Seputaran Ras Dan Prestasi Olahraga

wallpaper-sport-champion-awesome-93

Seorang teman pernah berkeluh kesah karena pemain bola indonesia sudah kehilangan nafas pada pertandingan paruh kedua. Dia kesal, karena pemain-pemain Indonesia sudah tak lagi semangat dalam bertanding.” Emang sih kayaknya dari fisik pemain kita aja sudah gak bisa nandingin pasti kalah, kalo gw perhatin pasti deh babak kedua pemain sudah ngos-ngosan, makannya tempe melulu sih kayaknya” katanya sambil tertawa .

Wajar saja dia kesal wong dia adalah pencinta bola sejati. Jadi ya sudah selayaknya dia kesal, apalagi sudah datang jauh-jauh dari rumah hanya untukmenyaksikan pertandingan Timnas di Gelora Bung Karno tapi sayang berakhir dengan kepala tertunduk alias kalah.

Melihat ucapan kekesalannya itu, lantas apa hubungannya antara ras dengan prestasi olahraga?. Apakah kita yang ras asia khususnya Indonesia tidak bisa bersaing dengan mereka yang ras asia lainnya, atau dari ras bangsa eropa yang notabene secara fisik mereka lebih besar.

Memang dominasi suatu kelompok ras dan etnis dalam olahraga diperlihatkan melalui berbagai prestasi yang telah mereka raih. Kelompok ras dan etnis mayoritas maupun minoritas dalam suatu negara tidak berpartisipasi dalam seluruh cabang olahraga. Mereka memilih cabang-cabang olahraga tertentu yang menurut mereka cocok dengan sifat dan karakteristiknya baik secara fisiologis maupun psikologis, misalnya China yang selalau dominan dalam cabang olahraga atletik

Selain itu, Orang kulit hitam di Amerika dipandang memiliki karakteristik fisik yang lebih baik dari pada orang kulit putih. Hal ini sesuai juga engan teori yang pernah kemukakan oleh Sir Roger Bannister. Kompetisi NBA di Amerika tidak luput dari dominasi para atlit bolabasket kulit hitam yang menjadi bintang lapangannya, begitupun dengan olahraga American-Football, Baseball, dan Tinju. Orang-orang kulit hitam telah memperlihatkan kedigdayaan Amerika dalam cabang-cabang olahraga tersebut

Walau orang-orang Asia memiliki sifat dan karakterisik yang berbeda dengan orang-orang Eropa. Meskipun secara fisik orang-orang Asia memiliki tubuh yang lebih pendek , akan tetapi kecepatan dan motivasi mereka di lapangan tidak dapat terkalahkan oleh orang-orang Eropa, tengok saja perhelatan akbar Olimpiade yang China selalu menempati urutan atas dalam perolehan medali.

Menurut Djoko Pekik Irianto (Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora ) saat penulis mewawancarai beberapa waktu yang lalu, keterkaitan antara ras manusia dengn prestsi olahraga sifatnya ini relatif.

Pasalnya,  memang ada penelitian-penelitian yang meneliti persoalan ini, yang konon menurutnya lagi, lari jauh di cabang atletik dimiliki oleh orang yang berasal dari Afrika atau orang kulit hitam. Tak salah juga karena para spriter kelas dunia berasal dari mereka yang berkulit hitam.

Akan tetapi, menurutnya, kriteria ras itu sifatnya an sich dan dipengaruhi juga oleh berbagai faktor, misalnya  lingkungan, sosial dan yang lainnya berikut juga dengan faktor latihannya. Misalnya  Rudy Hartono yang merupakan seorang atlit Bulutangkis keturunan Cina berhasil menyabet juara All England sebanyak delapan kali. Kemudian ada juga, Liem Swie King yang merupakan atlit bulutangkis keturunan Cina yang sangat ditakuti oleh lawan-lawannya dengan julukan King of Smash-nya. Penampilan mereka di lapangan memperlihatkan jiwa pantang menyerah, tekun, ulet, disiplin latihan serius, dan rela berkoban demi tujuan mulia.

Tak ketinggalan adalah faktor gizi dan makanannya. Lantas bagaimana dengan kebutuhan atlit soal  gizinya, Kebutuhan akan gizi untuk para atlit itu sangatlah pentinng sebab bagaimana atlit itu dapat berprestasi apabila asupan gizinya itu kurang, bisa-bisa saat dia berlaga bukannya bisa mencapai garis finish, malah pingsan di tengah jalan lantaran kekurangan gizi.

Nah, menurut Djoko gizi para atlit Indonesia sekarang ini sudah baik. “Tak bisa menyamakan keperluan gizi para atlit yang berbeda dengan kebanyakan kita.  Tapi ketercukupan asupan para atlit kita itu tergantung dari atlitnya sendiri dan peran para pelatihnya untuk mengontrolnya apakah gizi para atlitnya sudah cukup atau tidak” pungkas dia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s