SLB-4 depan

Beberapa tahun silam, insitusi pendidikan ini pernah mendapat sorotan tajam. Gara-gara  sekelompok warga sekitar mendirikan tembok setinggi dua meter di pintu gerbang Sang Timur. Akibatnya kegiatan pendidikan anak-anak Sang Timur menjadi terhalang. Konflik ini terjadi, ada yang bilang karena kesalahpahaman antara warga dan pihak sekolah, isu agama,  bahkan mantan presiden Abdurahman Wahid  pernah bilang konflik yang didera Sang Timur itu sarat dengan muatan politisnya.

Namun kini prahara telah berlalu,  di ruang makan panti anak Sang Timur siang waktu itu terlihat anak-anak sedang asiknya melahap beragam menu makan siangnya. Di sela bunyi piring dan sendoknya, seoarang anak berkata dengan lugunya, jika sudah besar nanti bercita-cita ingin menjadi seorang pelukis. Anak yang di depannya tak mau kalah dengan cita-citanya ingin menjadi suster sambil menunjuk suster Anselma PIJ yang berdiri tak jauh darinya. Dan suster itu pun tersenyum dibuatnya. “Di tengah keterbatasannya yang dimiliki  anak-anak tersebut, gantungkan cita-cita setinggi langit menjadi sesuatu yang ingin diwujudkannya kelak” kata Suster Anselma PIJ.

Lugu, lucu dan blak- blakkan, suster itu teringat olehnya ada satu anak pernah membuatnya tertawa terbahak-bahak, tak hanya dia saja melainkan semua yang saat itu ada bersamanya. Saat itu ada sebuah acara, si anak membuatkannya sebuah puisi. Memang sudah hobinya, suster itu berkata, tak ada hari yang terlewati oleh si anak itu membuat puisi. Kali ini puisinya  dibaca lantang di acara itu ”Suster Anselma saya sangat mencintaimu, walau kulitmu hitam sehitam tanah kuburan”, yang hadir disana kontan semuanya tertawa.   Sampai dia akhirnya lulus anak itu bahkan mengisi buku tebalnya dengan puisi-puisinya yang lugu. “Mungkin jika anaknya masih ada, mas-nya pasti dibuatkan puisi olehnya “kata Suster Anselma.

Down sindrom bagi sebagian orang menganggapnya sebagai kutukan yang dibawanya dari lahir sampai tutup usia. Namun sejatinya itu tak lebih dari kelainan yang berdampak pada keterbelakangan pertumbuhan fisik dan mental  pertama kali dikenal pada tahun 1866 oleh Dr.John Longdon Down. Karena ciri-ciri yang tampak aneh seperti tinggi badan yang relative pendek, kepala mengecil, hidung yang datar menyerupai orang Mongoloid maka sering juga dikenal dengan mongolisme. Pada tahun 1970-an para ahli dari Amerika dan Eropa merevisi nama dari kelainan yang terjadi pada anak tersebut dengan merujuk penemu pertama kali sindrom ini dengan istilah Down Sindrom dan hingga kini penyakit ini dikenal dengan istilah yang sama.

Sekolah Sang Timur satu diantara insitusi pendidikan yang peduli dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Berada di dalam kompleks perumahan Baharata, Karang Tengah, Tangerang, sekolah ini didirikan oleh Yayasan Karya Sang Timur pada tahun 1992, Sekolah Luar Biasa Sang timur itu berdiri atas prakarsa Sr. Josefa Beata PIJ seorang biarawati yang sangat peka dan terketuk hatinya melihat Anak Berkebutuhan Khusus yang seringkali tidak mendapatkan kesempatan belajar.

Karya Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus ( ABK ) pun dimulai di tahun yang sama dari semula jumlah ABK yang ditangani hanya 5 peserta didik terdiri dari 3 peserta didik putra dan 2 pe­serta didik putri. Di tahun 1993 menjadi 40 peserta didik terdiri dari 16 pe­serta didik putra dan 24 peserta didik putri. Tahun 2014, 10 tahun kemudian jumlahnya semakin bertambah. Sang timur sendiri tidak  hanya ada sekolah tetapi ada juga panti yang mengasuh anak-anak berkebutuhan khusus. Untuk yang pantinya khusus dihuni oleh anak-anak perempuan yang rata-ratnya berasal dari luar daerah.

Layaknya sebuah sekolah, pendidikan merupakan hal paling krusial. Mendidik anak-anak Down Sindrom tidak seperti mendidik anak-anak biasa. Kesabaran merupakan kunci yang tak bisa tidak untuk diterapkan tidak bisa idealis untuk mendidiknya. Akan halnya dengan para tenaga pengajar dan suster di sekolah Sang Timur ini yang tulus ihklas mengabdi untuk anak-anak berkebutuhan khusus ini.  Di tengah penderitaan kemampuan berpikirnya yang terbatas, tidak obat atau sesuatu apa yang dapat menyembuhkannya. Apa yang diderita oleh anak-anak ini hanya bisa “disembuhkan” salah satunya dengan memberikannya beragam kegiatan.

Maka  sekolah ini pun menyediakan fasilitas seraya modal untuk si anak dalam berketerampilan.  Suster itu menunjuk beberapa ruangan yang ada di sekolah ini. Ruangan yang berada di belakang khusus digunakan untuk meningkatkan keterampilan dari anak-anak berkebutuhan khusus seperti ruangan untuk menjahit dan memasak. Dan hasilnya seperti apa yang terpajang di etalase yang terletak di depan halaman sekolah. “ Untuk yang dipajang disana memang khusus untuk dijual” kata suster Anselma. Kalau yang makanan ringan seperti gorengan yang mereka buat biasanya juga untuk dijual. Hasilnya memang tidak seberapa namun  banyak memberikan anak-anak berkebutuhan khusus itu aktivitas yang cukup berarti bagi perkembangan si anak untuk mandiri. “Jika mereka sudah lulus, mereka dapat menolong dirinya sendiri dan mandiri”tutur suster Anselma.

Hanya saja sebagai sebuah insitusi pendidikan yang roda penggeraknya adalah modal. Suster Anselma mengatakan dana operasional pendidikan di tempatnya mengabdi semakin menipis dari waktu ke waktu. Berbeda dengan sekolah umum, disini anak didiknya sedikit tenaga pengajarnya banyak, kalau sekolah umum kebalikannya. Belum tentu satu kelas diajar oleh satu guru saja, di sekolah berkebutuhan guru seperti sekolah ini membutuhkan tenaga pengajar hampir delapan orang untuk satu kelasnya.

Sekolah ini memang bukan sebuah institusi yang dimiliki oleh pemerintah melainkan dimiliki secara swasta.  Sumber dananya berasal dari donasi-donasi mereka yang peduli terhadap keberlangsungan pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus. “Disini kami tidak pernah mematok soal iuran yang harus dibayar oleh setiap orang tua anak didiknya, yang penting orang tua ” kata suster Anselma. Berkat kemurahan dari Tuhan dan subsidi silang dari sekolah-sekolah lain-lainnya, sekolah ini masih bisa bertahan dengan anak-anaknya yang terus bercita-cita.