Tags

EDQicybiWS

Satu kali gagal nyaleg di pemilu kemarin, tak membuat Tugono jera. Baginya gagal adalah hal biasa dalam hidup, ambisi nya ingin menjadi wakil rakyat begitu menggebu-gebu bagi pria yang kini tak bisa dibilang muda lagi. Tua bukan halangan, apalagi uang walau tanah dan rumah  dikorbankan demi biaya politiknya

Resume pun dikirimkan seraya berharap kendaraan politiknya kini memberikan angin segar kepadanya. Bak gayung bersambut, ACC pun diterimanya dengan suka cita. Hati berseri seakan-akan lupa dengan pahit yang dia rasakan di pemilu yang lalu, Tugono optimis karena harapannya sekarang bukanlah pada partai lamanya yang sekarang sering didera problema, melainkan partai yang ketua dan wakilnya massif muncul di layar kaca dengan jargon-jargonnya khas.

Tugono yang juga seorang pensiunan ini yakin Dapilnya kali ini akan melirik potensi dan visi yang dimilikinya. Alasannya cukup sederhana, nyaleg yang dia pilih untuk memperbaiki nasib? Nasib siapakah? Seperti yang diakuinya, tentu nasib rakyat banyak dan dirinya berikut dengan keluarganya yang gagal mendulang uang di bisnis makanannya yang bangkrut. Strateginya sederhana dengan sambil jalan saja berhadap dewi fortuna berpihak kepadanya.

Tugono tidak sendiri, ada lagi Sarono. Jika Tugono merupakan seorang pensiunan, Sarono adalah pekerja bangunan. Meski bermodal cekak, Sarono tetap melangkah demi  memperjuangkan wong cilik seperti dirinya.  Di desanya, pria asal Sragen, Jawa Tengah ini menjadi ketua paguyuban warga yang memberikan modal bergulir bagi pedagang kecil yang membutuhkan.

Nah, masih di Jawa Tengah tepatnya di Semarang ada Ari Munanto. Ia merupakan seorang penjual es batu keliling yang maju sebagai caleg DPRD Kabupaten Semarang. Warga Desa Klepu, Kecamatan Pringapus ini pun maju nekat tanpa berbekal uang dan hanya merbodalkan pengalamannya bergabung dalam organisasi serikat buruh diharapkan dapat menjadi modal berjuang saat terpilih menjadi wakil rakyat.

Lain lagi di Banyumas, Jawa Tengah, Sri Hariyanto, seorang penjual koran tak gentar bersaing menjadi anggota DPRD Kabupaten Banyumas pada Pemilu 2014. Ia juga menggunakan kesempatan berkeliling mengantarkan koran untuk berkampanye dengan membagikan kalender bergambar dirinya kepada para langganan. Kampanye itu dinilai efektif, sebab tak membutuhkan banyak biaya, bisa di lakukan sendiri, dan tanpa ada tim sukses. Setiap hari, Sri Hariyanto mangkal di sebuah kios kecil sebagai tempat berjualan koran di Kota Purwokerto. Di kios itu terpampang poster Sri Hariyanto sebagai caleg dari sebuah partai politik.

Nyaleg itu sah-sah saja, Ahmad Halim, staf Divisi Pengawasan Bawaslu Provinsi DKI Jakarta seperti yang dikutip suarakarya.com, berucap menjadi calon anggota legislatif seakal memberikan kebanggaan dalam diri seseorang, meskipun tanpa kredibilitas dan kapasitas tertentu.  Bahkan, meski sebagian hanya bermodalkan status sosial dan sumber daya finansial,  tetapi karena kondisi dan sistem pemilu (daftar profesional terbuka) memberikan ruangkemudian masyarakat berbondong-bondong ikut-ikutan nyaleg berharap Tuhan memberikan ‘keajaiban’ sehingga dapat merubah nasib kondisi perekonomiannya.

Citra anggota legislatif yang memiliki gaji besar, hidup dalam kesenangan, serba kecukupan, dan dipandang sebagai orang yang cerdas, menjadikan masyarakat ‘nekat’ mencalonkan diri menjadi anggota legislatif, dan hal tersebut akan terus ada pada setiap pemilihan umum (Pemilu) jika, ada seorang Caleg yang hanya bermodalkan status sosial dan sumber daya finansial terpilih menjadi anggota dewan.