Catatan Kata Kelana

Jakarta Sore di Jalur Busway

109899_620

Bagi pengendara motor di ibukota sepertinya masuk jalur busway itu soal biasa. Alih-alih menghindari macet, masuk jalur busway entah itu motor atau mobil menjadi hal yang lumrah dilakukan seraya melupakan resikonya. Yup, resiko dari razia polisi, macet lantaran busway berhenti di haltenya sampai mungkin pecah ban.

Nah,   belum lama ini di suatu sore saat jam pulang kantor saya masuk jalur busway dengan motor di wilayah cipinang. Macet disini gak bisa diprediksi bisa macet sekarang besok gak macet. Jalan satu-satunya untuk  menghindari macet disini adalah dengan masuk jalur busway. Apesnya masuk jalur busway di sore itu supaya cepet  malah macet. Macetnya sebelum sampai  belokan tepat di depan LP Cipinang. Lah, panjang bener macetnya ditambah lagi ada buswaynya yang lagi di jalur.

Ada apa ini pikir saya? beberapa motor yang gak sabaran pun langsung ambil langkah seribu keluar dari jalur busway. Makin menjadi-jadi pula, manakala ada pemuda yang lewat bilang diluar jalur busway ini ada operasi gabungan di depan. Kontan saja semuanya langsung pada panik.

Karuan kalau batas jalur busway itu dengan jalan biasa pendek, ini bukan main tingginya!. Alhasil, satu-satunya cara adalah mereka harus mengangkat motornya. Untung bagi mereka yang boncengan berdua, yang satu masih bisa ngangkat bagian depan motor dan yang satunya megang di bagian belakang.

Nah, bagaimana dengan saya yang sendiri yang lagi gak bonceng orang.  Puyeng juga ini, waduh!. Namun hebatnya kita sebagai bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi sifat gotong royong. Satu motor di belakang saya nyeletuk. “ kita bantu-bantuan saja pak, ! langsung saja saya jawab gak pakai lama, ok pak!. Dibantulah pertama kali motor saya. Saya megang bagian depan motor dia megang belakang.

Sempet juga bagian depan motor saya pas diturunkan di jalan biasa menyerempet mobil jelek yang juga kena macet. Seperti biasa, si mpunya mobil menurunkan jendela mobil dan bersumpah serapah. Peduli? Tentu saja saya tidak peduli. Setelah motor saya pindah di jalur biasa. Gantiin saya yang  angkat motornya. Nah, dibelakang dia ternyata ada motor yang pengen diangkat juga. Bapak itu pun langsung membantu mengangkat motornya.

Selesai angkat-angkatan, sekarang tinggal melaju. Eh baru jalan dikit ada motor dengan barang bawaan yang lumayan berat minta tolong di samping saya. Dia bilang, Pak bisa bantu gak? ok lah saya bantu, saya angkat bagian depannya, dia angkat bagian belakangnya. Busyet berat juga itu motor! Tapi gak apa-apalah yang penting kelar. Selesai lagi, motor saya pun langsung saya kebut. Tapi lucunya, pas celingak celinguk ternyata di depan tidak ada sama sekali operasi polisi yang tadi pemuda itu ucapkan. Kampret!

Dikerjain kita-kita tapi gak apa-apa lah. Berkaca dari pengalaman itu, ternyata kita bangsa Indonesia masih suka dengan sifat  gotong royong dengan ihklas ya walaupun didorong oleh keadaan juga, kedua adalah provokator, senangnya kita memprovokasi orang lain.  Jelas ini perbuatan yang merugikan, pemuda itu dengan sengaja bilang ada operasi di depan namun itu hanya isapan jempol belaka, ketiga sudah kebiasaan dijalan raya  jika ada kendaraan diserempet sumpah serapah pun keluar dari mulut. Dan  keempat, peraturan dibuat untuk dilanggar dan ini termasuk saya berikut pengendara lainnya yang dengan sengaja masuk ke jalur busway padahal kita semua tahu itu adalah tindakan melanggar lalu lintas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 25 October 2014 by in Celotehan Kecil.
%d bloggers like this: