Lucky_Luciano_mugshot_1931

Mau dibilang penjahat tapi kok baik, mau dibilang baik kok penjahat. Ya agak sedikit bingung juga menempatkan para tokoh dibawah ini kedalam golongan apa. Mereka dituding melakukan tindakan criminal tetapi disaat yang bersamaan mereka juga bertindak mulia kepada masyarakat.

Ya contohnya, tokoh kita yang satu ini John key. Publik sekarang pasti tidak ada yang tahu sosok manusia yang bikin geger berita beberapa waktu yang lalu. Agak sedikit janggal juga sih memang apabila mengatakan dia adalah preman. Wong para kerabatnya tak ada yang sepakat bilang bahwa dia adalah preman, alih-alih mengatakan biar masyarakat sendiri yang menilai, kan penilaian itu datangnya bukan dari kami, kata salah satu kerabatnya.

Jon kei tersangka yang didor timah panas di salah satu kamar hotel di kawasan cempaka putih ini, diduga terlibat dalam pembunuhan Bos Sanex Steel memang dikenal dengan perangainya yang keras. Ia diduga juga terlibat dalam serangkaian aksi kekerasan melawan kelompok “preman” lainnya. Tewasnya basri sangaji juga melibatkan kelompok kei, walau dari pihak kei sendiri menyangkalnya bahwa kelompoknya terlibat. Tapi apa lacur stigma yang terbentuk dan bukti dari pihak kepolisian mengarah kepada john kei dan kelompoknya. Hanya saja, orang-orang belakang john kei begitu tangguh dan sadar hukum, sehingga John kei lolos dari jeratan hukum.

Namun terlepas dari itu semua, pribadi john kei tanpa dinyana memiliki sifat kedermawanan yang tak lupa akan kampung halamannya. Dia sering pulang kesana untuk membangun desa kelahirannya di Maluku. Beserta dengan kerabat lainnya, ia bnayak terlibat dalam pembangunan gereja dan mesjid. Jelas pulang bukan tanpa tujuan, dan entah juga apa maksudnya? Apakah mungkin karena kebetulan john kei sendiri adalah pemeluk agama nasrani yang taat dan merasa berkewajiban untuk membantu sesama penganutnya atau yang lain dan memberikan sumbangan kepada mereka yang membutuhkan?

Atau mungkin karena dia merasa dirinya sudah cukup berdosa dengan apa yang telah dilakukannya selama ini,, dan untuk menebusnya dia harus lebih mendekatkan diri kepada penciptanya? Itu bisa saja. Hanya saja, asalkan dia melakukan itu bukan untuk mencuci uangnya dengan sesuatu yang lain, nah ini baru lain cerita.

Ok memang bukan John kei saja yang melakukan hal ini. Berabad-abad yang lalu kita pasti sudah tahu dengan Robin Hood, ya pangeran pencuri yang pernah beberapa kali diangkat di layar lebar, dari yang bintangnya Kevin Costner sampai Russel Crowe. Di film pertamanya digambarkan dia melakukan kejahatan dengan mencuri alih-alih dengan tujuan yang baik pada akhirnya.

Dia mendermawakan sebagian harta rampasan kepada kaum tak punya. Jadilah dia sosok penjahat yang baik dan murah hati,masyrakat pun mengelu-elukan bak seoarang pahlawan. Robin melakukannya karena melihat kesewenangan2 yangh dilakukan oleh pejabat local, sebagai bayarannya harta pejabat hasil “rampasan” itu harus dikembalikan ke rakyat.

Beratus-ratus tahun kemudian, ada pula Al Capone, gangster legendaries dari tanah Chicago yang diringkus lantaran kasus pajaknya ini juga banyak mendermawakan harta kekayaan hasil bisnis haramnya kepada orang-orang yang membutuhkan. Disaat yang bersamaan memang kondisi perekomian di Chicago lagi carut marut. Namun Al Capone justru melihatnya itu sebagai suatu keuntungan untuk membangun pencitraan yang bagus tentang dirinya di masyarakat. Masyarakat pun menilai Al Capone adalah sosok dermawan yang juga menjadi “juru selamat” di Chicago.

Ada lagi gangster legendaries yang bernama Charlie Luciano atau yang akrab disapa Lucky Luciano . Pada usia dini Luciano ini telah membuktikan dirinya sebagai seorang penjahat kreatif di Lower East Side dan akhirnya menjadi seorang pembantu penting kejahatan bos Joe Masseria yang terlibat dalam perang dengan kejahatan bos saingan Salvatore Maranzano selama tahun 1920.
Singkat cerita, dalam usia tuanya, setelah dideportasi ke Italia, Lucky Luciano pun menjadi seorang pria yang baik,dan banyak membantu Italia sebelum ia mendirikan toko peralatan medis yang juga salah satu bisnis ilegalnya.

Sama halnya dengan Christopher “Dudus” Coke, di Amerika Serikat dia dikejar-kejar aparat berwenang karena predikatnya sebagai gembong obat bius yang meresahkan. Tetapi di tanah kelahirannya, di negeri reggae dia adalah sang juru selamat. Bagi warga Kingston Barat dan St Andrews, keduanya berada di Jamaika, tepatnya di ibu kota Kingston, masyrakat lebih mengenalnya bukan sebagai gembong narkoba tetapi dikenal sebagai Zorro, sang penyelamat kaum tertindas.

Dudus yang juga pemimpin geng Posse shower adalah “ayah yang sebenarnya” bagi warga yang miskin dan menganggur. Ketika masyarakat membutuhkan bantuan dan makanan, Dudus dengan cepat membagi-bagikan uang kepada mereka. Dengan begitu, wajar apabila masyarakat yang menganggapnya sebagai “ayah” bahu-membahu melindungi Dudus sewaktu dikepung sama polisi dan tentara. (berbagai sumber)