154785_1490643661712_4095515_n

Pernah suatu hari saat mbahnya main ke rumahnya, mbah itu berkata kepada Alya cucu satu-satunya yang ngomong-ngomong sendiri di sudut ruang tamu. “Alya ngomong sama siapa, kok mbah gak bisa lihat temannya”. Alya yang berumur 3 tahun itu pun bilang dirinya sedang bermain dengan Ayib. Nah, dibuat heranlah mbahnya itu, lalu si mbah bilang sekarang Ayibnya lagi ada dimana. “itu ada di balik pintu” kata Alya. Semakin tak karuan kebingungan mbahnya.

Mbahnya heran namun orang tua Alya tak mau ambil pusing dengan kelakuan putri pertamanya itu. Malahan untuk menyenangkan hati si anak, mereka justru membelikan anaknya sebuah HP mainan. Alih-alih, menurut orang tuanya agar Alya bisa terus komunikasi jikalau dia tidak berada di rumah.

Dan itu terbukti saat Alya berkunjung ke rumah mbahnya selang beberapa hari kemudian dengan menenteng-nenteng HP pemberian orang tuanya. Alya sempat berkata-kata dengan bahasanya yang tidak lancar “halo-halo Ayib-ayib ada dimana, alya di rumah mbah ini”, kata dia sambil mengengggam HP-nya.
Itu Alya, ada lagi Doni bocah lelaki 4 tahun, teman orang tuanya yang juga mempunyai pengalaman yang sama dengan Alya. Menurut orang tuanya, Doni ini punya teman khayalan bernama Dana. Pernah pada suatu ketika saat rumahnya kedatangan tamunya di siang hari. Yah, namanya juga tamu pasti dipersilahkan masuk dan duduk di ruang tamu si mpunya rumah.

Saat tamunya ingin duduk, tiba-tiba Doni berseloroh “om, jangan duduk disitu” kata dia. Kenapa? tanya si om, doni pun bilang, “ ntar dana bisa ketindihan sama badan om” katanya. Tamu itu heran, lantas ditanyakanlah siapa Dana kepada orang tua anak itu. Tanpa panjang lebar namanya juga anak-anak, kata orang tuanya Doni dan mereka pun mempersilahkan tamunya itu untuk duduk di kursi sebelahnya.

Nah, bagi Anda yang pernah menyaksikan film horror Pranormal Activity 3 tentu tidak asing lagi dengan sesosok makhluk yang tak nampak yang menjadi musuh yang menteror seluruh keluarga itu. Akan tetapi lain di film lain pula dengan dunia kenyataan, pasalnya teman khayalan seperti temannya Alya dan Doni itu ada lantaran daya imajinasi mereka terkadang melebihi anak sebayanya. Hal ini menurut beberapa penelitian yang pernah meneiliti soal teman bayangan atau khayalan.

Penelitian mengenai teman khayalan pada anak pernah dilakukan Paula Bouldin dan Chris Pratt (1999) dan menunjukan hasil yang menarik. Ternyata menurut penelitian itu dari 80% anak yang menjadi responden penelitian merasa senang atau bersemangat ketika sedang bermain dengan teman khayalannya (Feist & Feist, 2006). Kecemasan bahwa mereka akan sulit membedakan khayalan dengan kenyataan dikandaskan oleh penelitian Bouldin & Pratt pada tahun 2001.

Meskipun anak yang menciptakan teman khayalan memiliki daya imajinasi lebih, namun di keseharian, mereka tidak menjadi lebih penakut dibandingkan anak tanpa teman khayalan ketika dihadapkan dengan bayangan-bayangan visual yang ambigu.

Intinya, mereka merespon bayangan-bayangan seperti setan, monster, bahkan peri, sama dengan anak lainnya. Dengan menggunakan data sampel yang sama, pada tahun 2002, Bouldin, Bavin, & Pratt menemukan bahwa kelompok anak dengan teman khayalan ternyata memiliki kemampuan bahasa yang relatif lebih matang. Data tersebut membuktikan adanya perkembangan kemampuan sosial kognitif yang lebih cepat.

Sebagai kesimpulan, berdasarkan penelitian-penelitian di atas, teman khayalan pada anak bukanlah merupakan tanda kelainan psikologis atau kompensasi dari rasa kesepian anak. Bahkan, anak usia pra sekolah dan sekolah yang memiliki teman khayalan cenderung lebih kreatif, imajinatif, pintar, dan mudah bersosialisasi (Feist & Feist, 2006). Nah, bagaimana dengan anak Anda? (berbagai sumber)