Diantara klub selam yang berbasis anak-anak kampus, mungkin  klub selam ini bisa dikatakan salah satu yang tertua diantaranya. Tertua, sebab terbentuk pada maret 1987 atau lebih dari dua dekade silam.

Klub yang berbasis di Semarang ini merupakan kristalisasi dari wujud nekad besarnya jiwa petualangan bahari yang mengendap di hati para anak-anak muda dari berbagai fakultas di Universitas  Diponegoro Semarang. Adalah Gatot (Fakultas Hukum), Antok  (Perikanan), Rifki (Fakultas Kedokteran) dan beberapa mahasiswa dari jurusan Teknik Sipil yang membentuk UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) selam ini.

Nama UKSA-387 sendiri terinspirasi dari Sky Diver 165, yaitu klub terjun payung ternama di Jakarta pada masa itu pendirinya adalah Robby Mandagi (Senior di dunia terjun payung Indonesia). Pada awal terbentuknya UKSA-387 berkomitmen ingin menunjukan diving yang merupakan olahraga exstrem yang sama seperti Terjun Payung  mampu menunjukan eksistensinya.

Pada masa-masa awal ini hampir setiap bulan UKSA-387 mengadakan Ekspedisi ke berbagai pulau di jawa seperti Kep. Karimunjawa, P. Nusa Kambangan, P. Bawean, dan Kep. Seribu. Ekspedisi tak jarang pula dilakukan di luar P. Jawa seperti di Sanur, Nusa Penida di P. Bali. Selain itu UKSA-387 pernah mencicipi keindahan bawah air Gili Air, Trawangan, Meno,  Sugiri, dan Lombok Timur, di P. Lombok serta P. Sumbawa. Selain itu, Destinasi selam yang pernah mereka jelajahi Belitung, Tapanuli, Teluk Lampung, tentu saja  Kepulauan KarimunJawa yang tak jauh dari basecampnya di kota semarang.

Sebagai UKM yang baru terbentuk , seperti yang dikatakan oleh salah seorang pegurusnya, tentu banyak sekali kendala yang dihadapi oleh UKSA-387. Salah satunya adalah belum berkembangnya olah raga selam pada masa itu yang menyebabkan anggota UKSA-387 kesulitan dalam memperoleh peralatan selam bahkan untuk sekedar masker dan snorkel.

Namun hal ini tidak menyurutkan niat para mereka untuk terus bergerak. “Kesulitan ini dapat teratasi dengan pergi berbelanja alat-alat selam ke Jakarta yang memang baru di sana saja yang menyediakan peralatan selam” kata dia.

Dalam perkembangannya , tidak sedikit pula yang memanfaatkan UKSA-387 sebagai tempat penelitian mengenai karang dan ikan. UKSA-387 juga terus menjalin kerjasama dengan berbagai pihak mislanya dengan tim SARDA Jateng, Pada akhirnya UKSA berusaha untuk memberikan dampak persuasif, tidak hanya  yang berhubungan dengan dunia selam dan penelitian melainkan juga kelestarian lingkungan, dan kemasyarakatan.

Dalam proses berdirinya yang lebih dari  dua dekade ini tidak sedikit yang  mendukung, mulai dari para penanam tonggak awal dari UKSA-387 itu sendiri, yaitu mereka para angkatan sepuh, instruktur sampai pihak Universitas sendiri. “Harapan kedepan UKSA-387 ingin diving ini lebih dikenal oleh masyarakat luas karena alam bawah laut  memiliki pesona keindahan yang tak kalah dengan yang ada di luar negeri. terlebih lagi keaneka ragaman hayati yang ada di dalamnya” katanya.