Tags

, ,

Pohan (55) dan Tuti Pohan (46) terlihat kompak siang itu menjual buku-buku daganganya, setiap ada orang yang lewat dan melirik kios buku sederhananya, mereka tak sungkan untuk menawarkan apa buku yang mereka inginkan di kios yang berada di wilayah Jatinegara, Jakarta Timur ini. “Nyari buku apa pak, buku agama banyak disini tinggal pilih saja” terang Pohan.

“Banyak orang harus baca buku-buku tentang agama, mas tahu sendiri disini kan banyak maksiatnya hehehehe”kata Pohan. Menurutnya, agama itu apa pun agamanya, penting untuk dipelajari agar manusia bisa terhindar dari hal-hal yang dilarang oleh agama. Itulah Pohan yang acapkali bersuara soal agama kepada pelanggan yang ingin membeli buku agama yang dijualnya.

IMG05746-20140219-1130

Menempati kios yang terbilang kecil di salah satu sudut pasar loak Jatinegara, kios buku Tuti Pohan seperti nama yang terpampang jelas di atas kiosnya bisa dikatakan satu-satunya kios yang menjual buku di wilayah tersebut. “Tak ada lagi kios jual buku selain saya disini” tutur dia.

Berdagang buku seakan-akan telah mendarah daging dari pria kelahiran Sumatera utara ini. “ Saya jual buku sudah lebih dari 30 tahun,  kios ini dulu  banyak buku-bukunya, saya saja sempet susah untuk duduk di dalam kios” kata Pohan. Lambat laun saking banyaknya pembeli akhirnya buku-buku tersebut berhasil dijual.

Kios yang sekarang mereka huni  bukanlah kios pertamanya, pohan sempat pindah beberapa kali, berdagang dari wilayah Jatinegara dengan gelaran lapak seadanya sampai buka kios kecil di samping stasiun Jatinegara.

Sampai akhirnya, dari bermodal dana yang disisihkannya, Pohan perlahan memberanikan diri untuk membeli kios yang dulunya dia sewa sebesar 6 juta pertahun. Dia tak lagi kuatir rongrongan tramtib yang kerap menghantui  para pedagang pinggir jalan. “ Dulu waktu masih di Jatinegara, lapak digusur oleh tramtib tapi sekarang  kemarin-kemarin saja ada pembongkaran tapi disini aman-aman saja”kata Pohan yang telah dikarunia oleh empat cucu ini.

Bagaimana dengan buku-buku yang dijualnya? Buku-buku yang dijual ibarat harta tersembunyi bagi para pecinta buku. Pasalnya, dibalik tumpukan bukunya terkadang terselip buku-buku yang tergolong antik. Hanya saja membutuhkan waktu yang lama dan berdebu untuk mengaduk-ngaduk bukunya, Namun jika sabar, buku berbahasa Belanda yang terbit di awal abad 21 pun dapat kita temukan. Contohnya saja buku berbahasa Belanda yang berjudul”Welvaartszorg In Indonesie” yang terbit tahun 1948, atau buku “Wissel-En Chequerecht” yang terbit tahun 1950-an. Atau buku “Sejarah Indonesia Modern” terbitan lama karya MC. Riklefs.

Soal harga, Pohan tidak terlalu mematok harga mahal untuk buku-bukunya. Dan memang tergantung dari jenis bukun, untuk buku agama Pohan menjualnya dengan harga sedikit mahal dibandingkan dengan buku-buku terbitan lama. Bahkan buku-buku Ensiklopedia Americana yang berjilid-jilid itu dibandrol Pohan satuannya hanya Rp.10.000, untuk satu bukunya asalnya membeli banyak.

Begitu pun dengan buku ensiklopedia lainnya yang dijualnya dengan harga yang tergolong murah meriah. “bBsa dibandingkan deh harganya, di tempat lain harganya sudah mahal” kata Pohan yang mendapatkan stock bukunya dari orang yang sering datang di kiosnya untuk menawarkan buku.

Sebagai seorang pedagang yang mengawali bisnis dengan seadanya,  Pohan teringat suatu momen yang paling mrembekas di benaknya. Adalah saat dirinya dulu di tahun 80-an kesusahpayahan membeli buku untuk stok bukunya. “Waktu uang lagi tak banyak, saya jalan kaki bawa sekarung buku di pundak dari senen ke jatinegara” katanya. Capek jelas sudah resiko, tetapi itu semua dijalani dengan penuh suka cita, demi dapur rumah yang harus terus mengebul.

Namun namanya usaha pasti ada  pasang surut, begitu pun dengan kios buku Pohan. Tuti Pohan mengatakan masa ‘keemasan” jualan bukunya itu terjadi di tahun 2006 saat kiosnya baru pindah. Tak tangung-tangung dari hasil jualan bukunya, mereka bisa membeli motor secara tunai, soal berapa banyak buku yang terjual Pohan pun tak mampu menghitung.

Seiiring dengan perkembangan teknologi sekarang masa keemasaan itu perlahan meredup. “ Sekarang kan zamannya internet mas, jadi banyak orang yang baca-baca itu dari internet”tutur dia.  Sejalan dengannya tentu berimbas pada penghasilannya. Omzetnya boleh saja turun, tapi bukan berarti pohan hilang harapan. Pohan berharap di tahun 2014 ini masa keemasan itu kembali datang. “Ya mudah-mudahan aja di tahun ini penjualan buku bisa meningkat” katanya.