Perjalanan dan Karya Musik Jessy Wenas Yang Perlu Diingat

DSC00205

Jessy Wenas (75) pada dekade 1960 sampai 1970-an dikenal sebagai seorang musisi serba bisa. Tak hanya sebagai pemain dari beberapa band saja, pria yang lahir tanggal 14 April 1939 ini juga aktif menciptakan lagu untuk penyanyi-penyanyi seperti Ernie Djohan, Titik Puspa, Bob Tutupoli, Titik Sandhora dan masih banyak lagi.

Tak hanya itu, Jessy pun pernah tergabung dalam band yang bernama Aneka Nada dimana Guntur Sukarno Putra bermain sebagai pemain drum disana. Dijumpai di rumah sederhananya yang terletak di wilayah Condet, Jakarta Timur, Jessy kembali mengenang kehidupannya sebagai seorang musisi dan pencipta lagu.

Jessy mengingat, masa kecilnya banyak dihabiskan di tempat kelahirannya di Tomohon, Sulawesi Utara. Kesukaannya terhadap musik mulai dirasakannya saat dia bersekolah di Sekolah Rakyat (SR). “ Saya sudah mengagumi bunyi gitar dan kebetulan ayah saya punya gitar dan rasanya enak sekali itu bunyi gitar” katanya.

Beranjak dewasa, Jessy ikut orang tuanya pindah ke Bandung dan meneruskan pendidikan SMA. Waktu itu dia bilang, Bandung sudah ada beberapa kelompok-kelompok band. “Di Bandung saat itu ada band Alulas yang menyanyikan lagu apa saja, dan kalau ada perpisahan sekolah saya sudah ikut band sekolah”kata Jessy. Baginya menjadi seorang pemain band menjadi kebanggan tersendiri dan untungnya keluarganya tidak keberatan dengan aktivitas berkesenian anaknya. “Orang tua dulu mikir daripada aktifitas gak karuan, lebih baik jadi pemain band saja ” kata Jessy.

Karena bukan uang yang dicari waktu itu, tetapi bayaran untuk anak SMA, bagi Jessy sudah sangat cukup daripada tidak ada sama sekali. “ Bisa senang-senang dan makan gratis apalagi pas ngeband di acara yang dilakukannnya di hotel-hotel” tutur pria bernama asli Jehezkiel Robert Wenas ini.

Setelah lulus SMA, pertengahan tahun 1950-an sampai 1960-an Jessy membangun karir bermusik secara serius. Dia sempat tergabung dalam band Aneka Nada di Bandung sebagai penyanyi dan pemain gitar. Aneka Nada anggotanya kala itu terdiri dari Sam Bimbo yang sekarang dilkenal dengan trio bimbo. Guntur Sukarno putra yang poisisi gitar dan drum dan Iwan (Bass), Indradi (Drumer), Samsudin, Atjil, Memet Slamet (vocal).

Jessy Wenas bersama Aneka Nada banyak memainkan musik berirama Amerika Latin yang berirama cha-cha seperti lagu Trio Los Ponchos. Sedikit-sedikit ada lagu barat yang berirama rock, tetapi tidak banyak karena ada larangan musik ngak ngik ngok. Mereka pun melakukan tur ke berbagai kota di Indonesia. “Dulu turnya kita pakai bus PPD yang disewa oleh istana keliling pulau Jawa, ya disewa oleh istana karena kan ada Guntur di band kita” kata Jessy yang pernah menjadi kolumnis budaya di harian Sinar Harapan.

Selain aktif di band, Jessy di tahun 1960-an mulai menciptakan lagu disaat kebutuhan lagu di dunia rekaman makin menggeliat. Dia merekam lagu ciptaan sendiri di Irama record, sebuah perusahaan rekaman yang berkantor di Jakarta. Jessy menciptakan lagu untuk penyanyi Rahmat Kartolo dan Alfian. Pun dengan lagu berjudul “Abunawas”,yang merupakan lagu pertamanya yang diciptakan pada tahun 1961. Direkam di Irama Record lantas dinyanyikan oleh Yanti Bersaudara dan diedarkan melalui piringan hitam.

Lagu Abunawas sendiri terinspirasi dari lagu pop barat yang terkenal dengan nada-nada timur tengahnya. Jessy mempelajarinya dan lahirlah lagu tersebut. Jessy bilang cerita yang paling mengena ada di lagu Abunawas itu.

Yang menarik dari lagu “Abunawas” ini, selain dipopulerkan oleh Yanti Bersaudara, lagu itu juga dinyanyikan oleh mahasiswa di tahun 1966 dalam demonstrasinya menentang Sukarno. Tentu, kata Jessy, syair lagunya telah dirubah. “Lucu juga penciptanya adalah pecinta Sukarno, tetapi saya senang saja bisa dipakai jadinya lagu itu semakin terkenal” kata Jessy yang di tahun yang sama juga menciptakan lagu “Si Gareng”,“Kisah Setangkai Daun”, “Menuai Padi”.

Pencari Bakat dan Pencipta Lagu

Selain bermusik Jessy sempat pula kuliah di ITB jurusan Seni Rupa. Hanya saja di Tahun 1966, Jessy dipecat dari almamaternya. “Dulu saya anggota dari GMNI, terus dekat pula dengan Guntur Sukarno Putra, entah kenapa saya dipecat dari sana” bilang dia. Setelah tak lagi kuliah, Jessy kemudian kerja di perusahaan rekaman Remaco pada tahun 1967 sampai tahun 1970.

Di Remaco, Jessy selain masih aktif bermusik juga menciptakan lagu untuk para penyanyi. “ Saya mencipta lagu karena ada kebutuhan saja, studio meminta lagu lalu saya buatkan lagu” kata dia. Disana, seperti yang Jessy bilang sistemnya para pencari bakat/pencipta lagu menyodorkan ke produser, penyanyi, berikut dengan bandnya.

Lagu diciptakan dan sebelum direkam ada satu tim yang menilai apakah lagu ini cocok untuk penyanyi atau tidak. “Produser menitipkan satu hal, dalam satu lagu piringan hitam, yang isinya delapan lagu harus ada satu lagu yang berhasil. Oleh karena itu setiap kali rekaman, pencipta lagu pimpinan band berembuk untuk mengusahakan agar lagu ada yang laku” kata Jessy.

Nah, dalam merekrut penyanyi-penyanyi Jessy “hunting” ke daerah-daerah yang disaat bersamaan sudah ada kegiatan Pop Singer. Melalui Pop Singer, pencari bakat di Remaco mencari penyanyi-penyanyi dan Jessy beberapa kali menjadi juri di acara tersebut. Dalam memilih penyanyi, terkadang Jessy menjatuhkan pilihannya tidak kepada mereka yang juara satu, tetapi lebih ke arah feeling yang Jessy rasa. Lantas setelah cocok, mereka dibawa ke Remaco untuk rekaman.

“Tahun 1967-1968, kita ingin mengalahkan pasaran musik Pop Barat dan yang pertama kali berhasil itu Riyanto dan rekaman Tety Kadi, melebih penjualan piringan hitamnya The Beatles di Sarinah sekitar tahun 1967” kata dia.

Sistem ini berlaku sampai tahun 1970, setelahnya pada dekade tersebut terjadi perubahan, dimana piringan hitam berubah jadi kaset yang diiringi dengan perubahan bentuk produksi sampai tanun 1970-an. “Karena kita yang mensuplai musik pop kepasaran dari perusahan Remaco dan Irama, jadi produser itu menunggu lagu yang kita ciptakan. Kalau ada yang satu lagu yang top itu biasa berurutan karema kita sudah menemukan ramuannya maka jadi saya melahirkan lebih satu lagu yang top” kata Jessy.

Ketika berubah, dimana peranan pencipta lagu berkurang dan yang menentukan adalah pimpinan band dan produser yang menjual kaset. Pimpinan band-lah yang menentukan lagu yang akan dinyanyikan oleh penyanyi. Sehingga pemain band yang mencari penyanyi, karena satu kaset isi banyak lagu dari 24 lagu dalam kaset hanya dibutuhkan satu lagu yang hits.

Menurut Jessy, ini yang sulit dicapai oleh sistem itu dari banyak lagu belum tentu semuanya hits. Lalu mereka menghapus dan membuat lagi rekaman lagu, kemudian lahirlah tiga kaset seharga Rp.1000. Sistem pertama tidak dipakai, setiap studio ada timnya sendiri yang mensuplai lagu, pemain, penyanyi kepada produser. “Kalau hasilnya baik diteruskan, kalau gagal penyanyi turun tapi tim itu tetap ada di studio. Kami bukan pegawai, karena kami pencari bakat yang mencari penyanyi di seluruh daerah” kata Jessy.

Segudang Karya Jessy Wenas

Setidaknya kurang lebih lagu 200 lagu Jessy ciptakan dari tahun 1961-1970. Di studio Remaco (30 Juli 1966), “Di tepi Kola”, “Peluklah Daku dan Lepaskan”, “Mega di Kala Senja (ciptaan tanggal 2 Juli 1966), “Pergi dan Kembali” (ciptaan tanggal 1 Juli 1966). Tahun 1967, Lagu ciptaan yang direkam di studio Remaco, bersama band studio Remaco (A.Riyanto, Joppy Item, Zaenal Arifin, Enteng Tanamal,dkk), “Semalam di Kota Bogor”, penyanyi Alfian. (PH. Aneka 12″.Vol.4), “Kini Ku Rindu”, penyanyi Tatty Sale, “Yang Terakhir”, penyanyi Tatty Saleh. Dari tahun 1967-1968, Lagu ciptaan yang direkam di studio Remaco, penyanyi Ernie Djohan “Pemalu” (ciptaan tanggal 6 Maret 1967, “Ingin Kembali” (ciptaan tanggal 29 Maret 1967), “Tidak Kutanya Lagi”, “Samudraku”, “Setengah dari Hatiku”, “Mutiara yang Hilang”.

Tahun 1968 , Lagu ciptaan yang dinyanyikan Bob Tutupoli, “Mengapa Tiada Maaf” (ciptaan tanggal 2 April 1968),dinyanyikan kembali oleh Yuni Shara, “ Wanita”. Lagu ciptaan yang dinyanyikan Titiek Sandora “Si Jago Mogok”, “Si Boncel”, “Jangan Tertawa”, “Warung Kopi” (duet dengan Muchsin Alatas), Micoma (Oh Mama). Lagu ciptaan yang dinyanyikan Titik Puspa, “Antara Sepi dan Kesepian”, “ Penyesalan”. Di Tahun yang sama lagu ciptaan yang dinyanyikan Patty Bersaudara, “Cintaku Abadi Untukmu” (ciptaan tanggal 6 Juli 1968), “Kisah Seribu Satu Malam”. Pun dengan lagu ciptaannya yang dinyanyikan Tetty Kadi, “Pramugari Udara”, “Bungaku”, “Bisikan Angin”, “Kuda Terbang”, “Tiada Maaf Bagimu”.

Advertisements

2 thoughts on “Perjalanan dan Karya Musik Jessy Wenas Yang Perlu Diingat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s