Sedikit Cerita Perang dari Si Mbah

BeaCh oRps

Berapa banyak dia telah banyak menghabisi orang selama mengemban tugas negara? Hanya dia yang tahu, tapi mendengar dari cerita singkatnya siang itu, tak disangsikan lagi jumlah nyawa yang melayang ditangannya mungkin banyak.

“Ya kan pilihannya cuma dua dibunuh atau membunuh, namanya juga perang” katanya sambil bercerita panjang lebar tentang perang yang pernah dilakukannya saat di Timor Timur.

Saat itu bertepatan dengan hari Natal. Kumpul keluarga pun sesuatu yang biasa di salah satu rumah kerabat yang beragama Nasrani di daerah Jatinegara. Nah, mbah yang satu ini memang tak pernah absen datang ke acara kumpul-kumpul seperti ini. Berbeda dengan kerabat lainnya yang datang bergerombol, saban kali datang mbah ini hanya seorang diri, tak tahu kemana anak-anaknya.

Datang setelah saudara lain tiba pagi hari. Setelahnya kangen-kangenan menjadi hal yang lumrah. Jabat tangan, mengobrol sebentar, lantas ambil piring dan menyikat makanan yang tersedia di meja makan ruang tamu.

Bila diingat lama tak berjumpa terakhir ketemu mungkin natal tahun lalu. Sikapnya biasa-biasa saja awalnya saat dihampiri, namun berubah menjadi tak biasa saat saya sedikit berbincang-bincang dengannya di sebuah sofa empuk ruang depan rumah kerabat.

Yup, cerita bergulir pelan soal pengalaman masa lalunya saat menjadi abdi negara yang sukanya nenteng senjata dan bertopi baja. Ngalor ngidul dia bercerita, bla-bla bla bla. Panjang lebar memang, namun sedikit susah mencerna inti cerita sesungguhnya karena cerita yang keluar dari mulutnya itu bercampur dengan rasa kesalnya kepada salah seorang anak lelakinya yang pindah agama.

Namun untunglah sedikit bisa ditangkap kisah perangnya. Jadi perangnya itu terjadi saat dirinya ditugaskan ke salah satu pulau yang sekarang sudah menjadi negara yang berdiri sendiri. Adalah Timor Leste, sebuah negara yang dulunya bagian dari republik Indonesia yang kemudian pada tahun 1999 melepaskan diri dan merdeka sebagai negara yang berdiri sendiri.

Bagaimana Timor Leste lepas dari pangkuan ibu pertiwi? Hmm sepertinya akan panjang bila diceritakan. Lanjut ke cerita, berpangkat sersan mayor di sebuah kesatuan khusus yang amat ditakuti saat Orde Baru masih berkuasa saat dirinya pergi kesana. Kopassus dalam operasi di Timor Timur ini menurut beberapa sumber memang memainkan peranna penting sejak awal. Mereka melakukan operasi khusus guna mendorong integrasi Timtim dengan Indonesia. Pada tanggal 7 Desember 1975 pasukan ini merupakan angkatan utama yang pertama ke Dili.

Operasi ini melibatkan satuan-satuan dari Batalyon 502 Raiders Kostrad, Kopassgat (sekarang Paskhas TNI AU dan Kopassandha (sekarang Kopassus) lewat penerjunan. Mbah tua yang satu ini merupakan salah satu dari anggota Kopassus yang yang menjejakkan kakinya di Timor Timur setelah terjun dari atas pesawat yang ditumpanginya.

Diterjunkan lewat pesawat dengan menggunakan parasut. Berpakaian ala warga sipil tetapi memegang senapan, dia wara-wiri kesana kemari.” celananya seperti yang kamu pakai sekarang ini” bilanganya. Dan sontak dia menyebutnya sebagai tentara jeans.

Yup, tentara jeans, tentara samaran agar mengelabuhi musuh dan diturunkan dalam beberapa kesatuan. Entah mungkin lupa dia mengingat nama kesatuannya, maklum saja umurnya sudah menginjak 70 tahun-an lebih.

Menelisik sedikit buku soal Kopassus, memang pasukan khusus ini dalam melaksanakan operasi tempur, jumlah personel yang terlibat relatif sedikit, tidak sebanyak jumlah personel infanteri biasa, dengan kata lain tidak menggunakan ukuran konvensional mulai dari peleton hingga batalyon. “Ya seingat saya dulu cuma lima orang yang berangkat dengan saya” bilangnya.

Tugasnya kala itu adalah untuk mengumpulkan informasi sebanyak mengenai segala hal yang berhubungan dengan lawan, lantas mengirimkan informasi itu ke pusat. Mbah tua bercerita, pernah suatu ketika saat dirinya menangkap tentara musuh. Hehehhehe malang bagi mereka yang tertangkap, jangan harap tidak akan terluka pasalnya dia bilang pernah memotong kuping serseorang pakai belati tajam. “Saya lupa kapan persisnya waktu itu motong kuping” bilangnya.

Namun beruntung bagi veteran perang yang  satu karena selama bertugas di timor timur, tak pernah ditangkap. “Jangan bayangkan saya tertangkap, bisa-bisa sekarang saya sudah diakhirat” katanya. Perang pasti memakan korban, teman-teman pun banyak gugur di sana, namun entak kenapa tak nampak raut sedih dimuka. “Namanya juga tugas negara mati adalah “Hal wajar, ini kan peran, nyawa bisa melayang jika peluru menembus badan kita” kata dia. (bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s