PB Djarum Team of Player, Kudus - Central Java

Siapa yang tak kenal dengan Liem Swie king, pebulutangkis legendaris Indonesia yang kisah hidupnya telah diangkat di layar lebar, belum lagi dengan pebulu tangkis Hastomo Arbi, Alan Budi Kusuma, Ardy B Wiranata dan yang lainnya.

Mereka-mereka ini berangkat awalnya dari sebuah perkumpulan olahraga yang terletak di kota kretek yang didirikan oleh Djarum Kudus. Yup, PB DJarum Kudus memang bukan lah perkumpulan olahraga sembarangan, terbukti berkat profesionalitas binaan yang diterapkan disana, para pebulu tangkis hasil didikannya pun dapat mengharumkan nama Indonesia dalam forum olahraga dunia, khususnya bulu tangkis.

PB Djarum Kudus yang dulu bernama POR didirikan oleh Bambang Hartono pada 7 Oktober 1969, awalnya hanya organisasi ekstra struktural dari pabrik rokok Djarum yang menyediakan tempat bagi para karyawannya untuk menyalurkan hobi olahraga. Didalamnya PB Djarum terdapat berbagai jenis bidang olah raga seperti tenis, bridge, sepak bola, bola voli, tenis meja, catur, dan bulu tangkis. Kemudian lambat laun bertrasnformasi berubah menjadi suatu wadah untuk membina para pemain bulu tangkis secara profesional, sedangkan cabang olah raga lainnya hanya bersifat bina lingkungan atau bersifat sosial kemasyarakatan, dan penyaluran hobi masyarakat sekitar.

Sejalan semakin difokuskannya bulu tangkis sebagai cabang olahraga yang diandalkan, maka pola pembinaan dan pelatihan profesional pun mulai disusun oleh para pengurusnya. Mereka yang terlibat di dalamnya mencoba menyatukan sinergi positif dalam bentuk rasa kebersamaan mulai dibentuk antara pengurus, pelatih, dan atlet. Hal ini dilakukan untuk menyatukan pola pembinaan yang sifatnya keterbukaan, di antara sesama atlet dan pengelola perkumpulan olah raga lain. Wujud nyata dari pola tersebut adalah berlatih dan belajar bersama yang tujuannya untuk mewujudkan pengelolaan yang baik dan efektif. Pada akhirnya akan menghasilkan atlet-atlet yang berprestasi secara berkesinambungan.

PB Djarum periode pertama dipimpin oleh Setyo Margono (1969-1973) dan pada tahun 1971, pola perekrutan atlet pun mulai berkembang hingga ke luar Kudus. Atlet-atlet pertama yang berlatih di PB Djarum adalah Syaiful Arisanto, Cahyanto, Liem Swie King, Gan Liong Kiem, dan Tjwan Bie, Kartono, dan Hastomo Arbi. Liem Swie King bersama karyawan yang mempunyai ketrampilan yang sama, sering melawat ke luar daerah Kudus. Hal ini tidak mengherankan karena Djarum mempunyai hubungan operasional dengan daerah lain, seperti Semarang, Pekalongan, dan Tegal.

Dalam lawatan tersebut klub Djarum selalu menang baik dalam kejuaraan yang sifatnya lokal atau regional di antaranya, berhasil menjuarai Piala Surabaya tahun 1971 dan Piala Panafit Magelang tahun 1972, Liem Swie King sendiri setelah berhasil menjuarai tunggal junior putera dalam kejuaraan ini. Bahkan klub Djarum berhasil menudukkan klub lain yang lebih dulu ada seperti Rajawali dan Suryanaga di Surabaya. Setahun kemudian, tahun 1973 PB Djarum mengirimkan atlet-atletnya untuk ikut serta dalam kejurnas di Jakarta. Dalam kompetisi tersebut, Liem Swie King yang sejak awal merupakan atlet andalan PB Djarum berhasil merebut perak.

Momentum keberhasilan Liem Swie King tersebut dimanfaatkan oleh tim PON Jawa Tengah dengan menurunkannya dalam pertandingan pada PON VIII di Jakarta tahun 1973. Pada kesempatan tersebut Liem Swie King merebut perak pada nomor tunggal putera. Sementara itu, tim beregu Putera Jawa Tengah berhasil merebut perunggu. Keberhasilan Liem Swie King sebagai atlet dari PB Djarum menyumbangkan medali perak bagi kontingen Jawa Tengah langsung menaikkan pamor dan prestise atlet-atlet PB. Djarum di mata pecinta bulu tangkis Jawa Tengah. Dari tahun ketahun, prestasi yang dihasilkan pemain-pemain dari PB. Djarum semakin banyak saja. Walaupun pada awalnya selalu bertumpu pada Liem Swie King, lambat laun jumlah pemain yang ikut andil dalam kejuaraan sebagian besarnya berasal dari PB Djarum.

