Catatan Kata Kelana

Klub Malam Dan Tarian Telanjang Era Dulu

Houston-s-Club-Coppia-Night-Club_6337351445061240804

Wow!! ternyata keberadaan klub malam atau nite club lengkap dengan para penari eksotisnya di ibukota iini sudah ada sedari dulunya. Terbukti dari beberapa tulisan yang dapatkan dari beberapa majalah hiburan terbitan awal tahun 70-an.

Yup, beberapa tahun yang silam ketika kota Jakarta baru mempunyai beberapa mite clubn, seperti Miraca, LCC, dan Nirwana, orang yang dapat menikmati tarian striptease masih terbatas jumlahnya karena harganya masih terlalu tinggi. Hanya mereka yang digolongkan dengan istilah cukong dan penggede saja yang menjadi langganan niteclub.

Dalam perkembangannya geliat itu semakin bergairah manakala adanya kesempatan baik bagi pengusaha-pengusaha niteclub yang lambat laun mendirikan club-club malam di ibukota. Banyak cukong-cukong yang merasa iri melihat rekan-rekannya maju pesat dengan usaha nite clubnya. Mereka pun lantas mencoba mengadu peruntungan.

Banyaknya niteclub, di samping terbuka kesempatan bekerja bagi ratusan hostess, pun penari-penari striptease dari luar negeri didatangkan silih berganti. Mulai dari stripper asal Negeri Paman Sam, Eropa sampai akhirnya penari-penari dari Hongkong, Korea Selatan dan Jepang pun hadir untuk menghibur para pengunjung nite club disini.

Ditambah lagi seperti penulis kutip dari Majalah Varianada, Gubernur DKI saat itu Ali Sadikin mengatakan dengan adanya niteclub yang dapat menghidupi 5000-an orang, “Saya kira saya dapat pahala dan pahala itu saya kira lebih tinggi dari maksiat” kata bang Ali.

Dan seperti jamur di musim penghujan, bergelimanglah Jakarta dalam arus klub malam. Dibawah sorotan spot light yang berwarna-warni, penari-penari tersebut mencoba memberikan ransangan kepada penonton atas keindahan tubuh yang dimilikinya.

Mereka memperlihatkan apa saja yang mungkin memikat penonton. Mulai dari tubuh yang montok,pinggang langsing yang menggeliat, pinggul yang tebal padat sampai pada paha serta betis yang membunting padi.

Pada mulanya tontotan tersebut berhasil memberikan kehangatan kepada sebagian pengunjung nite club apalagi bagi mereka yang baru mulai menginjak kedewasaannya. Pertunjukan tersebut benar-benar merupakan test case untuk mengenal bentuk tubuh seorang cucu hawa.

Tetapi persoalannya tidak sampai disitu, bagaimana kalau mereka ingin merasakan setelah menyaksikaan tarian yang merangsang itu? Untuk itu hostes-hostes telah disediakan meskipun tugas mereka hanyalah untuk menemani pengunjung melantai. Ramai tidaknya niteclub itu tergantung dari kehadiran hostes-hostes cantik yang masih mulus.

Pada awal tahun 1973, di Jakarta sudah tercatat sudah tercatat 32 nite club. Terakhir dibukanya Golden Garter yang menempati ruang bawah tanah dari gedung President Theater. Pada malam resepsinya, dua orang penari striptease menghidangkan tariannya yang cukup hot.

Menurut peraturan pemerintah DKI kala itu, para penari itu boleh top-less tapi bottom less tidak dizinkan. Namun kabarnya ada beberapa nite club yang melanggar peraturan diatas dengan menyuguhkan tarian polos sama sekali. Ketelanjangan memang perlu untuk mendongkrark jumlah para pengunjung karena tarian-tarian yang disajikan lama-kelaman membosankan.

Selain itu untuk mensiasati agar nightclubnya laku. Para pemilik nightclub pun cari akal dengan menyediakan “box-box” yang terdiri dari kamar-kamar yang tertutup lengkap dengan tempat tidur dan batal. Beberapa pemilik night club tak jarang menyuruh supaya penari-penari itu ‘ngedance’ sejorok mungkin dengan membuka seluruh pakaiannya.

Sontak melihat banyaknya niteclub yang kelewat batas menyuguhkan tari eksotisnya, Pemda DKI pun bereaksi akan mencabut izin niteclub yang bandel bila terbukti menyajikan tarian yang seronok yang betul-betul telanjang. Itu di Jakarta, geliat niteclub ternyata tak berhenti disana saja, tapi juga merambah ke Cirebon.

Munculnya tempat-tempat hiburan di kota itu lebih kepada faktor keuangan. Penduduk cirebon terutama warga keturungan tionghoa yang kebanyakan dari mereka adalah pengusaha-pengusaha besar, berdagang secara besar-besaran dan sering modar mandir ke Jakarta. Mereka pun secara royal untuk mentraktir para pegawai dan rekanan mereka yang menguntungkan. Itulah sebabnya niteclub dan bar di kota-kota itu hidup dengan subur.

Pemdanya sendiri mengambil keuntungan dari sektor ini, yaitu pajaknya tentu saja. “darimana biaya pemeliharaan jalan dan perbaikan kampung? Kalau tidak dari sini” kata pegawai Pemda. Namun tidak selamanya niteclub itu dapat bertahan, banyakdari klub-klub malam di Jakarta akhirnya itu gulung tikar.

Satu-satu bersembunyi di balik gembok yang besar seraya mendendangkan kenangan manis waktu sedia kala masih jaya. Factor penyebabnya banyak, antara lain karena meletusnya peristiwa 15 Januari, persaingan usaha, faktor hanya coba-coba mengadu nasib, gaya hidup sederhana pak Presiden waktu itu dan yang lainnya. (berbagai sumber)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 31 October 2012 by in Celotehan Kecil.
%d bloggers like this: