Tanpa disangka bahwa sebuah tahun mempunyai suatu arti sendiri bagi suatu perkembangan musik, terbukti bahwa di tahun 1967 banyak terjadi peristiwa penting dalam dunia permusikan di dunia maupun di Indonesia. Hal-hal esensial apa saja yang terjadi di tahun tersebut. Tulisan singkat ini akan mengupas sedikit mengenai hal-hal penting yang terjadi di tahun itu.

koes-rekor

Sebagai catatan pembuka, tercatat bahwa pada tahun 1967 terjadi pergantian rezim pemerintah di Indonesia dari pemerintahan Soekarno ke pemerintahan Soeharto MPRS memberhentikan Soekarno dari jabatannya sebagai Presiden dan mengangkat Soeharto sebagai penggantinya dan di tahun itu pula juga terjadi apa yang dinamakan itu sebagai “politik pintu terbuka” di bidang ekonomi yaitu pemberlakuan UU tentang Penanaman Modal No.1 /1967 modal asing masuk ke Indonesia dan implikasi logis dari kebijakan tersebut adalah adanya kenyataan turut masuknya ‘budaya asing’ ke Indonesia yang membuat semakin puspa ragamnya aspek kehidupan sosial di Indonesia, tidak terkecuali dalam ranah musik popular.
Tahun 1967 merupakan tahun terbentuknya grup musik AKA. Grup ini dalam perkembangannya nanti pada decade 1970-an banyak mempertontonkan aksi panggung yang teatrikal yang belum dipertunjukkan sebelumnya oleh para musisi pribumi mana pun dan menjadi sesosok grup musik fenomenal yng tercipta hanya pada decade itu. Ekistensi AKA di panggung musik rock domestik era 1970-an tidak bisa dipandang remeh. Bahkan, AKA yang dibentuk di Surabaya, 23 Mei 1967, dapat dianggap sebagai “pelopor” musik rock di Tanah Air. Popularitas mereka waktu itu hanya bisa dikalahkan oleh grup-grup legendaris seperti Koes Plus atau Panbers.
Para penonton selalu berjubel di setiap pementasan AKA. Artis film Roy Marten dan Hendra Cipta konon pernah mengaku harus menjual celana jins hanya karena ingin menyaksikan pentas AKA. Seorang anak di pelosok desa di Bali sejak kecil dipanggil dengan “Ucok” hanya lantaran ia berambut kribo. Itulah kira-kira gambaran betapa sekitar tahun 1970-an Ucok bersama AKA benar-benar menyihir masyarakat.

The Rollies, grup musik pioner jazz rock indonesia terbentuk walaupun embrionya muncul pada 1965 dari band yang dibawa Deddy Stanzah dan band Delimas yang beranggotakan Delly (gitar), Iskandar (gitar rhythm), dan Iwan Krisnawan (drum). Tahun 1967 lebih dimaksudkan bahwa Gito, penyanyi eksentrik dengan suara parau tapi melodius yang telah dipanggil oleh Tuhannya mulai bergabung dalam grup musik ini.

Mereka memainkan lagu-lagu yang sedang trend di zamannya, termasuk dari Jimi Hendrix, Cream, sampai The Monkeys. Pada tahun yang sama The Rollies merambah ke Singapura. Mereka bermain tetap pada acara Morning Show di Bioskop Capitol Singapura dan memulai dengan menyanyikan musik-musik rock Barat di atas pentas panggung pertunjukan. Pada 1969 bergabunglah Benny Likumahua memainkan saxofon. Sejak itu Rollies cenderung bermain jazz rock dengan orientasi ke musik jenis Chicago.

Masuk tahun 1970 Rollies memantapkan seksi tiup dengan Iskandar pada saxofon, Gito (trumpet), dan Benny Likumahua (trombon). Saat itu masuk Bonny Nurdaya pada lead gitar dan vokal. Posisi Deddy Stanzah, dan Iwan tetap pada bas dan drum. Satu catatan, kemampuan vokal personel boleh dikatakan merata. Mereka sering menampilkan harmoni vokal yang tertata apik. Waktu itu jazz rock belum lazim dan the Rollies berupaya mensosialisakan jazz rock dari penggung ke panggung musik nasional.

Pada tahun yang sama grup musik Koes Bersaudara setelah keluar dari penjara karena terkait isu subversif , masuk ke dalam studio rekaman dan mengeluarkan album To The So Called the Guilties yang cukup “keras” apabila dilihat dari ukuran zamannya. Koes Bersaudara di bawah label rekaman Dimita dan dengan didukung oleh alat-alat dan sound yang ketika itu tergolong baru menggebrak pasar musik pop Indonesia dengan memainkan irama rock ’n roll yang berani.

Koes Bersaudara dijadikan simbol perlawanan kaum muda terhadap kemapanan, terutama dari segi musiknya. Penampilan Koes Bersaudara seperti layaknya The Beatles dengan potongan rambut yang sebagian menutup kening, celana ketat, dan sepatu lancip dengan hak tinggi. Penampilan Koes Bersaudara di panggung ibarat kuda yang lepas dari kekangan dan konser-konser mereka di berbagai kota dipenuhi oleh histeria penonton.

Grup musik ini menggunakan beat-beat cukup keras untuk ukuran zamannya, dan beat-beatnya ini dapat didengar dari salah satu lagunya yang diciptakan pada tahun 1967 Seperti yang termuat pada album To The So Called the Guilties dengan lagu yang berjudul sama. Album ini merupakan buah perenungan mereka selama mendekam di dalam penjara dan album ini melambungkan hits; Di Dalam Bui, Mengapa Hari Telah Gelap dan Three Little Words.

Album ini pun masuk dalam peringkat 6 daftar 100 album terbaik sepanjang masa versi majalah Rolling Stones Indonesia. selain Koes Bersaudara menelorkan album To The So Called the Guilties tahun 1967 koes bersaudara mengeluarkan album jadikan aku dombamu Beberapa kalangan menganggap bahwa berdirinya grup musik Koes Bersaudara merupakan awal berkembangnya musik rock di Indonesia, namun ada beberapa kalangan kurang setuju mengkategorikan Koes Bersaudara dalam aliran musik rock karena dalam perkembangannya grup ini menciptakan musik lintas genre. Jenis musik apa saja, entah itu pop dengan berbagai jenis variannya,pop melayu, pop religi, dangdut, dan yang lainnya digarap oleh para jenius yang tergabung dalam grup musik ini

Sejak tahun 1967 The Flower Generation atau generasi bunga melancarkan protes anti-perang Vietnam di kampus-kampus di Amerika Serikat dan Eropa. Para Penyanyi Folk seperti, Bob Dylan dan Joan Baez mempelopori gerakan protes tersebut melalui karya-karya mereka yang mendalam, masing-masingnya melalui lagu Blowing in The Wind dan Bangladesh, begitu juga dengan protes anti-perang dengan slogannya War Is Over oleh John Lennon yang akhirnya melahirkan sebuah karya yang berjudul Imagine.

Tahun 1967 itu juga merupakan tahun berdirinya majalah fenomenal Rolling Stones di Amerika Serikat yang terus berkibar sampai detik ini dan telah melebarkan sayap invasi budaya musik populernya ke seluruh dunia. Di tahun 1967 mencatat beberapa album fenomenal yang tercipta, diantaranya adalah. The Beatles dengan albumnya Sgt Pepper Lonely Hearts Club Band dan Magical Mystery Tour-nya, The Rolling Stones dengan albumnya Between The Buttons dan Flowers, The doors stranges day, Jimmy Hendrix dengan albumnya Axis Bold as Love dan Are You Experienced, Jefferson Airplane Surrealistic Pillow, Grateful dead, The Byrds Younger Than yesterday, The Hollies Evolution, The Kinks Something Else by The Kinks, Procol Harum, Cream Disraeli gears, dan lain-lainnya. Untuk lebih lengkapnya baca artikel Rolling Stones edisi Agustus 2007 dengan judul 40 Essential Album Of 1967. (berbagai sumber)