Catatan Kata Kelana

Syech Albar dan Musik Gambusnya

seruling-gambus

Buah jatuh memang tak jauh dari pohonnya,ya seperti inilah pepatah yang pantas disematkan pada keluarga besar musisi Ahmad Albar. Bapaknya dikenal sebagai musisi gambus era Indonesia belum merdeka, kakaknya Ahmad Albar tak lain Camelia Malik adalah penyanyi tersohor, dan Ahmad Albarnya sendiri seperti yang kita kenal adalah musisi papan atas yang namanya mungkin tak seoarang manusia indonesia pun tak tahu siapa gerangan dirinya. Dan mereka semua adalah para musisi yang berkecimpung dalam genrenya masing-masing.

Tapi siapakah sebenarnya Syech Albar dan apa kontribusinya bagi musik nasional Indonesia. Syech ini jelas bukan seperti anak prianya, walau wajah Syech Albar mirip Ahmad Albar, minus rambut kribo yang suka bergila-gilaan dengan musik rock, Syech albar ini lebih memilih untuk menggeluti musik yang jauh dari hingar-bingar bunyi-bunyian eletrick macamnya rock.

Ya adalah musik Gambus, yang mungkin sebagian dari kita jarang untuk mendengar jenis musik ini sekarang. Tapi Indonesia di jaman dulu ketika musik populer masih sedikit variannya, musik yang berasal dari jazirah arab ini menjadi semacam pelepas dahaga kita yang merasa kehausan akan hiburan segar apalagi kalau ada pesta perkawinan, gambus pun tak ayal menjelma menjadi musik untuk memeriahkan suasana.

Kiprah Syech

Di Tahun 1920-an dan 1930-an Syech Albar dikenal sebagai pemain gambus yang mumpuni. Pada zaman ‘kuda gigit kue apem’ itu, lagu-lagu Syech Albar sudah masuk dunia rekaman dan direkam oleh perusahaan piringan hitam terkenal ‘His Master Voice’. Menurut Munif yang juga seorang penggiat gambus dan pernah jadi penyanyi gambus, mengatakan petikan dan pentilan gambusnya tidak kalah dengan Abdul Wahab, pemain gambus kesohor dari negeri asal Firaun, Mesir.

Memang selain dirinya sendiri yang berbakat, jiwa seni Syech bin Abdullah Albar ini juga mengalir pada putrinya Sadiah Albar, seniwati yang beberapa kali muncul di GKJ Pasar Baru, Jakarta Pusat tahun 1950-an. Sedangkan cucu dari putri tertuanya, adalah suami Fitria Elvie Sukaesih. Istrinya bernama Fadlun Albar, setelah ditinggal mati suaminya, menikah dengan produser film Persari, Djamaluddin Malik, ayah dari Camelia Malik.

Kelebihan Syech Albar dalam bergambus ria adalah kemampuan dalam menciptakan lagu-lagunya sendiri. Bahkan Syech Albar yang berdomisili di Surabaya mengikutsertakan grup musik dari Italia, saat rekaman di ‘His Master Voice’, yang menyebabkan namanya dikenal di negara-negara Arab. Pers Lebanon pun pernah menjulukinya sebagai pemain gambus paling andal di jagad, kecuali Timur Tengah.

Bahkan rekaman lagu-lagunya masa itu banyak beredar di berbagai negara Arab. Ciptaannya seperti lagu-lagu sarah atau zapin yang berorientasi ke lagu-lagu Hadramaut, wilayah asal mula hampir seluruh keturunan Arab.

Menjelang shalat Jumat, dan pada malam Jumat, Nirom (RRI masa Belanda) dan kemudian RRI selalu menampilkan lagu-lagu Syech Albar. Sekalipun Syech Albar meninggal dunia pada 1947 tapi sampai tahun 1960-an, lagu-lagunya masih berkumandang di RRI dan saat ini masih ada sekitar 64 piringan hitam (PH)-nya yang tersimpan di RRI.

Orkes Gambus Bermunculan

Setelah Syech Albar meninggal dunia banyak bermuncullan orkes-orkes gambus, diantaranya di Jakarta berdiri orkes gambus Al-Wardah (bunga ros) pimpinan Muchtar Lutfie, di susul Al-Wathan (tanah air) pimpinan Hasan Alaydrus. Munif Bahasuan juga penyanyi Al-Wardah. Sedangkan di Surabaya juga berdiri orkes gambus terkenal. Menyoal musik gambusnya sendiri, seperti kebanyakan musik-musik lainnya di Idonesia,

Gambus ini juga ujug-ujugnya tidak langsung ada disini, menurut catatan sejarah yang ada, berdasarkan laporan seorang pelancong Jawa bernama Sastrodarmo yang berkunjung ke Batavia pada abad ke 18, ada acara perkawinan ynag dimeriahkan oleh hiburan dan jenis hiburan yang dilaporkannya itu antara lain adalah gambus dengan lagu-lagu Arab.

Gambus sendiri adalah musik yang dibawa peranakan Arab dari Hadramaut (Yaman). Perantau Arab ini menurut C.C. Berg memang ramai sekali berdatangan ke Hindia Belanda pada abad ke-18 dan menunjukkan eskalasi pada abad ke-19 .(berbagai sumber)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 25 October 2012 by in Lintasan Musik, Sejarah Musik Indonesia and tagged , , .
%d bloggers like this: