Pada masa sekitar dekade 1950-an perjalanan musik di Indonesia memasuki era musiknya radio. Lagu akan populer melalui siaran radio, dalam hal ini RRI lah selaku pemancar tunggal di Indonesia yang bertanggung jawab membomingnya sebuah lagu. Puncaknya adalah pemilihan Bintang Radio yang diselenggarakan di berbagai daerah. Dimulai dengan Bintang Radio daerah yang disiarkan oleh radio-radio daerah, ke semi final di Jakarta, kemudian final yang disiarkan langsung dan direley oleh semua RRI seluruh Indonesia.

Radio Republik Indonesia ini resmi didirikan pada tanggal 11 September 1945. Selama sekitar 25 tahun pertama sesudah Proklamasi Kemerdekaan, Radio Republik Indonesia (RRI) menjadi semacam pusat perkembangan musik Indonesia. Periode 1950-an sampai 1970-an adalah tahun-tahun sangat menentukan bagi perkembangan awal musik Indonesia, terutama lewat ajang pemilihan Bintang Radio. Kompetisi tarik suara ini dibagi dalam tiga kategori jenis musik: hiburan, keroncong, dan seriosa.

Walaupun tidak berwacana politik, kegiatan Bintang Radio sebenarnya awalnya tidak dapat dilepaskan dari semangat kebangsaan yang sedang tumbuh pada waktu itu. Pada 1950, tepatnya pada pidato kenegaraan 17 Agustus, Bung Karno dengan tegas memproklamasikan Republik Indonesia yang sebelumnya menjadi Republik Indonesia Serikat, kembali menjadi negara kesatuan. Karena hampir semua orang asing yang menjadi tenaga ahli meninggalkan Indonesia, muncullah dilema besar, yaitu siapa yang harus menggantikan peran mereka. Dari situ lantas lahir semangat baru dalam bentuk kredo: kemerdekaan harus diisi oleh bangsa sendiri. Di kota-kota besar, minimal di ibu kota provinsi, ada sekian orkes atau simfoni orkestra bentukan Belanda di masa lalu.

Beberapa di antaranya berumur cukup tua dan terkenal. Orkes-orkes itu, karena imbas perubahan zaman, ditinggalkan begitu saja oleh sebagian besar pemainnya yang harus pulang ke negara asal mereka. Stasiun radio menjadi vakum. Tapi RRI, yang sejak lahirnya mempunyai moto ”sekali di udara tetap di udara”, harus tetap siar suara. Maka direkrutlah tenaga-tenaga baru untuk mengisi kemerdekaan di bidang penyiaran radio.

Dalam hal musik, rekruitmen itu tidak hanya menyangkut orang, melainkan juga agenda programa dan visi ke depan penyiaran politik budaya (yang di zaman Orde Baru kemudian dipelintir menjadi budaya politik). RRI lantas menjadi semacam pusat pengembangan musik yang sangat ekstensif di Indonesia. Yang direkrut bukan hanya para pemain musik (instrumentalis dan vokalis), melainkan juga pemimpin orkes (dirigen), pencipta musik (komponis dan arranger), pengiring piano (corepetitor), penyusun acara, dan pelaksana agenda musik. Yang paling menentukan adalah lahirnya model pertama musik Indonesia dari terciptanya ratusan repertoar musik baru yang dimainkan melalui siaran radio.

RRI pun lalu identik dengan musik dans salah satu agenda RRI yang paling pantas dicatat dalam sejarah musik Indonesa adalah diselenggarakannya acara tahunan Bintang Radio. Kompetisi ini diselenggarakan melalui tahapan seleksi yang sangat ketat, baik pada tingkat daerah, provinsi, maupun nasional, dalam suatu trilogi kompetisi.

Bintang Radio kali pertama diadakan tahun 1952, hanya mempertandingkan penyanyi terbaik pria dan wanita, tanpa pembagian jenis. Waktu itu lagu wajibnya ”Citra”, yang menjadi pemenang adalah Samsidi dan Suprapti. Barulah kemudian diadakan pembagian, yaitu jenis Keroncong, Hiburan dan Seriosa. Kriteria penjuriannya cukup jelas, sehingga pemilihan Bintang Radio waktu itu sangat disegani. Yang meraih gelar Bintang Radio akan menjadi penyanyi yang top dan dihargai. Begitu pula lagu-lagu dan aransemen yang dipakai dalam lomba, dipilih yang terbaik.

Sebagai festival musik yang sangat kompetitif, untuk mencapai tahapan final di tingkat nasional setiap peserta harus melewati sembilan kali seleksi. Suara dan teknik menyanyi para Bintang Radio di ketiga kategori itu telah menjadi model gaya bernyanyi orang Indonesia hingga sekarang.

Titiek Puspa sebagai seorang penyanyi pemula mengikuti ajang Bintang Radio merupakan batu loncatan awal untuk memantapkan posisi sebagai seorang penyanyi profesional. Untuk menjadi seoarang penyanyi bagi seoarang Titik Puspa bukanlah hal yang mudah. Yang menjadi halangan utama adalah dari pihak keluarganya sendiri yaitu Keluarga Tugeno. Keluarga ini memang masih merasa kurang cocok bila ada anggota keluarga yang menyanyi di panggung. Profesi sebagai penyanyi masih dinilai kurang pantas atau bisa membuat keluarga malu.

Pandangan itu sendiri sebenarnya muncul dari keluarga ayah Titiek. Tugeno sebagai saudara muda rupanya takut dimarahi oleh kakak-kakaknya. Karena hubungan antarkerabat umumnya demikian erat, wajar kalau hal tersebut lalu menjadi bahan pertimbangan dan perhatian. Inilah yang kemudian dijadikan sebagai alasan untuk melarang Titiek melakukan kegiatan menyanyi.

Namun berkat teman-temannya,  Titiek didorong untuk mengikuti perlombaan menyanyi Bintang Pelajar yang bersifat perseorangan di luar sekolah, tetapi ia takut mengatakannya pada ayahnya. Kemudian Titiek membicarakannya dengan seorang teman yang bernama Yayuk. Yayuk mengusulkan Titiek memakai nama samaran. ”Jenengmu kan Titiek, Bapakmu kan Puspowidjoyo, yo wis Titiet Puspo ngono” (namamu kan Titiek, Bapakmu kan Puspowidjoyo, ya sudah Titiet Puspo saja) kata temannya itu.

Untuk meyakinkan penyamaran, Yayuk mengubah Titiek menjadi Titiet. Titiet-nya Semarang lain dengan Titiet-nya Jakarta. Waktu itu ia belum tahu, hanya ia berfikir, Titiet tidak begitu enak didengar, dan Puspo terdengar ’Jawa’. Tetapi, berikutnya ia setuju dengan perubahan ’Puspo’ di-Indonesiakan menjadi ’Puspa’. Semenjak itulah pada tahun 1953, Titiek Puspa menjadi nama tenar untuk tampil menyanyi.

Dengan nama baru, Titiek bisa lolos mengikuti acara lomba menyanyi. Titiek pun terpilih mewakili sekolahnya untuk ikut dalam lomba menyanyi antarsekolah. Saat itu ia masih SMP sementara pesaingnya rata-rata murid SMA. Tanpa ia duga, dengan nama baru ini Titiek menjadi juara pertama lomba nyanyi Bintang Pelajar. Setelah itu setiap tahun ia ditugasi untuk mewakili sekolahnya. Saat usia 17, panggung lomba pun berpindah dari sekolah ke Bintang Radio daerah.

Namun akhirnya Titiek Puspa mengikuti kontes Bintang Radio pada tahun 1954, ketika berusia 17 tahun. Ia berhasil meraih juara ke II untuk pemilihan Bintang Radio Semarang, karena nilai yang diperoleh dengan juara I sangat tipis, maka Titiek Puspa kemudian ikut maju ke tahap nasional di Jakarta.Namun ia gagal maju ke babak final karena gugur di babak penyisihan.

Di Jakarta Titiek berkumpul dengan para juara lain di RRI. Kebanyakan dari mereka tampak sudah siap menghadapi Jakarta yang identik dengan gemerlap fisik. Hari pertama, mereka diberi petunjuk pelaksanaan lomba. Setiap peserta melakukan latihan yang akan dipimpin langsung oleh Sjaiful Bahri, pemimpin Orkes Studio Djakarta (OSD).

Titiek harus mengikuti penyaringan pertama.  Tapi sayang sonsentrasinya pecah  lantaran di tempat yang sama kemarin dia bertemu dengan idolanya Bing slamet. Saking senangnya dia bertemu dengan Bing slamet smapi-sampai ia terus menceritakan pertemuan itu hingga pada saat namanya dipanggil, ia masih belum mempersiapkan diri. Sampai di atas panggung, Sjaiful Bahri sudah memainkan musik dan Titiek lupa lagu apa yang kemarin sudah dilatihnya. Ia hanya berdiri terpaku di atas pentas. Mendadak terdengar suara salah satu juri. “Out! Gugur!”.

Kontan saja di bawah panggung, tim dari Semarang menyatakan kekesalan dan kekecewaannya. Gagal dalam penyaringan pertama karena tidak berkonsentrasi sehingga lupa lagu apa yang hendak dinyanyikan. Usai acara, Sjaiful Bahri sempat mendatangi Titiek dan mempertanyakan mengenai kejadian tersebut. Titiek hanya mengatakan bahwa ia gugup, dan Sjaiful memahami kondisi mental anak daerah.

Gugur di penyaringan pertama tidak membuat Titiek patah arang. Sebuah kegembiraan luar biasa telah menyelimuti batinnya dan tak ada yang bisa mengalahkan itu. Pertemuan dengan Bing Slamet sudah memuaskan hasrat Titiek akan Jakarta. Baginya, malam itu ia sudah menang karena sudah bertemu Bing.

Usai malam final, sesuatu yang mengejutkan terjadi. RRI Jakarta mengadakan Panggung Gembira di Gedung Olahraga Lapangan Ikada sebagai malam puncak dari serangkaian Lomba Bintang Radio Nasional sekaligus sebagai momen pembagian hadiah bagi pemenang. Dan Titiek diminta untuk menyanyi di Panggung Gembira penutupan lomba. Kesempatan emas itu didapat lantaran Sjaiful Bahri mengatakan bahwa Titiek adalah seorang penyanyi yang memiliki suara yang  bagus. Malam itu Titiek menyanyikan lagu Chandra Buana ciptaan Ismail Marzuki, syahdan Titiek Puspa pun akhirnya mendapatkan tepukan publik Jakarta.

Suksesna di Jakarta membuat RRI Semarang kemudian meminta Titiek untuk sering tampil di radio. Pada tahun 1955 Titiek kemudian mendapat tawaran oleh RRI untuk rekaman dalam piringan hitam. Rekaman piringan hitam tersebut dibuat bukan untuk kepentingan komersil melainkan sebagai pengisi siaran RRI pada waktu itu. Salah satu judul yang ia nyanyikan adalah Dian Nan Tak Kunjung Padam

Pada tahun 1956, Nien Lesmana, ibunda dari pemusik Indra Lesmana, sedang mencari penyanyi muda dari daerah. Pada waktu itu perusahaan rekaman Irama melalui Nien Lesmana dan kakaknya Mas Yos melakukan pencarian terhadap sumber rekaman yaitu penyanyi dan lagunya ke berbagai kota. Titiek menyebutnya dengan istilah door to door. Perusahaan rekaman langsung mencari penyanyi-penyanyi berbakat dari daerah.

Nien Lesmana kemudian menawari Titiek merekam suaranya di Studio Irama milik Mas Yos. Titiek diminta menyanyikan lagu baru, lagu dendang yang cukup sulit untuk dinyanyikan. Titiek sendiri tidak begitu ingat lagu dendang tersebut. Kesulitannya saat rekaman sempat membuat kesal salah seorang biduanita lagu-lagu melayu yang lama menunggu giliran untuk rekaman.

Waktu itu lagu yang harus dinyanyikan Titiek adalah lagu Melayu berjudul Jakarta di Waktu Malam, lagu dendang yang menurut cukup sulit. Bahkan ada seorang biduanita lagu-lagu Melayu yang terkenal waktu itu sampai jengkel karena lama menunggu giliran. Sambil marah-marah penyanyi tersebut bilang ”Sudah, ngelama-lamain aja itu orang. Suruh pulang aja!”.

Mendengar itu, perasaan Titiek pun campur-aduk, ingin menangis, sedih sekali, tetapi juga marah. Namun, di luar tantangan itu, rekaman piringan hitam pertama ini akhirnya selesai juga. Di dalam piringan hitam pertama itu ia menyanyikan lagu Dian Nan Tak Kunjung Padam dan Papaya Cha-Cha ciptaan Adikarso. (bersambung)