o-EAR-facebook

Bagi para Ilmuwan bagian tubuh manusia ternyata dapat menghasilkan sebuah aliran listrik ,contohnya saja dengkul dan telinga. Kok bisa?namanya juga ilmuwan yang haus akan eksperimen dan segala sesuatu yang tak mungkin pun menjadi mungkin.

Sepertinya agak sulit juga untuk dibayangkan di saat kita membutuhkan listrik dan untuk mendapatkannya kita harus memperolehnya dari telinga kita sendiri. Mungkin asumsi konyolnya begini, kenapa memilih telinga mungkin karena telinga itu ada lubangnya?. Nah bagaimana dengan hidung bukankah disana  berlubang juga, hhehehe.

Bagi Tina Stankovic, peneliti saraf dari Harvard University Medical School di Boston, Massachusets, hal-hal yang mungkin sedikit aneh itu bukanlah sesuatu yang konyol, bahkan tak tangung-tanggung ia adalah orang yang berusaha untuk mengembangkannya. Hasil risetnya pun telah dipublikasikan di Jurnal Nature Biotechnology belum lama ini.

Jadi, Tina berpendapat bahwa di telinga kita mempunyai semacam daya potensial DC yang sudah diketahui sejak 60 tahjun yang lalu akan tetapi belum ada yang memanfaatkannya. Lantas bagaimana ceritanya listrik itu nantinya bisa keluar dari telinga? Listrik dari telinga itu adalah akibat dari gradien elektrik di membran sel.

Namun  untuk benar-benar menghasilkan listrik dibutuhkan sebuah chip khusus, yaitu dengan chip elektronik yang memiliki beberapa elektroda kecil dengan hambatan rendah. Percobaan pun dilakukan, namun tidak langsung ke manusia melainkan ke dalam telinga babi Guniea. Sementara, elektroda dihubungkan dengan membran sel koklea, bagian telinga yang berbentuk seperti rumah siput. Bersama chip, disematkan pula pemancar radio.

Pada awalnya, gelombang radio dibutuhkan. Namun akhirnya, gradien listrik yang ada di sepanjang membran sel berhasil dimanfaatkan untuk menghidupi pemancar radio selama 5 jam. Tes membuktikan bahwa pendengaran si babi Guinea tak terpengaruh.Pengembangan masih diperlukan. Alat berfungsi baik pada jangka pendek tetapi ada konsekuensinya di jangka panjang, alat bisa merusak sensitifitas sel telinga. maka tantangan ke depannya pengembangan elektroda akan lebih kecil.

Stankovic menuturkan, apa yang dilakukannya adalah bukti bahwa energi dari makhluk hidup belum dipertimbangkan. “Pandangan yang sangat futuristik adalah, kita mungkin bisa mengekstrak energi dari sel masing-masing individu dengan desain yang sama.”

Nah, jika Stankovic melihat telinga manusia berpotensial menghasilkan listrik  lain halnya dengan para TIM ilmuwan Amerika Serikat (AS) dan Kanada berhasil membangun sebuah alat pembangkit listrik yang cukup unik.

Terinspirasi dari aktivitas manusia yaitu berjalan, Arthur Kuo insinyur mekanik University of Michigan  pun mengatakan tubuh manusia mampu menghasilkan listrik saat berjalan dan lutut adalah tempat yang baik sebagai penghasil listrik dan sangat disesalkan jikalau tidak memanfaatkan aktivitas itu.

Oleh karena itu alat pembangkit listrik melalui dengkul pun dikembangkan. Jadi alat itu dipasangkan pada lutut manusia dan dapat membangkitkan listrik saat berjalan. Nah, ketika dikenakan dan dipakai untuk berjalan selama satu menit, alat telah dipasang itu dapat menyupai energi, contohnya untuk sebuah ponsel selama 10 menit. Jika sepasang alat digunakan bersama-sama pada masing-masing kaki, pengguna bisa menghasilkan listrik sekitar 5 watt dengan berjalan santai pada kecepatan sekitar 3,5 km per jam.

Namun sayang, alatnya ini termasuk berat karena satu alat membangkit listriknya saja berbobot 1,6 kg Tim peneliti pun bekerja lebih keras lagi untuk memangkas bobot alat itu. “Prototipe kami masih terlalu berat dan besar dan saya yakin kami akan mampu membuat alat yang lebih kecil dan praktis,” kata Arthur Kuo. (berbagai sumber)