Kesan pertama saya setelah melihat seonggok barang yang terpajang di ruang tamu salah satu kolektor asal Semarang ini adalah aneh sekaligus unik. baaimana tidak Ini adalah Momen perdana pertemuan saya dengan sebuah benda berbentuk kotak bercorong yang dapat bersuara lantang, ya sebuah kotak musik ajaib revolusioner yang telah membuka telinga dunia itu merupakan sebuah Gramaphone tua.

gramophone

Kotak itu tidak dapat bersuara apabila tidak ada piringan hitam, Ia pun kemudian mengeluarkan sebuah piringan hitam dari rak-rak yang tersusun rapi yang terletak di bawah koleksi kasetnya yang berjumlah ribuan. Tak lama kemudian ia membunyikan gramaphone itu dan terdengarlah suara nyanyian kuno dari seorang penyanyi tahun 60-an.

Kondisi fisiknya memang sudah renta tetapi suara yang keluar masih terdengar jernih di telinga, kesan kembali ke tahun 60-an benar-benar terasa disaat ia menggencangkan volume suaranya di malam hari yang buta.
Terlebih lagi ketika ia kemudian memutarkan sebuah lagu yang pernah dilarang waktu di zaman Orde Baru yang berjudul gencer-gencer. Bulu kuduk ini sempat merinding jadinya apalagi media yang digunakannya adalah sebuah gramaphone tua. Fantasi pun menerawang ke kenangan pada suatu peristiwa pilu yang meninggalkan luka yang cukup dalam bagi mereka yang pernah merasakan kejamnya hidup pada masa itu.

Saat ditanya bagaimana dia bisa mendapatkan player yang sudah uzur ini “Gramaphone ini saya cari di sekitaran semarang saja, tidak di tempat lain” kata dia. Gramapohe yang dimilikinya diproduksi pada kisaran tahun 1940-an. Prestasi tersendiri bagi barang produksi lawas yang bisa bertahan menembus beberapa dekade waktu tapi masih dalam kondisinya yang prima. Dia menambahkan sudah sangat jarang sekali barang-barang seperti ini dijual di toko-toko dan faktor kebetulan kadang-kadang menjadi hal yang menentukan. “Saya lupa berapa harganya waktu saya beli” kata dia.

Pernah suatu ketika waktu saya berkunjung ke kota Solo tepatnya di pasar Gladak di kawasan pasar klewer dekat keraton Surakarta. Di sebuah kios yang khusus menjual aneka macam barang-barang kuno, semisal kaset, buku-buku, majalah, dan yang lainnya, di tempat itu juga terdapat gramaphone yang masih dalam kondisi yang lumayan baik. Barang yang ditawarkannya itu menembus angka satu juta rupiah dan barangnya ini ada sesuai karena pesanan dari pembeli, jadi tidak serta merta pedagang itu menjual dan memajangnya di lapaknya. “ Barang ini sudah ada yang pesan, Mas” kata pedagang itu.

Gramaphone mula-mula diciptakan oleh Charles Cros (1842-1888), seorang penyair dan ilmuwan Perancis. Dia melukiskan idenya dalam surat bersegel yang diserahkan kepada Akdemi Ilmu Pengetahuan Perancis pada tanggal 30 April 1877. walaupun demikian realisasi penciptaanm pesawat yang dapat dipakai untuk kali pertamanya dicapai oleh Thomas Alva Edison (1847-1931)dari Amerika Serikat. Mesin yang pertama kali sukses dibuat oleh mekaniknya, John Kruesi pada tanggal 4-6 Desember 1977. didemontrasikan pada tanggal 7 Desember dan mendapat hak paten pada tanggal 19 Februari 1878. Pita berisi rekaman untuk pertama kali dipasarkan oleh recording Associates di New York City, AS pada tahun 1950-an.

Alat perekam suara pertama yaitu Phonoautograph penemuan Leon Scott telah ada sebelum Phonograph penemuan Thomas Alpha Edison yang digunakan untuk mempelajari gelombang suara pada tahun 1857. namun alat tersebut tidak digunakan untuk mereproduksi hasil rekaman tersebut. Phonograph diciptakan seiring dengan pengembangan perangkat telephone pada tahun 1870an dan pada saat itulah Edison mendapat ide untuk mencetak pesan telephone di atas kertas berlapis wax manggunakan alat electromagnetics. Setelah penemuan tersebut, bermunculan alat perekam lain seperti Graphophone dan perusahaan lain yang membuatnya.

Pada tahun 1894, Emir Berliner mencetuskan ide untuk mencetak suara di atas piringan dan bukan silinder dengan alasan lebih mudah direproduksi. Ide piringan inilah yang berkembang menjadi disc yang kita kenal sekarang ini. Phonograph dan alat perekam lainnya adalah alat mekanik sampai tahun 1920 dikembangkan player dengan built in speaker yang mengizinkan pmutaran hasil rekaman dapat lebih keras volumenya. Hingga akhir perang dunia II, phonograph atau dikenal juga dengan Gramaphone adalah satu-satunya alat perekam dan playback yang umum digunakan ketika itu. Tetapi kini zaman mulai berubah. Gramaphone sekarang hanya dimiliki oleh segelintir orang dan terselip diantara barang-barang kuno lainnya. Tetapi bukti bahwa teknologi gramaphone itu tak lekang digerus sang waktu dan masih tegar berdiri itu dan masih terpampang di salah satu sudut ruang tamunya. ( berbagai sumber)