Tags

, ,

Pekerja keras, cinta terhadap pekerjaannya, jiwa petualang, tingginya rasa kemanusiaan sepertinya terangkum semua dari pria yang dikenal dengan Rumah Sakit Apung-nya ini. Dibawah Yayasan doctorSHARE, dr Lie Dharmawan telah melakukan banyak pengobatan dan pembedahan di berbagai penjuru nusantara dengan kapalnya, sebut saja di Kepulauan Kei (Maluku), Pulau Panggang (Kepulauan Seribu), Bangka Tengah, Belitung Timur (Bangka Belitung), Ketapang dan Pontianak (Kalimantan Barat), Bali, Nusa Tenggara Timur, dan berbagai wilayah lainnya.

Ditemui di Ruang Bedah RS Husada Jakarta,  dr Lie masih lengkap mengenakan pakaian bedahnya. Raut wajah pria yang lahir 67 tahun silam ini tak  menampakkan rasa lelah . Padahal hari itu sang dokter baru saja menyelesaikan operasi bedah di pagi harinya. “Saya ini satu hari bekerja dua hari, dari pagi sampai subuh, saya berangkat pagi jam delapan pulang jam 1, 2 atau 3 subuh dan ini sudah puluhan tahun saya lakukan” kata Lie.

Siang itu dr Lie memang sedang tidak mengarungi samudra. Kapalnya berlabuh sementara di Pelabuhan Kali Adem, Muara Karang, Jakarta Utara sehabis menunaikan kewajibannya di beberapa tempat di Riau . “Kapal harus diperbaiki, bongkar muat barang-barangnya, alat-alat kedokteran semisal oksigen, obat-obatnya dan pakaian dan alat operasi semua diturunkan diganti dengan yang baru” kata Lie. Dan kapalnya akan bersandar sampai tanggal 8 April  karena akan kembali melaut  menuju Lombok sampai tanggal 18 April. Setelahnya akan menuju ke Sulawesi tepatnya di daerah  Luwu dan berada disana sampai 28 April 2014

Langkah sang dokter dengan kapal rumah sakitnya memang berbeda. Namun, apa yang  dilakukannya, dr Lie tidak menganggap dirinya berbeda alias sama saja dengan kebanyakan dokter lainnya. Dia hanya mengatakan, hanya jalannya saja yang berbeda untuk mengabdikan diri sebagai seorang dokter. Alasannya cukup tegas, yaitu berani mengambil langkah yang baginya non-mainstream. “Kita harus berani melakukan sesuatu yang bertentangan di luar alam pemikiran umum, kita harus berani melakukan apa yang menjadi keberanian kita” kata dia.

Lie mencontohkan India, apakah penting jalan tol bagi masyarakatnya, dia menjawab sangat penting karena fungsi jalan tol adalah untuk menghubungkan antara satu pulau dengan pulau lainnya. “Nah,  laut kita inilah jalan tol yang dibuat alami oleh Tuhan, mengapa kita tidak memanfaatkan?  Tinggal kita menyediakan alat saja yaitu, kapal laut” tutur Lie.

Rumah Sakit Apung Swasta Pertama

Kapal laut itu berupa Rumah Sakit Apung yang terlahir dari suatu bayangan anak kecil yang menderita di  penghujung Maret 2009. Hari itu sangat diingat olehnya. dr Lie bercerita saat itu tengah melakukan operasi di RSUD Karel Satsuitubun pulau Kei di Maluku Tenggara. Di luar jadwal datang seoarang ibu dengan anaknya perempuan kesakitan dengan ususnya yang terjepit.

Dengan kondisi penyakitnya ini, si anak harus segera dioperasi sejak awal, kalau tidak kemungkinan besar usus itu akan pecah yang mengakibatkan bakteri-bakterinya pada keluar. Akibatnya bisa kematian jika dibiarkan. Alih-alih menutup praktik pengobatan yang waktunya sudah habis, dr Lie langsung mengoperasi anak perempuan itu. “ Bayangkan saja untuk sampai ke tempat itu, mereka harus menempuh perjalanan tiga hari dua malam dari Saumlaki dengan kapal” kata dia.

Kenangannya itu seakan-akan menjadi cambuk bagi dirinya untuk melakukan sesuatu yang berguna. Dr Lie mengatakan konteksnya jelas baginya, anak itu tidak punya uang untuk operasi, tidak punya kesempatan untuk mendapatkan pelayanan medis, itu tak mungkin bagi dia. “Bayangan itu selalu menggoda saya, akhirnya saya putuskan melayani saudara-saudara kita ini. Jika dia tidak bisa datang, saya akan menghampirinya. Jika mereka tidak punya uang, mereka tak harus membayar dan pasien-pasien 100 persen gratis semuanya” tuturnya.

Ibarat jemput bola, dr Lie mewujudkan pelayanannya berupa sebuah  rumah sakit apung  atau floating Hospital yang bisa mengarungi samudra. Rumah sakit dengan model seperti ini bukan merupakan sesuatu yang baru dan sudah ada sejak dulu. Termasuk dalam kategori mobile hospital, tidak hanya berupa kapal laut saja, melainkan juga bisa diterapkan pada kereta api atau pun truk. “Kalau kita lihat sewaktu Perang Dunia 2 di Normandy, ketika itu didaratkan serdadu dalam jumlahnya yang sangat banyak yang tujuannya menahan aliansi Jerman dan Itali. Nah, tiga juta tentara pasti ada yang luka, apa mereka bisa ditransportasikan di homebasenya, tidak bisa mereka pun membawa rumah sakit berjalan berupa truk yang telah dibuat semikian rupa untuk merawat serdadu yang terluka” kata dr Lie.

Akan halnya ide  floating hospital, dimana-mana, menurut dr Lie, sudah ada hanya saja perbedaannya adalah soal kepemilikannya saja. Dokter bedah dari Texas, Amerika Serikat pernah ingin melakukannya tetapi rumah sakit apungnya  ini masih dalam wacana. Selain itu ada pula Michael Owen, seorang inggris dia ingin membuat perahu apung di sebuah danau di Afrika.  Rumah sakit apungnya ini dimiliki secara swasta bukan pemerintah ataupun instansi militer.  Kalau milik militer dipakainya kapan waktu perang, dan kapalnya juga harus menggunakan kapal yang besar dengan helipad di belakangnya.

Dan Rumah Sakit Apung yang digunakan dr Lie, bukanlah kapal besar melainkan kapal laut yang paling kecil.  Dr Lie berujar apakah pulau-pulau di Indonesia ada dermaga itu pun tidak semuanya, apakah bisa didekatkan dengan perahu besar? Jelas juga tidak bisa. Maka diperlukan  sebuah kapal kecil untuk mencapai pulau-pulau tersebut.  Menurutnya, sedapat mungkin kapal itu bisa merapat ke pulau tersebut.  Lantas dipilihnya kapal jenis Pinisi yang dibuat di Sulawesi Selatan yang dibelinya tidak dengan harga yang mahal, namun dengan konstruksi bahan yang kokoh. “  kalau kapal harganya mahal jelas saya tidak mampu untuk membelinya “kata pria kelahiran Padang, Sumatra Barat, 16 April 1946 ini

Untuk mendapatkan kapal yang  mempunyai panjang 23,5 meter, lebar 6,55 meter dan bobot mati 114 ton ini dr Lie sampai rela menjual rumahnya. “itu juga masih kurang, belum pernah ada yang cocok, orang tidak pernah membayangkan melakukan operasi di atas kapal kecil seperti itu, orang juga tidak pernah membayangkan, bahkan untuk ahli bedah sekalipun di dalam situasi seperti itu akan melakukan operasi pembedahan” kata dr Lie. Dan memang apa yang dilakukan merupakan hal diluar jalur mainstream atau hal yang tidak biasa.  Namun, untungnya ada juga yang akhirnya menyumbangkan dana karena mereka percaya apa yang dr Lie lakukan.

Karena Cinta Indonesia

Berpacu dengan gelombang laut,  bagaimana melakukan operasi bedahnya? Sang dokter mengatakan hal yang paling diperlukan adalah melatih diri dan kemuan keras, ditambah lagi dengan rasa cinta terhadap bangsa Indonesia. Jika tidak ada satu pun rasa itu ada dalam diri kita mustahil semua itu dapat dilakukan. Tunjukkan rasa cinta terhadap tanah air tidak dengan perkataan saja melainkan perbuatan. Untuk apa banyak mengatakan tanpa ada perbuatan yang konkret. “Memang Kapal harus berlabuh jika saya melakukan operasi, tetapi jika tidak bisa ya operasi harus dilakukan di lepas pantai.   Ombak memang tidak dapat diubah dan sayanya yang harus menyesuaikan diri dengan keadaan yang ada” tutur dr Lie.

Kencangnya ombak tak menyurutkan semangat. Cintailah pekerjaannya itu resepnya, kalau bukan kepercayaan yang menjadi dasar pekerjaan ini tidak akan dia lakukan. Apakah dirinya mengharapkan imbalan nama untuk pekerjaan ini, ia lantang menjawab  tidak!, apa dirinya mengharapkan uang, sekali lagi jawabannya tidak.  “Ada sesuatu yang mendorong dan itulah yang dinamakan iman, kedua kecintaan dan kebanggaan saya menjadi orang Indonesia” tegasnya.

Saat ini dirinya sedang mencari orang-orang lain untuk membantu. dr Lie mengatakan mainstream selalu berpikiran, bagaimana mengukur keberhasilan dari kerja seseorang?  Apa kriterianya diukur darimana? Biasa diukur dengan pundi-pundinya. Dengan kerja seperti ini semoga saja ada yang mau bekerja dengan saya. Karena tak sedikit yang berpikir jika bekerja seperti ini, bagaimana bisa menumpuk pundi-pundi pribadi dan merugi? Tentu saja ada alasan-alasan yang membuatnya tidak merasa mau merugi, pertama adalah keimanannya mengatakan bahwa hidup di dunia ini hanya sementara.” Kita hidup karena kasih-Nya, kasih-Nya yang kita bagikan ke semua orang dan yang kedua karena saya bangga menjadi bangsa Indonesia, Kalau saya bangga saya akan bangga berkorban untuk bangsa ini” tuturnya

Sisihkan waktu bagi mereka yang terperangkap dalam kesulitan agar nantinya dapat mandiri dari keterpurukannya oleh kekuatannya sendiri. “Mereka yang tergabung di yayasan ini bisa mengubah pandangan mereka terhadap apa yang menjadi mainstream saat ini bahwa keberhasilan itu diukur dengan materi” kata dia. Bahwasanya materi itu memang penting yang baik dan sesuatu yang mesti dicari, asalkan jangan merampok dan menari di atas penderitaan orang lain.

“ Bukan itulah yang mati-matian yang kita cari, kita lahir di tangan kosong juga kembali ke pangkuannya dengan tangan kosong.  Dalam memberikan bantuan-bantuan ini, kami juga memberikan bantuan berupa pakaian bekas, pakaian bekas yang kami bawa adalah pakaian dari sumbangan. Sebelumnya kami sortir, lalu dicuci, diseterika lalu dibungkus. Ketika orang menerimanya itu merupakan sebuah hadiah bagi mereka, kita harus menghormati manusia sebagai subjek seutuhnya” pungkasnya.