Catatan Kata Kelana

Dengan Smartphone Permudah Bercinta?

tumblr_m7850m9Wpf1r3a6jho1_500

Pernah kah Anda memikirkan atau membayangkan kerterkaitan hubungan antara menggunakan smartphone dengan aktivitas seks. Hmm jika pernah, berarti apa yang Anda bayangkan tersebut sama seperti isi penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari Universitas Southern California, AS.

Mengapa? Karena belum lama ini para peneliti dari universitas itu mengeluarkan hasil penelitian yang diungkapkan dalam pertemuan tahunan America Public Health Association, menyebutkan antara telepon cerdas atau yang biasa disebut smartphones ini mempunyai hubungan dengan aktivitas seks.

Kaum muda yang memiliki telepon cerdas memiliki kemungkinan bercinta dengan teman yang ditemuinya via online melalui pesan mesra dan seksi atau dikenal dengan istilah sexting, begitu kesimpulannya. Lebih dari dua kali lebih mungkin untuk terlibat dalam hubungan seks dengan orang yang mereka temui secara online ketimbang mereka yang tidak memiliki akses.

Mengejutkan dan memang, hasil penelitian itu didasarkan pada hasil survey yang dilakukan pada tahun ajaran 2010 hingga 2011 terhadap 2.000 siswa berusia 12 sampai 18 tahun di sekolah menengah atas di California, Amerika Serikat. Survei itu menanyakan pertanyaan tentang didekati secara online untuk seks, mencari pasangan seks online, berhubungan seks dengan pasangan secara online, menggunakan kondom dengan mitra tersebut, dan tentang penggunaan teknologi, terutama smartphone.

Dari hasil itu didapatkanlah data sebanyak 17 persen dari mereka pernah didekati untuk berhubungan seks oleh teman-teman yang dikenalnya dari dunia maya dan 5 persen dari mereka mengaku menggunakan Internet untuk mencari pasangan seks.

Keterkaitan itu sifatnya tidak secara langsung seperti halnya mengajak bercinta wanita yang mangkal di jalanan, namun peneliti Eric Rice dari School of Social Work, Universitas Southern California mengatakan smartphone mempermudah mereka untuk melakukan hubungan seks melalui pesan mesra dan seksi lewat gadget atau dikenal dengan istilah sexting. “Teknologi ini tidak menciptakan masalah, tetapi dapat memfasilitasi perilakunya,” kata Rice.

Rice sebelumnya pernah melakukan penelitian tingkat partisipasi pada remaja menunjukkan hasil yang sama. Kala itu, penelitian ini mencermati para responden yang sebagian besar remaja keturunan latin hispanik. Sebanyak 87 persen diidentifikasi normal dan hampir tiga perempatnya dilaporkan memiliki ponsel dan menggunakannya setiap hari untuk itu.

Kendati begitu, Rice menginginkan orang tua untuk tidak panik karena mereduksir hal-hal semacam ini peranan orang tua perlu ditingkatkan seraya memonitor setiap perilaku anak-anaknya dalam menggunakan internet atau pun smartphon. “Saya pasti tidak membenarkan sexting di kalangan remaja mana pun. Akan tetapi, kita perlu memahami hubungan dan perilakunya. Yang paling utama adalah orangtua harus mendidik anak-anaknya dengan baik dan menegaskan sebuah konsekuensi,” ujar Patchin.

Rice pun menekankan bahwa program pendidikan seks itu penting, termasuk diskusi risiko hubungan seks online. Orang tua harus berkomunikasi kepada anak-anak soal kesehatan seksual dan penggunaan teknologi.

Setali tiga keping, Shari Kessel Schneider, peneliti senior di Pusat Pengembangan Pendidikan di Newton, Massachusetts mengatakan pemuda yang melakukan sexting mungkin membutuhkan pendidikan tambahan dan bimbingan yang berkaitan dengan seksualitas remaja, serta bertanggung jawab dalam menggunakan internet.

Smartphones dan Seks Tak Ada Hubungannya
Kendati begitu, nada sedikit berbeda dilontarkan oleh David Finkelhor, Direktur dari University of New Hampshire Kejahatan Terhadap Anak Pusat Penelitian yang mempertanyakan temuan itu. Dia mengatakan pemuda dengan smartphone bisa berhubungan seks lebih karena berbagai alasan yang tidak ada hubungannya dengan smartphone,

Direktur ini lebih cenderung menilai pemuda dengan dengan mobil lebih cenderung melakukan hubungan seks terlalu, penelitian ini pasti akan disalahartikan sebagai argumen untuk membatasi akses smartphone Penelitian ini juga tidak membuktikan bahwa smartphone dan aktivitas seksual yang terhubung, atau melihat apakah menjadi aktif secara seksual bisa membuat anak-anak lebih cenderung untuk menggunakan smartphone dan bukan sebaliknya.

Adapun gagasan bahwa menemukan pasangan seksual pada internet bisa berbahaya, Finkelhor mengatakan “tidak ada penelitian yang saya tahu yang menunjukkan bahwa itu adalah berisiko untuk mencari pasangan seksual di Internet daripada di tempat lain. Bar dan mungkin lingkungan jauh lebih berisiko” kata dia. (berbagai sumber)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 21 November 2012 by in science.
%d bloggers like this: