya. Wedha mulai merasakan gangguan setiap kali menyelesaikan gambar. Dalam keadaan seperti itulah kemudian dia mulai memikirkan cara melukis atau menggambar wajah manusia dengan cara yang lebih mudah. Cara yang memungkinkan dia untuk menghindarkan diri dari keharusan mengolah warna kulit manusia yang sulit, cara tanpa tuntutan ketrampilan yang memadai untuk memulas.

Menurutnya  daripada buat kecil-kecil dia pun membuat yang besar-besar bidangnya.”Soal warnanya kenapa tidak warna solid saja, cuma kebutuhannya kan membentuk dimensi. Dimensi itu mencakup wana menggolongkan warna depan, belakang depan, samping dan belakang” kata Wedha.

Nah, kelompok-kelompok warna itu asalkan dipilih, apapun warnanya dapat membentuk dimensi dan itu yang dia pakai. Lantaran Wedha ingin menampilkan sesuatu yang berbeda dan dinamis, lebih striking sifatnya, Wedha punya kredo bidang yang dibentuk oleh garis akan tampil lebih kuat daripada garis lengkung.

“Dulu itu dinamakan foto marak berkotak karena saya perlu nama untuk gaya itu karena secara simultan saya mengerjakan banyak hal. Selain itu, dulu di tahun 1990-an itu saya merasa setiap perupa sekalipun  ketika mengerjakan sesuatu yang hampir sama terus menerus pasti akan bosan, jadi rasa untuk menciptakan sesuatu yang baru itu pasti ada, paling tidak memperbaiki yang sudah ada” kata dia.

“Saat itu sering kedatangan musisi, ada yang mau saya bikin kalau ada yang mau sebagai hadiah. Itu sangat disukai oleh pembaca atau musisi luar negeri yang dibuatkan oleh saya” kata Wedha.  Tetapi kemudian itu kan basicnya tracing, Wedha merasa mudah untuk membuatnya  walaupun waktu itu tidak ada komputer dan buatnya secara manual.

Dia mengatakan proses pembuatannya dimulai dari sebuah foto yang jelas dan berukuran kecil, lalu foto kecil itu dibuat ukuran besar. “Lalu saya tumpangi dengan kertas kalkir, di kertas kalkir  muka orang saya bikin bidang-bidang. Dari atas kalkir ke kertas gambar di atas gambar biasanya pakai karbon baru saya warnai dengan medium poster colour” tuturnya.

WPAP (Wedha’s Pop Art Potrait)

Setelah delapan tahun, suatu waktu dia bertemu dengan teman yang mengkritiknya. Celakanya teman itu mengatakan, apa yang dibuat hanya akal-akalan sifatnya. “Saya katakan itu kan gampang sekali hanya tracing. Saya juga merasakan karena manual kalau sering kan mudah saja dikerjakan. Kalau hasilnya gampang mungkin orang lain sudah ada yang pernah buat. Lalu saya petiaskan saja deh preventif” kata Wedha.

Sampai akhir 2007 mungkin Tuhan punya rencana lain, dia bertemu teman dengan beberapa teman yang dianggap punya pengaruh dalam kalangan dunia desain di Indonesia, sebut saja Risman Marah, Michael Gumelar, dan nama lainnya. “Herannya dalam satu minggu, ngomongnya sama mana karya lo yang dulu. Lah saya kaget bahkan juga ada yang bilang salah satunya mengatakan pernah ke luar negeri tapi belum pernah melihat. Ada yang mengatakan gaya itu ada yang pantas dijadikan gaya tersendiri dan yang lainnya” kata Wedha.

260370_106455249446859_4955593_n

Tak hanya masukan ada juga yang memberikannya buku berjudul ‘Perjalanan Seni Rupa Modern’ karya, Soedarso SP (Guru Besar ISI). Nah, dari buku itu apa yang dibuatnya itu, menurut Wedha, bisa diklasifikasikan sebagai pop Art, makanya dia menamakannya itu sebagai Wedha’s Pop Art Potrait atau pop artnya wedha berdasarkan foto.

“Di saat bersamaan saya mau pensiun, saya buat lah farewall party. Dan pengunjungnya ternyata membludak dan dari keadaan itu timbul angan-angan ini bisa menjadi milik Indonesia. Saya juga banyak memanfaatkan devianart dan ternyata banyak yang menyimak juga. “Kakak saya undang ke pameran waktu itu, di tengah karya saya cium kakinya minta maaf kepadanya” kenangnya.  “Kakak saya bilang  ‘gak apa-apa, pilihan kamu ternyata bener kok’”, plong lah hati yang Wedha rasakan.

Garapan Wedha tidak hanya sebatas tokoh-tokoh terkenal saja, dia pun pernah menggarap ilustrasi tokoh Lupus. Lupus  merupakan Lupus adalah tokoh fiksi dalam serial novel berjudul sama karangan Hilman Hariwijaya. Ilustrasinya kata Wedha dibuat oleh Aris tanjung yang kebetulan salah seorang temannya.

Hanya saja dalam perkembangannya Aris ditarik saat Arswendo ditarik ke Monitor. “Interpretasi saya dengan Aris beda, Lupus makin terangkat, gambar siluetnya lupus semua orang juga tahu”. Lupus itu juga asyik artinya kerjasama dengan Arswendo itu membebaskan asal kerjaan bagus itu tidak masalah baginya.

Sebagai seorang ilustrator yang telah menekuni profesi ini selama puluhan tahun,  Wedha punya pendapat soal pengerjaan manual dengan penggunaan teknologi semisal komputer, Wedha punya pendapatnya sendiri “Kita gak perlu kekeh, value-nya beda tapi itu kan berlaku untuk seni-senin yang sifatnya eksklusif, tetapi juga justru inginnya inklusif. Saya lebih cenderung ingin supaya banyak orang yang yang menggunakan gaya itu kesejahteraannya meningkat. “Saya banyak mendorong mereka-mereka yang ada dalam komunitas untuk berkembang” tuturnya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s