Tags

,

10592630_10201230669408421_1909070811332200645_n

Di sebuah bangunan tua terbuat dari kayu, nampak anak-anak dengan cerianya belajar membaca, menulis, merangkai kerajinan tangan dan juga belajar bahasa Inggris. “ya sudah..sekarang sudah jam lima sore kalian boleh pulang…,” teriak Samsudin Surya ditengah kerumunan anak-anak, yang disambut dengan kata “horeee” dari anak-anak. Satu persatu mereka pun pulang berjalan kaki ke rumahnya masing-masing, ada yang jaraknya jauh dan juga ada yang jaraknya dekat.

Anak-anak di Desa Krasak, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu terlihat antusias. Sebab, setiap harinya kini anak-anak yang sebagian besar orang tuanya bekerja sebagai buruh Tani ini dapat menghabiskan waktu bersama teman-temannya belajar di Rumah Baca Bumi Pertiwi.“ dulu belum ada rumah baca seperti ini, boro-boro rumah baca, perhatian dari orang tua mereka yang rata-rata petani untuk mengajari anak-anaknya membaca saja kurang. Apalagi juga orang tua mereka pun juga adayang tidak bisa membaca” kata Samsudin Surya (43).

Nah, berangkat dari problema yang mendera anak-anak di desa tersebut, Samsudin tergerak hatinya untuk mendirikan rumah baca.  Samsudin bersama para sahabatnya, Billy, Lusi, Haikal (Soleh) dan Dwi di tahun 2011 sepakat untuk membangun sebuah rumah baca yang bernama Rumah Baca Bumi Pertiwi yang  bertujuan untuk menumbuhkan niat membaca pada anak- anak.

Awalnya rumah baca ini hanya didatangi beberapa orang anak  murid Samsudin. Namun dalam perkembangannya, rumah bacanya mulai mulai dikunjungi oleh anak kampung sekitar  yang tertarik untuk datang sekedar membaca. Tidak hanya jadi tempat membaca saja, Samsudin kerap juga membekali anak-anak di rumah baca-nya itu dengan ilmu pengetahuan lain,  misalkan membuat kerajinan tangan dan juga sam mengajari anak-anak berbahasa Inggris.

“saya ini sebenarnya teringat pesan ayah  yang pernah bilang ke saya untuk peduli akan pendidikan di kampungnya. Ayah saya juga Petani, dia pesan supaya saya menyisihkan waktu untuk ngajarin anak-anak di kampung sini,“ tutur pria yang sempat mengenyam pendidikan S1 Jurusan Management di Universitas Whisnuwardhana, Malang

Sempat Menjadi Guru Honorer dan Mengirim Surat ke Istana

Dunia tulis menulis dan membaca bukan hal yang baru bagi anak ke 9 dari 12 bersaudara ini. Pasalnya, Samsudin pernah menjadi Guru Honorer di SDN Krasak III, sekolah Negeri. Di SDN itu Samsudin mengajar sebagai Guru bahasa Inggris. “ honornya kecil waktu itu hanya Rp 175.000,- per bulan, kemudian meningkat menjadi Rp 350.000,- per bulan karena jam mengajar yang bertambah, tapi gak apa-apa lah” katanya.

Samsudin saat sebagai guru dikenal streng dalam mengajar baca tulis dan tidak pernah kehabisan akal untuk meningkatkan minat membaca murid-muridnya . Dirinya treus berpikir apa yang harus dilakukan agar anak- anak didiknya agar mau merangkai kata dengan  baik dan berusaha menulis rapi.  Hingga akhirnya, Samsudin  teringat  oleh salah satu program televisi  berjudul “Surat Untuk Presiden”. “Waktu itu saya langsung saja meminta anak- anak menulis surat untuk Presiden, tujuannya hanya ingin menumbuhkan rasa kecintaan mereka untuk menulis rapi dan mengembangkan kalimat yang mereka tulis,” kata Samsudin.

Dengan menunjukan pokok-pokok teknik menulis, sambil mengajak siswanya untuk mengembangkan keterampilan dalam menulis, Sam cukup memeriksa dan memperbaiki  tata bahasa yang kurang tepat. Dan tanpa disangka surat itu dibalas saat kabinet SBY jilid II sudah terbentuk. Saat itu Istana Negara menelepon Bupati Indramayu. Istana Negara mempertanyakan laporan kualitas pendidikan di Indramayu  yang kurang baik, Samsudin sama sekali tidak merasa melaporkan keburukan Pemda ke Istana Negara. Hanya surat para murid yang menginginkan sarana pendidikan yang lebih baik, Samsudin pun tidak mengerti, namun yang dia harapkan memang sebuah perbaikan untuk sekolah karena selama 30 tahun sekolah itu belum mengalami perbaikan sama sekali.

Alhasil,  akibat teguran dari pusat Camat kecamatan Jatibarang pun dipanggil. Telpon dari Istana Negara berdering membuat pada petinggi Indramayu pun datang ke sekolah tempat Samsudin mengajar di Kampung Krasak, dimana SDN Negeri Krasak III berada. Beberapa hari kemudian datang beberapa staff dari Istana Negara menengok kampung dan sekolah dimana Samsudin mengajar. Banyak pejabat teras Indramayu dibidang pendidikan datang  saat itu, namun  Bupatinya tidak datang.

“Akhirnya saya dijanjikan kalau sekolah diprioritaskan untuk mendapat rehab, sayangnya jadwal kunjungan ke sekolah waktu itu dibatalkan saya kecewa dan marah, dan janji rehab dari Pemda sampai para Bupati itu selesai masa jabatan tidak juga dipenuhi akhirnya saya putuskan harus bisa bersuara agar tidak ada lagi pencitraan lagi dan janji palsu dari pemerintah ,”ungkap Samsudin.

Kini selepas bekerja sebagai Guru Honorer, Samsudin memilih memanfaatkan waktu untuk fokus mengembangkan rumah baca Bumi Pertiwi, termasuk harus rela naik motor ke Jakarta atau tempat lain mengambil sendiri buku-buku dari para donatur atau penyumbang lainnya. Publikasi rumah baca yang ia buat sementara hanya sebatas facebook dan twitter.

Ternyata dukungan tidak hanya datang  dari para sahabat saja, bahkan gaungnya terdengar hingga luar negeri seperti Amerika. Seorang warga negara dari Kanada yang berdomisili di Bangkok pun pernah singgah ke rumah baca yang ia dirikan.  Banyak harapan Samsudin untuk mengembangkan rumah bacaanya ini, ia juga  mengharapkan ada sebuah program dimana anak- anak dari negara lain dapat berbincang-bincang melalui jejaring sosial Skype agar dapat saling berbagai cerita dan menambah wawasan anak -anak dikampungnya agar bisa lebih mengglobal.

“Sebetulnya menurut saya tidak ada yang luar biasa yang saya lakukan, hanya saja kami berani mewujudkan dan berusaha membesarkan harapan kami , semua orang bisa kok kalau mau, just do it tidak perlu harus menjadi orang besar untuk melakukan hal yang positif” kata Samsudin.

Peduli Kondisi Bangsa

Samsudin selain mendirikan rumah baca, ia  dikenal juga sebagai sosok yang kritis terhadap kondisi bangsa. Pada Maret 2014 lalu, Samsudin  pernah melakukan aksi jalan kaki Malang-Surabaya menyuarakan gerakan no money politics. Sejumlah aktivis Malang Corruption Watch (MCW) melepas aksi Samsudin di Rumah Makan Ringin Asri Kota Malang.

“Waktu itu Saya memang sengaja lakukan aksi jalan kaki, sambil berjalan ingin memberikan pesan kepada masyarakat yang saya temui disepanjang perjalanan, mengajak masyarakat untuk ikut peduli, kritis, dan lebih peka terhadap kondisi bangsa dewasa ini. Di bidang politik, pemerintahan, maupun pendidikan misalnya dinilai Samsudin masih jauh dari kata ideal.” kata Samsudin.

Aksi jalan kaki yang dilakukan oleh Samsudin tersebut bukanlah yang kali pertamanya. Sebelumnya di tahun  1999,  Samsudin melakukan sejumlah aksi jang sama yaitu jalan kaki mulai Mojokerto-Cirebon selama 45 hari, Malang lewat jalur selatan hingga Tasikmalaya, serta jalan kaki Indramayu-Jakarta. Dalam aksi jalan kaki Malang-Surabaya itu, Samsudin mengenakan kotak kardus sebagai penutup kepala serta baju mirip jas hujan dari bahan plastik mika penuh dengan stiker maupun poster ajakan untuk menolak praktek no money politics.

“Saat ini tidak ada lagi batas negara, sehingga sumber daya manusia (SDM) harus terus diberdayakan. Salah satunya dengan tidak melakukan politik uang,” jelas Samsudin.  Selain itu dalam pemilihan legislatif (Pileg) 9 April dan pemilihan presiden (Pilpres) 9 Juli mendatang Samsudin juga berharap untuk tidak apatis dengan melakukan aksi golongan putih (golput) misalnya dan juga tidak melakukan Fitnah atau Kampanye Hitam apapun caranya.