titiek-puspa

Tahun 1959, Titiek kembali mengikuti ajang Bintang Radio di Semarang dan meraih juara pertama. Ia kembali dikirim lagi ke Jakarta. Titiek lulus seleksi awal pemilihan Bintang Radio. Di malam semifinal ia berhasil lulus lagi.

Namun di malam final suaranya serak saat menyanyikan lagu Di Wajahmu Kulihat Bulan, karena terlalu banyak memakan permen yang diberikan orang. Dan ia gagal menjadi juara. Walau gagal di tingkat nasional, Titiek sudah membulatkan tekad untuk segera memijak karier di ibu kota. Di tahun itu juga Titiek memutuskan untuk menetap di Jakarta. Titiek kemudian tinggal di tempat salah seorang kerabatnya yang bernama Tante Kamil.

Rekaman berikutnya pada tahun 1959 di Lokananta, Jakarta. Satu piringan hitam masih diisi beberapa suara penyanyi. Ternyata lagu Kasih di Antara Remaja, ciptaan Mas Hardo dari Semarang, berhasil menjadi hit dan membuat nama Titiek Puspa mulai dikenal luas. Titiek juga menyanyikan lagu Oh Angin dalam rekaman ini. Dan membuat nama Titiek mulai dikenal luas. Selain lagu Kasih di Antara Remaja yang terdapat di piringan hitam juga terdapat lagu Oh Angin.

Paruh kedua tahun 1960 menjadi fase penting dalam perkembangan karier menyanyinya. Sebutan ”Bintang” pun mulai disematkan kepadanya. Pengalaman berpergian untuk urusan menyanyi kian bertambah dan terus berkembang. Suatu hari datang tawaran yang mengejutkan. Titiek diajak bergabung dengan tim budaya yang melakukan kunjungan muhibah seni ke Malaya. RRI dipercaya pemerintah untuk melakukan lawatan seni ke negeri jiran. Dipimpin oleh Drs. Sumadi, sejumlah artis ikut serta seperti Sri Redjeki, Sam Saimun, Said Efendi, Iskandar, Sjaiful Bahri, dan Bing Slamet.

Perjalanan ke Malaya kian memperkuat posisi Titiek sebagai bintang yang tengah menanjak. Di penghujung tahun 1960, sebuah tawaran mengejutkan kembali datang. Gordon Tobing, mengajak Titiek untuk melakukan audisi menyanyi di Istana Negara. Di suatu sore, Titiek berangkat ke Istana Negara didampingi oleh Gordon Tobing, Titiek bertemu dengan Bung Karno.

Sore itu Titiek menyanyi di depan orang nomor satu Republik Indonesia. Ada beberapa judul yang ia nyanyikan, termasuk lagu Kasih di Antara Remaja. Bung Karno bertepuk tangan panjang. Ia mengantarkan Titiek sampai ke pintu keluar dengan keramahan yang sangat mengesankan. Pertemuan dengan Bung Karno berbuah pertemuan-pertemuan selanjutnya dalam berbagai ajang pertunjukan musik. Beberapa kali Titiek diminta untuk menyanyi di Istana.

Memasuki awal tahun 1961, Titiek sudah menjadi penyanyi tenar ibu kota. Perusahaan rekaman Irama dan Bali, mengajak Titiek untuk merekam suara dalam piringan hitam. Pencipta lagu kawakan saat itu tak ragu memberikan karya cipta mereka untuknya. Titiek sudah dipercaya untuk bisa membawakan lagu ciptaan mereka dengan baik. Mochtar Embut memberikan lagu Di Sudut Bibirmu. Komponis wanita terkenal saat itu, Surni Warkiman, memberikan lagu Daun yang Gugur dan Esok Malam Kau Kujelang. Iskandar memberikan lagu Puspa Dewi.

Kehidupan Titiek menjadi penyanyi yang cukup kondang menghantarkannya pada pertemanan yang sangat luas di kalangan selebriti. Dari pertemanan pula Titiek mengenal Mus Mualim. Mus dikenal sebagai pencipta lagu yang handal. Kedekatan dengan Mus membuahkan hasrat Titiek untuk menciptakan lagu. Jika dalam menyanyi, rasa puas muncul dari kemampuan memberi nyawa pada lagu dan menghibur penonton, saat mencipta lagu, kepuasan menjadi berlipat ganda. Karena tidak hanya menghidupkan sebuah lagu namun membentuknya dari embrio.

Pada pertengahan tahun 1960-an adalah masa produktif bagi Titiek Puspa dalam menciptakan lagu. Selain masih eksis sebagai penyanyi, Titiek Puspa mulai mencoba-coba untuk membuat lagu. Pada awalnya Titiek Puspa merasa tak percaya diri, ”Orang seperti apa sih yang bisa bikin lagu, kali kalo bukan orang gila berarti keturunan dewa. Orang seperti saya gak mungkin bisa (membuat lagu).” katanya suatu ketika

Berkat dukungan Mus Mualim yang mengatakan Titiek bisa saja menjadi pencipta lagu, karena saat bernyanyi Titiek banyak menggunakan improvisasi. Satu penggal improvisasi itu sendiri sudah merupakan satu penggal lagu. Kemudian Titiek Puspa memberanikan diri untuk mencoba membuat lagu. Proses kreatifnya berlangsung 10 kali, baru yang ke 10 dianggap layak oleh Mus Mualim untuk disebut sebagai sebuah lagu.

Lagu tersebut berjudul Kisah Hidup, yang ditulis pada tahun 1963. Pianis Mus Mualim yang kemudian membantu mengoreksi notasinya. Titiek Puspa sendiri tidak mengetahui teknik menulis lagu, karena tidak pernah mengikuti pendidikan  musik. Titiek Puspa hanya mencoret-coret not angka ”telanjang”, tanpa harga nada, tanpa birama, dan tanpa tanda-tanda baca apa pun yang bisa dimengerti orang.

Lagu pertama itu tidak sempat terkenal, namun pada lagu kedua yang berjudul Mama (1964) nama Titiek Puspa sebagai pencipta lagu mulai diperhitungkan. Setelah itu, muncullah sejumlah besar komposisi musik yang terus mengalir tiada henti. Mus Mualim pernah mengatakan lagu-lagu karya Titiek Puspa berjumlah lebih dari 600 buah, tetapi Titiek Puspa sendiri memperkirakan ada 400 buah.

Lagu-lagu ciptaannya ternyata dianggap punya nilai jual. Selain di nyanyikan sendiri, sejumlah penyanyi meminta lagu darinya dan mampu membuat lagu itu menjadi sangat populer. Seperti Lilis Suryani yang mendapatkan lagu Gang Kelinci. Ilham lagu ini di dapatnya pada saat mengantarkan Lilis Suryani pulang ke rumahnya di sebuah gang yang padat penghuni di kawasan Pasar Baru, Titiek melihat begitu banyak anak kecil berlarian dan memberikan kesan ramai sekali. Dengan cepat, melodi dan syair berkejaran di benaknya kemudian lahirlah lagu Gang Kelinci. (bersambung)