Tapi tahun 1976 PB Djarum mulai membuka pembinaan atlet puteri di Semarang. Sebelumnya PB Djarum selalu memfokuskan pelatihannya terhadap atlet-atlet putera. Kekuatan tim bulu tangkis yang berasal dari PB Djarum semakin lengkap dengan munculnya pembinaan atlet puteri. Selain adanya pemain puteri, kuantitas pemain putera juga bertambah sehingga semakin memperkuat komposisi tim mereka.

Prestasi atlet PB Djarum pun semakin beranjak naik ke tingkat nasional, bahkan sampai ke tingkat internasional. Dimulai saat menjadi juara kedua PON VII di Jawa Tengah tahun 1973, Liem Swie King telah disebut-sebut orang sebagai pengganti Rudi Hartono, sang maestro bulutangkis Indonesia. Hal itulah yang membuat managemen PT Djarum berpikir bulutangkis harus terus dibina, dan bersifat profesional dalam pengelolaannya. Apalagi Ketua PBSI pada waktu itu Soedirman pernah meminta PB Djarum agar bisa mengelola semacam Pelatnas kedua bagi pemain bulutangkis. Ini terjadi setelah PBSI melihat atlet PB Djarum berhasil membuat kejutan dengan mengalahkan atlet pelatnas seperti Iie Sumirat dan Tjun Tjun, sehingga hal itulah yang membuat tekad Djarum semakin kuat.

Tahun 1975 Liem Swie King kembali mempertahankan gelarnya di Kejurnas, setelah ia berhasil menjadi juara I di dalam nomor tunggal putra. Liem Swie King semakin membuktikan dirinya sebagai pemain muda berkualitas setelah memenangkan Invitasi Dunia di Malaysia. Setahun kemudian atas nama PB Djarum, Liem Swie King berhasil mengantarkan tim beregu PB Djarum menjadi juara dalam Libra Cup II di Jakarta.

Pada kurun waktu berikutnya PB semakin berkembang dan memasuki era POR Prestasi dalam PB Djarum Kudus periode III. Pada waktu ini POR dan Ketua PB Djarum diketuai oleh Goei Po Thay. Tahun 1980 pemusatan latihan bulutangkis dikembangkan tak hanya di Kudus tapi juga ke Semarang atas prakarsa Boediarto Prabowo yang menjabat Direktur Personalia PT. Djarum Kudus dan Hartono Wibowo yang menjabat sebagai Kepala Kantor Pemasaran Cabang Semarang.

Pada tahun 1986 Djarum melebarkan sayap pembinaan, ditandai dengan membuka pusat latihan bulutangkis Djarum di Surabaya dan sejak tahun 1985 juga ada upaya melalui pendekatan ilmiah, dan masuk nama nama yang berasal dari dunia akademis dalam pembinaan atlet, seperti Singgih D. Gunarsa ahli psikologi olahraga, Hendra Kertanegara (Tan Tjoe Hok), mantan atlet nasional dan juara All England 1959. Atlet-atlet yang dibina PB Djarum paada periode ini antara lain, Christian Hadinata, Eddy Hartono, Alan Budikusumah, Ardy B. W., Haryanto Arbi, dan Hermawan Susanto.

Pada era ini, reputasi PB Djarum sangat terkenal baik dalam tingkat lokal, regional bahkan sampai tingkat internasional. Hal ini didasari pada undangan dari Federasi Bulutangkis Taiwan yang mengundang atlet dari PB Djarum untuk melakukan pertandingan eksebisi melawan tim Taiwan, dan Hongkong selama satu minggu, mulai 16–22 Desember 1982. Pihak Federasi Bulutangkis Taiwan membiayai penuh transportasi dan akomodasi dari rombongan atlet Djarum. Para atlet Taiwan ingin menjajal dan menimba ilmu langsung dari atlet Djarum yang berstandar internasional.

Dan tahun 1992 menjadi tahun yang istimewa bagi PB Jarum dimana pada perhelatan Olimpiade di Barcelona bertemu lah dua atlet binaan PB Djarum yaitu Alan Budi Kusuma, dan Ardy B. Wiranata. Jadi bisa dikatakan hal ini suatu lonjakan prestasi dimana kedua atlet bulutangkis Indonesia yang notabene atlet binaan PB Djarum Kudus secara berurutan meraih medali di ajang tertinggi olahraga dunia. (berbagai sumber)