Tags

, ,

Sebagai seorang kolektor mobil klasik, Jimmy merasa mencari mobil itu seperti mencari jodoh alias cocok-cocokan. “Mobil itu seperti punya nyawanya, dia seakan-akan tahu siapa nanti pemiliknya” kata Jimmy Syamsudin kepada penulis beberapa waktu yang lalu. Perasaan itu timbul manakala, pria asal Jambi ini mendapatkan mobil Cadilac Fleetwood series 75 limousine dari seorang Jenderal yang bernama Suprihadi. “Waktu pertama kali ketemu dengan mobil itu, saya langsung jatuh cinta, saking sukanya saya elus-elus sambil berucap suatu saat mobil ini pasti jadi milik saya” katanya.

Tanpa disangka mobil tua punya sang jenderal yang dulunya sering dinaiki oleh Presiden Sukarno itu akhirnya berpindah tangan kepadanya. Jimmy memilikinya berikut dengan cerita mistis yang melekat di mobil tersebut. “Rata-rata mobil Sukarno itu mistis lho” katanya. Dia mengatakan mesin mobil itu seringkali hidup sendiri padahal di dalamnya tidak ada siapa pun. Tak hanya itu, montir pribadinya kerap kali melihat sosok mahluk halus berparas cantik di dalam mobil.

Jimmy mulai gesit berburu mobil kuno saat umurnya masih terbilang muda, yaitu 25 tahun. Kesukaannya terhadap mobil seperti sudah tergariskan dalam hidup pria yang kini menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia (PPMKI) DKI ini. “Kayak panggilan hidup saya saja, saya suka dengan mobil-mobil klasik apalagi mobil itu punya nilai sejarahnya” kata Jimmy. Jimmy mengatakan di tahun 2005, dirinya sedang mencari Mitsubishi Eterna di daerah Menteng. Nah, kebetulan di belakangnya itu mobil Mercedez ‘batman’. Jimmy pikir mobil itu sangat unik modelnya karena mobil itu punya sayap di belakangnya seperti mobil batman.

Semenjak itu Jimmy mulai melakukan hunting mobil-mobil kuno, dari awalnya yang bermerk Mercedez hingga di tahun 1998 baru dirinya mencari mobil-mobil klasik produksi Amerika.”Seiring dengan waktu semakin banyak pengetahuan mobil-mobil kuno yang saya dapatkan” bilangnya. Pengetahuan tentang mobil-mobil kuno, Jimmy peroleh dari para senior dan dari situ ia banyak belajar soal bagaimana merawat dan menyimpannya, atau mobil apa yang harus diburu dan yang lainnya.

Hanya saja mobil tua, tidak semuanya berkelas dan ada nilainya. Bagi Jimmy, salah satu kriteria mobil berkelas adalah mobil itu harus mempunyai nilai sejarahnya, seperti pernah dinaiki atau dimiliki oleh seorang presiden misalnya atau tokoh sejarah lainnya. ”Atau apakah mobilnya itu waktu di zamannya legendaris atau tidak, atau juga masuk ke Indonesia cuma ada sedikit, itu akan sangat mahal Jadi tidak semuanya mobil dapat dibeli.” tutur dia.

Berbekal pengetahuan soal mobil klasik, Jimmy “berburu” mobil tua mulai dari Jawa, Bali bahkan sampai Sumatra. Namun tak selalu mobil yang didapatnya dalam kondisi bagus dan prima, Jimmy terkadang memperoleh mobil dalam kondisi “seadanya” dan harus direstorasi agar bisa kembali seperti dalam kondisi baru. Itu sebabnya dia membangun bengkel pribadi, khusus untuk merawat dan merestorasi mobil-mobil klasik yang ia miliki yang letaknya tak jauh dari kantor PPMKI. “Mobil saya gak pernah dibawa ke bengkel di tempat lainnya dan biaya rata-rata restorasi mobilnya itu bisa sampai ratusan juta rupiah” kata Jimmy.

Saat ini koleksi mobil antik yang Jimmy miliki berjumlah 22 mobil beragam merk. “Tahun dari yang tertua tahun 1928 sampai yang termuda tahun 1971” katanya. Pada umumnya, koleksi Chevrolet Jimmy bertipe Pick Up dan Bel Air. Jimmy memiliki Chevrolet Bel Air tahun 1955, 1956, 1957 dan 1958, Jimmy jatuh cinta pada Chevrolet karena ia sangat mengagumi daya tahan mesin Chevrolet kuno yang masih sangat bisa diandalkan.

 Setiap Mobil Punya Kisah Perburuannya Sendiri

Diantara semua koleksi mobilnya, Jimmy menunjuk satu mobil yang kini dipajang di dalam kantor PPMKI sebagai mobil tertua yang dimililkinya. Adalah Ford 28, menurutnya, Ford yang dimilikinya ini merupakan mobil sport zaman dulu dengan dua pintu. “Itu sangat berkelas, dua pintu dan atapnya dapat dibuka” kata Jimmy. Soal harga jangan ditanya, mobil koleksinya ini pernah ada yang menawar sampai harga miliaran, namun Jimmy enggan untuk melepasnya. Pasalnya dia punya alasannya tersendiri, “12 tahun saya kejar mobil itu, setelah saya melobi dengan berbagai cara dan strategi, saya bolak-balik habisin banyak duit juga buat dapatkan itu mobil” katanya.

Jimmy merasa mobil itu sangat berkelas dan bagi dirinya mobil itu wajib dikejar. Alhasil, berkat kegigihannya mobil Ford 28 itu pun jatuh ke tangan Jimmy. “Dapat mobil itu ibarat anak kecil dapat mainan saja saking senangnya” katanya. Mobil Ford 28, kata Jimmy, mobil yang khusus dibawa dari Museum Georgia, Amerika Serikat pada tahun 1975. Jimmy mengatakan dokumen mobilnya ini lengkap, berikut dengan onderdil yang semuanya original. “Hanya catnya saja saya cat ulang lagi” kata dia.

Bagi Jimmy masing-masing mobil memang punya ceritanya sendiri, Jimmy juga berkisah soal perburuan mobil Chevrolet Bel Air tahun 1955 yang dikoleksinya sekarang. “Mobil itu bekas punya pejabat Kabulog, nah tahun 1997 dia masih sehat. Waktu itu, saya datangin karena mobilnya memang sedang dijual” kata Jimmy. Alih-alih ingin membelinya, bukan sambutan hangat yang Jimmy terima, melainkan ucapan “Kamu masih muda ngapain ngurusin nobil tua gak akan mengerti, dia bilang kayak gitu, ya udahlah mau gimana lagi” bilang dia.

Di tahun 2010 , Jimmy bertemu kembali dengan pengusaha pemilik Chevrolet Bel Air 1955 yang pernah menolaknya dulu. Saat itu pengusaha tersebut dalam keadaan sakit-sakitan. Jimmy yang masih ingin mendapatkan Chevy tersebut, menawar kembali dan kali ini dikabulkan oleh sang pengusaha. Alasannya, “Umur saya sudah tidak lama lagi,” kata dia menirukan kata-kata sang pengusaha. Jimmy akhirnya berhasil memiliki Chevrolet idamannya tersebut seharga Rp 50 juta—harga yang sama saat Chevrolet tersebut ditawarnya pada tahun 1997. “Harganya sama kenapa dulu gak ditawarin ke saya saja” tutur Jimmy.

Nah, ada satu lagi mobil Sukarno Cadillac Limousine tahun 57 punya kakak angkatnya. Singkat cerita, mobil itu tadinya berada di Lampung dan punya pengusaha tambang emas. “Begitu sampai disana ternyata mobil itu banyak ditawar sampai miliaran, nah berhubung mobilnya itu sudah beberapa bulan tidak bisa dihidupkan kata pemiliknya, kalau bisa dihidupkan mobil ini kamu bawa saja” kata Jimmy. Dan ternyata di luar dugaan, mobil itu dapat dihidupkan dan sang pemiliknya langsung memberi mobilnya itu secara cuma-cuma. ” saya pikir bukan main itu, gak nyangka saya” kata dia.

Sebagai seorang kolektor mobil, membangun sebuah mobil klasik menurut Jimmy adalah jika dibawa ke pameran mobil itu dapat menang dan kalau dibawa keluar kota mobil itu tidak mogok. “Sederhana saja, orang-orang sering bilang ngapain mobil bagus-bagus dibawa ke luar kota, tetapi saya pikir saya beli mobil dari barang yang rusak menjadi benar, lantas rusak lalu dibenerin lagi, jadi ya saya harus menikmati dengan cara mengendarainya” pungkas Jimmy.