Mengutip pernyataan dalam artikel yang beredar cukup luas di internet yang ditulis oleh seseorang yang sekarang duduk sebagai editor majalah musik terkemuka di Indonesia yang berjudul Sejarah Musik Rock Indonesia, ia mengatakan embrio kelahiran musik rock underground di Indonesia sulit dilepaskan dari evolusi rocker-rocker pionir dekade 70-an sebagai pendahulunya. Sebut saja misalnya God Bless, Gang Pegangsaan, Gypsy(Jakarta), Giant Step, Super Kid (Bandung), Terncem (Solo), AKA/SAS (Surabaya), Bentoel (Malang) hingga Rawe Rontek dari Banten. Mereka adalah generasi pertama rocker Indonesia.

images

Istilah Underground digunakan majalah musik dan gaya hidup pionir asal Bandung itu untuk mengidentifikasi band-band yang memainkan musik keras dengan gaya yang lebih `liar’ dan `ekstrem’ untuk ukuran jamannya. Padahal kalau mau jujur, lagu-lagu yang dimainkan grup musik tersebut di atas bukanlah lagu karya mereka sendiri, melainkan milik grup-grup luar negeri macam Deep Purple, Jefferson Airplane, Black Sabbath, Genesis, Led Zeppelin, Kansas, Rolling Stones hingga ELP. Tradisi yang kontraproduktif ini kemudian mencatat sejarah namanya sempat mengharum di pentas nasional.

Mengenai istilah musik Underground itu sendiri, menurut buku ensiklopedia musik yang ditulis oleh Yapi Yambayong, Underground diartikan sebaai suatu gerakan seni rock yang muncul di penghujung akhir dekade 1960-an. Underground sendiri hadir sebagai jawaban untuk musik yang mempunyai dua konteks, yaitu musik yang melawan arus komersial dan musik yang berani melakukan eksperimen bunyi dengan suara gegap gempita. Konotasi Underground menjadi semacam perlawanan terhadap trend musik yang berkembang pada saat itu. Contoh musisi luar negeri yang dikategorikan sebagai musisi underground antara lain: Frank Zappa, Grand Funk Railroad, Black Sabbath, Alice Cooper, dan sebagainya.

Underground merujuk pada jenis musik hingar-bingar yang dibarengi dengan berbagai atribut nonmusikal, seperti rambut gondrong, pakaian awut-awutan, serta atraksi panggung yang teatrikal dan sensasional. Bandingkan dengan Glamour Rock yang melanda musisi-musisi rock Indonesia. Ciri-ciri yang menonjol dari mode ini bisa dilihat dari dada di tattoo, dilukis dengan cat minyak yang berwarna-warni. Pipi dicoreng-coreng atau diberi pewarna, rambut dibiarkan terurai ke muka sampai bahu. Mode ini dapat dilihat dari Ternchem dari Solo, dalam salah satu pertunjukannya di Surabaya, seluruh pemain-pemainnya dicat dan memakai eye shadow, God Bless dalam pertunjukan musik Summer 28 seluruh pemainnya juga dicat dan berpakaian unik-unik dengan dihiasi warna-wana aneh.
Istilah underground dalam khasanah musik populer di Indonesia diperkenalkan kali pertama oleh majalah Aktuil. Istilah ini biasanya diidentikkan dengan grup musik rock.

Selain karena jenis musiknya, grup musik rock kerap kali menyajikan aksi-aksi dan gaya panggung yang tidak umum dalam pertunjukan musiknya. Band-band tersebut mengkhususkan dirinya dalam nada lagu yang keras, baik dalam pengungkapan orkestrasinya maupun dalam susunan melodinya yang memang menjauhi aliran nada-nada yang manis. Tidak banyak grup musik yang mengklaim dirinya sebagai pemusik underground itu.

Musik underground menurut seorang musisi Tony Koeswoyo dari Koes Bersaudara adalah suatu cetusan rasa terpendam secara ekstrim. Dengan kemajuan teknis elektris di bidang alat-alat musik, maka pemusik underground bisa mewujudkan kekesalan mereka dengan petikan-petikan gitar yang keras dan permainan amplifier yang menggelora. Kalau hal ini semakin berkembang, maka berdasar analogi kalau nanti timbul adanya intervensi gabungan antara rasa kekelasan dan kemajuan peralatan itu, maka mungkin akan bisa timbul musik yang lebih keras dari underground yang diperkirakannya bisa menggetarkan orang dalam syaraf-syaraf tertentu.

