brain

Teknologi Implantasi komputer dalam otak manusia sudah berkembang, tapi tersandung persoalan. Kontroversi pun muncul dari sekelompok Ilmuwan yang tergabung dalam Dewan Nuffield yang pada Maret 2012 ini meluncurkan debat etika soal cangkok komputer dalam otak.

Yup, mungkin manusia setengah mesin alias cyborg yang banyak kita jumpai dalam film-film laga ala Hollywood mungkin akan ada di masa depan. Alih-alih ingin menghasilkan superman alias manusia super, kini telah berkembang teknologi baru implantasi komponen komputer dalam otak.

Hadirnya seperangkat komponen Komputer di otak manusia ini nantinya diharapkan manusia memiliki tingkat konsentrasi yang tinggi dalam berpikir. Dan tak tanggung-tanggung pula dengan komputer di otaknya, manusia diharapkan bisa juga mengendalikan senjata hanya dengan pikirannya.

Teknologi brillian nan baru ini memang sudah dikembangkan dalam bidang kesehatan. Bahkan sudah mencapai beragam tahapan pengembangan-pengembangan untuk keperluan pengobatan penyakit, misalnya parkinson, depresi dan stroke.

Syahdan, para ahli kedokteran pun menaruh harapan pada pengembangan baru ini untuk pasiennya yang menderita kerusakan otak berat. Para ahli itu memperkirakan teknologi ini dapat membawa manfaat medis yang signifikan, terutama kepada mereka yang terkena dampak parah oleh penyakit saraf atau memiliki cedera otak yang parah.

Hal itu diamini oleh Profesor Baldwin, seorang profesor filsafat dari Universitas York yang tak menampik jelas ada beberapa teknologi pencakokan komputer dalam otak memiliki potensi besar bagi kemanusian dan kesembuhan pasien. “Bayangkan orang yang cacat dan tidak dapat berbicara bisa mampu bergerak secara independen melalui sebuah kursi roda yang dikendalikan pikiran atau berkomunikasi melalui suara komputer”, tutur dia.

Senada dengannya, Kevin Warwick, profesor Sibernetika dari University of Reading mengatakan beberapa teknologi eksperimental otak memang memiliki potensi besar dalam kedokteran. “Dari sinyal otak, antarmuka komputer otak bisa menerjemahkan keinginan seseorang untuk bergerak dan kemudian menggunakan sinyal tersebut untuk mengoperasikan kursi roda atau bagian lain dari teknologi,” katanya sang Profesor.

Kendati begitu, pencakokan itu memang baik di bidang kesehatan namun tidak dalam bidang militer. Profesor Baldwin berkata pencakokan itu justru akan menimbulkan masalah yang mengerikan apabila teknologi ini berkembang di luar bidang kesehatan. Pasalnya, di bidang militer, penerapan otak-komputer dapat digunakan untuk pengembangan senjata yang dapat dikendalikan dengan sinyal otak. Salah-salah otak manusianya lagi error, senjata itu justru dapat digunakan untuk sesuatu yang destruktif.

Tapi untungnya untuk aplikasinya di bidang militer, seperti remote control kendaraan dan mesin memang belum digunakan secara luas dan sedang diteliti dan diujicobakan. Akan tetapi beberapa BCI (brain-computer interfaces) yang sifatnya komersial perkembangannya sudah ada di pasar.
Namun di sisi lain di bidang industri game misalnya, teknologi ini bisa menjadi riset penting lantaran ada ruang komersial besar di industri game dengan perkembangan permainan komputer yang dapat dikendalikan oleh pikiran orang.

Garis Batas manusia dan mesin menjadi kabur
Hanya saja implantasi komputer dalam otak ini mendapat tentangan dari sudut etika yang kini sedang hangat diperdebatkan oleh sekelompok ilmuwan di Inggris yang tergabung dalam Dewan Nuffield.Thomas Baldwin, pimpinan dewan itu berkata mengintervensi otak selain memang meningkatkan harapan bagi kemanusian, tetapi juga menimbulkan ketakutan tersendiri. Alih-alih berharap dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit berbahaya, akan tetapi timbul ketakutan akan konsekuensinya dalam meningkatkan kapabilitasnya manusia dapat melampaui batas normal yang tak dinginkan.

“Harapan dan ketakutan ini memang menantang kita untuk berpikir hati-hati mengenai pertanyaan mendasar terkait otak: Apa yang membuat kita manusia? Apa yang membuat kita sebagai seorang individu? Dan bagaimana serta mengapa kita berpikir dan bertindak?” kata Baldwin

Nah, selain itu juga lahir kekhawatiran mengenai keamanan dari beberapa teknik yang sedang dalam pembangunan. Baldwin berujar soal dampak pada seseorang dan yang dipikirannya juga harus dipertimbangkan, misalnya, apakah ada risiko perubahan yang tidak diinginkan dalam suasana hati, perilaku atau kepribadian yang diperkenalkan ke dalam otak.

Dalam bidang militer pun demikian, “Jika otak-komputer digunakan untuk mengendalikan pesawat tempur atau senjata dari jarak jauh, siapa yang akan mengambil tanggung jawab atas tindakan itu? Bukankah ini mengaburkan batas antara manusia dan mesin,” tegas Baldwin.

Dewan independen ini didirikan untuk membahas isu etika ini berfokus pada tiga areal utama neuroteknologi yang mengubah otak, dari brain-computer interfaces (BCIs), teknik stimulasi syarah seperti stimulasi otak dalam (DBS) sampai terapi cangkok sel syaraf.

Dewan Etika berharap dapat melahirkan rekomendasi. Saat ini dewan lagi mendengar pandangan dari berbagai orang, termasuk mereka yang telah digunakan atau berharap untuk menggunakan teknologi ini, mereka yang terlibat dalam pengembangan atau pasokan, peneliti, akademisi, pasien, profesional medis, regulator, pembuat kebijakan dan yang lainnya.

Tanggapan untuk konsultasi akan dipertimbangkan dengan cermat dan laporan menetapkan temuan Dewan ini diperkirakan akan diterbitkan pada tahun 2013. Jadi kita tunggu saja perkembangannya, akan kah lahir manusia super di masa depan yang tak terbentur masalah etika.(berbagai sumber)