Dari nadanya Arifin (49) terdengar resah, kenapa selalu pawang hujan selalu mendapatkan sorotan negatif dari masyarakat. Bukan tanpa alasan, selalu saja menurutnya ada kesan yang tidak baik terhadap orang yang berprofesi seperti dirinya . “ Dibilangnya pawang hujan itu selalau bohong, tidak benar dan banyak yang tidak percaya, profesi ini tidak pernah merugikan orang lain ” katanya suatu ketika.

Hal ini diperparah lagi dengan adanya pemberitaan di media massa yang cenderung menyudutkan orang sepertinya. Aifin berkilah, turunnnya hujan tak dipungkiri memang sudah takdir yang Maha Kuasa dan dia hanya mampu untuk menurunkan kadar intensitasnya saja.” Pawang hujan tugasnya ya seperti itu, membantu orang saja dan tidak merugikan orang lain” bela Arifin.

Arifin merupakan salah satu diantara puluhan bahkan ratusan orang yang melakoni profesi  yang sudah lama dipraktekan di Indonesia.  Di Jakarta sendiri, dulu orang Betawi mengenal istilah pawang hujan sebagai Dukun Rangkeng. Masyarakat Betawi percaya Dukun Rangkeng ini mempunya kemampuan memindahkan energi hujan dari satu tempat ke tempat lain. Lambat laun seiiring perkembangan zaman, pawang hujan menjelma menjadi semacam profesi yang sekarang ini dijalani oleh Arifin.

“Tapi profesi Ini hanya sambilan saja kok, mas” kata pria yang tinggal di Jakarta pusat ini. Dan hampir, seperti dibilangnya, sebagian besar mereka yang menjalani profesi ini sifatnya sambilan. Jadi bukan profesi utamanya, sebab ada yang bekerja sebagai pengusaha, petani, dan yang lainnya. Alasannya pun sederhana, selayaknya kerja sampingan lainnya, mereka melakoni sambilan ini karena pilihan hati ,selain dari kebutuhan untuk mencukupi hidup keluarganya dan hasil yang didapatkannya pun cukup lumayan.

Namun baginya, menjadi pawang hujan bukanlah perkara mudah dan dibutuhkan keseriusan tersendiri. “Ini bukan kemampuan turun temurun tapi bisa dipelajari, walau terkadang  waktu untuk mempelajarinya itu masing-masing orang berbeda” katanya. Dia menampik, terkadang bagi mereka yang tekun mempelajarinya, menjadi seoarang pawang hujan hanya membutuhkan waktu sebentar.

Nah, dalam dunia pawang hujan, Arifin bercerita  dikenal ada dua aliran yaitu pawang hujan yang beraliran hitam dan putih. Pawang hujan yang masuk kategori pertama biasanya mengandalkan  kekuatan-kekuatan gaib untuk menangkal hujan. “Pakai kemenyan, celana dalam, bir  yang lainnya” katanya.  Sedangkan pawang hujan putih justru sebaliknya, pawang hujan putih mengandalkan doa dan zikir. “ Saya ini termasuk kategori yang pertama, hanya zikir dan berdoa” bilang Arifin.

Dalam “ritualnya”, tidak seperti pawang hujan beraliran hitam yang menggunakan bir dan Arifin hanya menggunakan buah apa saja. Duduknya pun  di mushola, dan jika rumah atau gedung tersebut tidak ada musholla, maka yang punya rumah wajib menyediakan ruangan khusus seperti kamar sebagai salah satu prasyarat utamanya. “ Itu wajib dilakukan oleh mereka yang punya acara agar sukses menangkal hujan” kata pawang hujan yang sering jasanya digunakan untuk peresmian gedung, peletakan batu pertama dan yang lainnya.

Syarat lainnya, si mpunya acara harus menghindari penggunaan jasa pawang hujan lainnya. “Lebih baik dalam suatau acara tidak ada pawang hujan lainnya, kecuali kalau pawang hujan itu teman kita” katanya. Arifin, dalam prakteknya berani memberikan garansi uang bisa kembali jika turun hujan.

Maksud hati memberikan garansi bukan membuktikan bahwa dirinya hebat tetapi lebih kepada kemungkinan saja karenahujan itu pasti ada. “ Kasihan juga yang punya acara juga, gimana kalau bener-bener hujan kan tidak adil juga bagi mereka, uang memang penting tapi tidak mutlak yang penting dapat kita bantu saja semampu kita” tutur Arifin.

Selama ini Pawang Hujan, seperti Arifin  digunakan jasanya untuk “mengamankan” event-event berskala besar, baik nasional maupun internasional. Namun sekarang ini, Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) digunakan  mengurangi dampak hujan dalam suatu event.

Menanggapinya , dia entang saja seraya berucap hujan pun kemungkinan pasti akan turun. “Efektifnya teknologi itu kan hanya beberapa persen saja jadi kenapa mesti kuatir,  toh jika  teknolologi itu dapat mebuat hujan tidak turun itu bohong besar” tegasnya.