dallas_am_radio

Abad ke-20 ditandai oleh revolusi teknologi komunikasi dan segala produknya yang bersifat massal dan beragam. Radio sebagaimana produk alat modernisasi lainnya, hanyalah gejala awal dari generasi alat-alat teknologi baru musik yang membongkar semua pintu-pintu penyekat seni bunyi dan melahirkan anak pertama dari peradaban budaya musik massa di dunia modern.

Radio telah menghapus jarak antara bunyi dengan orang, musik dengan pendengarnya, dan “membuka” telinga manusia selebar-lebarnya. Radio dianggap memiliki kekuasaan karena tiga faktor, yakni radio siaran yang bersifat langsung, radio siaran tidak mengenal jarak dan rintangan, dan radio siaran mempunyai daya tarik yang kuat.

Daya tarik ini disebabkan oleh sifatnya yang serba hidup, berikut tiga unsur yang ada padanya, yakni musik, kata-kata, dan efek suara. Pesawat radio yang kecil dan harganya relatif murah ini dapat memberikan hiburan, penerangan, dan pendidikan. Pendengar dapat memilih berpuluh-puluh frekuensi stasiun radio, baik di dalam maupun di luar negeri yang disukainya di antara berbagai macam hiburan kesenian nasional atau daerah, musik populer dan klasik.

Ketiga faktor inilah, yang menyebabkan radio diberi julukan “The Fifth Estate” atau kekuasaan kelima, setelah pers (surat kabar) yang dianggap sebagai kekuasaan keempat “The Fourth Estate”. Radio mempunyai tiga faktor daya tarik bagi para pendengarnya, yaitu musik, kata-kata, dan efek suara. Salah satu unsur hidup yang menjadi tulang punggung dari radio siaran adalah musik. Orang menyetel radio terutama untuk mendengarkan musik karena musik merupakan suatu hiburan.

Pada dekade 1950-an selain siaran radio RRI, radio-radio pemancar asing seperti Radio BBC London-Inggris, Radio ABC-Melbourne, Radio VOA Washington, Radio Moscow, Radio Peking-China, mulai bisa ditangkap di wilayah Indonesia. Sejak saat itu orang Indonesia secara ekstensif terserap ke dalam rebutan propaganda seni melalui musik radio dari Jakarta, Melborne, London, Washington. Musik menjadi lebih bersifat umum, langsung, terbuka. Musik yang semula hanya bisa didengar di kalangan terbatas, kemudian bisa dinikmati oleh siapa, kapan, dan di mana saja melalui radio.

Mengudaranya radio pemancar asing seperti yang disebutkan di atas memberikan referensi musical teranyar bagi para musisi Indonesia ketika itu kerena keterbatasan dari stasiun radio-radio lokal dalam memberikan suguhan musik mancanegara Terkait dengan kondisi politik tahun 60-an yang mengharamkan masuknya pengaruh musik Barat ke Indonesia karena dianggap sebagai sesuatu yang dekaden atau merusak, terlebih lagi apabila banyak remaja yang akan terbawa oleh pengaruhnya seperti yang dituduhkan oleh kalangan pemerintah ketika itu Info tentang The Beatles kemudian menjadi barang mewah yang hanya didapat oleh kalangan tertentu.

Musisi Abadi Soesman seperti yang penulis kutip dari majalah Musik Mumu mengatakan ia mengenal lagu-lagu The Beatles lewat siaran radio Australia. Sama halnya dengan Harry Roesly dalam sebuah artikel di koran Pikiran Rakyat yang mengatakan pada masa itu, tidak seperti sekarang ada MTV dan untuk mendapatkan piringan hitam saja sulit. Untuk mencari dan menghafalkan lagu-lagu terbaru dari The Rolling Stones atau Deep Purple, tak jarang harus mencarinya lewat Radio Australia dan Itu dilakukan dengan susah-payah.

Begitu juga Tony Koeswoyo dari grup musik Koes Bersaudara sedemikian seriusnya belajar memainkan gitar, ukulele, piano. Lagu-lagu Barat juga berusaha didengarnya dari corong radio ABC (Australia Broadcasting Corporation) maupun BBC (British Broadcasting Corporation) untuk menambah wawasan musiknya. Sama halnya dengan The Rollies, grup musik jazz rock yang terlahir di era ketika kran untuk musik rock telah terbuka. Seiring bergantinya situasi politik Indonesia pada pertengahan tahun 60-an. Mereka tumbuh ketika televisi belum menguasai blantika musik negeri ini. Referensi musikal masih terbatas pada piringan hitam (PH) dan harus rajin menyimak perkembangan musik Barat lewat radio Australia atau Voice of America (VOA).

Kenapa radio australia mungkin karena negara itu bertetangga dengan indonesia jadinya frekuensi nya dapat ditangkap di nusantara. selain itu juga timbul kebutuhan Setelah Indonesia merdeka untuk saling mengenal dan bekerjasama antara Australia dan Indonesia sebagai negara bertetangga. Untuk mewujudkannya, digunakan sarana radio yang dapat secara langsung digunakan sebagai salah satu media penerangan mengenai hal-hal yang terjadi di Australia, baik tentang kehidupan rakyat Australia maupun perkembangan negara ini di berbagai bidang, termasuk juga musik-musik populer. Radio Australia ini sendiri kali pertamanya mengudara dari studio Australian Broadcasting Commission (ABC), Sydney pada tanggal 20 Desember 1939, dengan pidato peresmian oleh Perdana Menteri Robert Menzies. Radio Australia Siaran Bahasa Indonesia (RASI) pertama kali mengudara pada tanggal 10 Agustus 1942.