hermanCain2

Skandal-skandal panas tak pernah habisnya selalu menggelayuti mereka yang disebut sebagai seorang politisi negara, tidak di dunia atau bahkan di Indonesia. Mungkin pepatah tua yang mengatakan semakin tinggi puncak seseorang badai senantiasa akan selalu mengintai ada benarnya, entah badai itu tercipta akibat ulah nakalnya sendiri atau justru dihembuskan oleh lawan politik yang ingin menjungkirbalikkan citra berikut tujuan politisnya.

Baru-baru ini skandal seks kembali mencuat mengisi laman berita dan kali ini menimpa bakal calon Presiden dari partai Republik yang bernama Herman Cain. Pengusaha berusia 65 tahun ini dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap tiga orang gadis disaat dirinya masih menjadi Ketua Asosiasi Restoran pada tahun 1990-an silam. Tak mau dituduh main cabul, Ia pun tak tinggal diam dan menuduh lawan politiknya Rick Perry dibalik beroita skandal ini, kontan saja Perry membantahnya.

Namun berita skandal Cain secara tak langsung telah memperlemah posisinya untuk maju sebagaai akandidat presiden AS berikutnya. Menilik skandal yang dituduhkan kepada Cain, negara paman sam ini memang dikenal dengan negeri yang banyak memberitakan soal skandal seks para politisinya. Masih terngiang dalam kepala bagaimana presiden Bill Clinton dihantui oleh skandal cintanya dengan Monica Lewensky.

Skandal mantan orang nomor satu di Amerika ini terungkap setelah teman terdekat Lewinsky, Linda Tripp, merekam percakapan keduanya pada Kennet Starr, pengacara terkenal yang saat itu juga seorang jaksa agung. Tak pelak Skandal perselingkuhan Clinton-Lewinsky ini dianggap sebagai skandal paling panas.

Tapi untung saja Clinton bisa bernafas lega dan lolos dari pemakzulan. Clinton bisa lolos, namun tidak bagi Mark Foley seoarang anggota kongres Partai Republik, yang skandalnya terkuak pada September 2006 dari pesan elektronik terhadap seorang pemuda yang isinya mengenai “Sexting”. Padahal Foley sendiri merupakan politisi konservatif terkemuka penentang anti-gay. Namun kejadian memalukan ini membawa Foley pada skandal sex gay. Tak bisa dihindari lagi Skandal ini diyakini telah memberi kontribusi kerugian pada Partai Republik dan Foley akhirnya mengundurkan diri dari partainya pada 29 September 2006. Dampak ikutan dari skandal tersebut juga memakan korban lain, yakni pengunduran diri sejumlah pejabat Partai Republik.

Selang beberapa tahun kemudian, di tahun 2009 Gubernur Carolina Selatan, Mark Sanford harus rela angkat kaki dari jabatannya lantaran pengakuannya yang telah menjalin skandal seks dengan wanita Argentina yang bernama Maria Belen Chapur. Kala itu Sanford merupakan gubernur ke-115, yang juga merupakan harapan Partai Republik untuk menjadi Presiden 2012. Naas baginya tuduhan skandal seks dan penyalahgunaan dana perjalanan negara memastikan harapannya menjadi presiden Amerika hilang sudah. Dirinya senasib dengan yang dialami oleh kandidat presiden dari partai Demokrat, Gary Hart yang sangat difavoritkan dalam nominasi Partai Demokrat dalam pemilu 1987 akhirnya mundur mencalonkan diri akibat tersandung skandal seksnya.

Jauh kebelakang sebelum mereka-mereka ini melibatkan diri atau dilibatkan dalam skandal panasnya, ada politisi legenda AS yang lebih dulu mempraktekannya di tahun 40-an silam. Adalah Franklin Roosevelt yang ternyata juga bukanlah seorang malaikat suci, dus manusia biasa yang pernah tergoda imannya dan membuat affair percintaan dengan wanita lain yang bukan muhrimnya.

Teman tapi mesra itu bernama Lucy Page Mercer yang berusia 22 tahun yang juga adalah sekretaris dari istrinya Roosevelt. Skandalnya tersebut dinyatakan dalam sebuah buku karangan Joseph lash yang disusun berdasarkan catatan pribadi dari Miss Roosevelt. Lantaran Dimadu Nyonya Rosevelt pun pernah ingin minta dicerai oleh suaminya, tapi untungnya dewi cinta masih berpihak kepada kedua pasangan itu yang lantas memendam niat mereka berdua untuk bercerai.

Alasan Roosevelt sendiri cukup sederhana selain dia masih cinta terhadap istri yang telah melahirkan keenam anaknya, dia juga tak mau karir politiknya hancur gara-gara affair percintaannya. Roosevelt sadar betul perceraian dengan istri tercinta akan berbuah pahit bagi dirinya yang mungkin tidak ada harapan untuk terpilih lagi pada pemilihan umum mendatang. Karena itu dia mengorbankan cintanya kepada Lucy Mercer dan berjanji tidak akan bertemu dengan dia untuk selamanya, rumah tangga Roosevelt pun utuh dan bahagia untuk selamanya dan Roosevelt tetap menjadi presiden AS sampai akhirnya dia meletakkan jabatan.

Lebih tua bertahun-tahun yang lampau lagi, ada nama Thomas Jefferson yang tercatat sebagai salah satu Presiden AS paling sukses dalam memimpin Negara asalnya Bob Dylan ini. Namanya terukir indah dalam sejarah Amerika sebagai penulis dan peletak dasar Deklarasi Kemerdekaan. Namun reputasinya yang cemerlang itu sedikit ternodai dengan isu tak sedap perihal skandalnya dengan seorang wanita yang dihembuskan oleh James Callender, saat Presiden AS ke-3 ini memulai periode pertama pemerintahannya. Callender mengatakan Thomas Jefferson telah menjadikan seorang budak bernama Sally Hemings sebagai selirnya.

Tak tangung-tanggung ia pun memiliki beberapa orang anak dengannya. Thomas Jefferson sendiri saat itu berstatus sebagai seorang duda. Meskipun deraan gossip itu begitu keras menghantam, namun posisi Thomas Jefferson sebagai Presiden tetap tak tergoyahkan sama seperti Roosevelt.(berbagai sumber)