Grup AKA merupakan penganut musik aliran ini walaupun masih dalam tahap experimen. AKA mengikuti aliran underground karena aliran musik ini sesuai dengan jiwa dan corak dari masing-masing personilnya. Akan tetapi untuk menyesuaikan dengan publik atau penonton, dalam setiap pertunjukannya AKA tidak harus selalu menyajikan musik underground saja. Menurut pengertian AKA, musik underground adalah musik yang diciptakan oleh musisi yang luar biasa, sebab di dalam underground terlebur segala macam aliran musik. Grup AKA juga sanggup memainkan aransemen mulai dari keroncong sampai musik jazz yang berat. Dengan nada merendah AKA memang menganut underground atau “ngandergrond”, tetapi AKA bukan atau belum merupakan grup musik top underground Indonesia.

Benny Soebardja salah seorang personil dalam grup Rollies tentang musik underground mengatakan : “Saya mau membimbing masyarakat untuk mengenal musik yang saya bawakan. Dan musik yang saya buat menurut konsep saya berat ala underground. Sebab kalau saya teliti musik underground itu sebetulnya musik yang bermutu tinggi, secara langsung memang publik harus diberi musik baru yang mengandung kejutan-kejutan”.

Walaupun banyak yang mengatakan bahwa God Bless merupakan salah satu dari beberapa grup musik Indonesia yang masuk ke dalam kategori underground, namun hal ini menjadi terbantahkan, karena dalam salah satu wawancara Ahmad Albar dengan majalah Midi, ia mengatakan: “Kami rata-rata tak mengerti apa yang dimaksud dengan underground. Mungkin underground itu hanya musik hingar-bingar. Tapi God Bless tidak demikian. God Bless selalu berusaha menciptakan musik yang harmonis tanpa meninggalkan rock”.

Selain kedua grup musik di atas yang mengklaim atau pun yang diklaim sebagai pengikut aliran underground, Grup musik Freedom adalah jelmaan dari grup Rhapsodia yang beranggotakan enam anggota yang mengaku dirinya sebagai penganut aliran underground yang menjelajahi berbagai panggung pertunjukan di kepulauan nusantara ini. Tentang irama musik dari lagu-lagu yang berhasil direkam, Freedom masih dalam taraf mencipta suatu warna musik sendiri. Mereka tidak terlalu gegabah untuk menyebut dirinya sebagai grup yang telah tenar. Freedom terus berusaha untuk meningkatkan mutu dari lagu-lagu yang diciptakannya dan berusaha menyanyikan lagu-lagu yang bisa diterima oleh masyarakat.

Tidak semua grup-grup musik aliran musik ini menampilkan aksi dan gaya underground di dalam pertunjukannya, karena beberapa alasan, dan salah satu alasannya adalah adanya larangan-larangan dari Pemda, meskipun hal ini bertentangan dengan jiwa mereka sendiri yang bebas dan kreatif. Beberapa musisi merasa skeptis dengan ada tidaknya aliran musik underground di Indonesia. Di antara kesibukan penggemar musik membicarakan ada atau tidaknya aliran underground yang asli di bumi ini, Jon Karjono, pimpinan grup musik The Brim’s mengatakan bahwa sesungguhnya di Indonesia aliran ini belum ada. Kalau pun ada dalam suatu petunjukan dijumpai adegan-adegan seperti yang terjadi di Barat, sebenarnya hal itu hanyalah serupa dengan adegan pentas saja.

The Brims sebagai grup musik pun bersedia melakukannya asalkan hal tersebut diminta dan diizinkan oleh panitia yang mengundangnya. Hal senada juga diunggapkan oleh Heru Emka yang mengatakan bahwa aliran musik underground dalam konteks yang sebenarnya tidak pernah ada. Di Indonesia yang ada adalah aliran musik underground yang asli, tetapi palsu saja. ( berbagai sumber)