Sejarah Musik Keroncong di Indonesia Bag. III

Pada paruh awal abad ke-20, kota-kota besar di Indonesia mulai tumbuh sebagai pusat perkembangan dan kegiatan kebudayaan. Kehidupan jurnalistik media cetak maupun radio tumbuh dan berkembang dengan gairah yang besar, sehingga memungkinkan informasi lebih mudah serta lebih cepat tersebar dibandingkan pada masa sebelumnya. Dalam era keterbukaan inilah keroncong mengalami masa yang sangat dinamis.

Perkembangan musik keroncong dipengaruhi oleh masuknya musik-musik barat yang berirama off-beat dance dan Hawaiian, pengaruh tersebut adalah dalam penggunaan alat musik dan irama. Pada kurun waktu 1915-1937, datang ke Indonesia musisi-musisi dari Uni Soviet, Prancis, Belanda, Polandia, Cekoslovakia, dan Filipina. Para musisi tersebut ada yang datang sendiri atau secara berkelompok dalam kelompok orkestra maupun kelompok ansambel. Melalui musisi-musisi itu, dunia musik keroncong berkenalan dengan alat-alat musik seperti cello, string, flute, dan gitar melodi. Pada waktu itu musik yang ada hanyalah musik keroncong dan Hawaiian. Diilhami oleh populernya permainan musik para musisi Barat, keroncong mulai mengadopsi unsur-unsur musik Barat tersebut.

Pada masa itu banyak perkembangan dan perubahan penting dalam segi alat musik, irama karakter lagu dan apresiasi rerhadap musik keroncong itu sendiri, walaupun pada dasawarsa tahun 1920-an, musik keroncong hanya terbatas dan beraksi di “lorong-lorong” kampung dalam acara khitanan dan perkawinan. Pada dasawarsa tahun 1930-an, ruang gerak musik keroncong lebih leluasa dan meraih kepopularitasan yang cukup besar terutama di kota-kota besar. Musik keroncong mulai diperdengarkan di radio-radio seperti: NIROM (Nederlandsch Indische Radio Omroep Maatschappij), CIRVO (Chincesch Inheemsche Radio Voor Omsterken), dan VORO (Vereeniging voor Oostersche Radio Omroep).

Gema musik keroncong dapat terdengar sampai Jaarmarket (Pasar Malam) di Surabaya, kemudian gaungnya merambah ke Pasar Gambir, Jakarta, yang menyelenggarakan Krontjong Concours (Festival Keroncong). Pasar Gambir memang dikenal sebagai penyelenggara Krontjong Concours, suatu perlombaan atau sekarang lebih dikenal dengan istilah festival yang di setiap tahunnya melahirkan juara keroncong dari pulau Jawa, salah satu peserta dari concours tersebut adalah orkes Lief Java. Karena waktu itu belum ada mikrofon, maka seorang penyanyi harus memiliki suara yang lantang agar bisa terdengar oleh para juri dan penonton. Penyanyi-penyanyi yang setiap tahunnya bertarung di Pasar Gambir meliputi: Van der Mull, Leo Spell, Louis Koch, Bram Atjeh, Paulus Hitam, Pung, Waha, S. Abdullah, Amat, Sulami, Miss Tuminah, Djajadi, Sumarno, Miss Moor, Siti Hapsah, John Isegar dan lain-lain.

Kehadiran Lief Java dalam lingkaran dunia musik keroncong mempunyai arti dalam perkembangan musik keroncong di Indonesia. Orkes ini pada awalnya bernama Rukun Agawe Santosa dan didirikan pada tahun 1918 oleh musisi yang bernama Suwardi dan Abdullah Kusumowijoyo. Nama “Jawa” dipakai karena para anggotanya adalah orang-orang yang berasal dari Jawa. Nama Lief Java yang berbau Belanda baru digunakan pada tahun 1923, ketika kelompok ini dimasuki oleh musisi-musisi dan penyanyi Indo. Lief Java mengadakan latihan di rumah Abdullah Kusumowijoyo yang terletak di daerah Kepu Senen, Jakarta Pusat. Di rumah tersebut berkumpul pula para musisi, antara lain: Hugu Dumas, Dekar Zahirdinj, Memed Soeroso, Poeng Soewarso, Kartolo, Yahya, dan Ismail Marzuki dengan sejumlah penyanyi antara lain: Miss Roekiah, Wolly Soetinah, dan sebagainya. Posisi Abdullah Kusumowijoyo dalam orkes Lief Java adalah sebagai koordinator. Orkes ini dibayar sekitar 40 Gulden untuk sekali tampil. Kelompok musik ini memainkan lagu-lagu keroncong dengan kombinasi instrumen biola, flute, gitar, dan cello dengan digesek, lalu kemudian ditambahkan juga oleh instrumen mandolin dan string bass.

Pada tahun 1925, Lief Java berhasil melakukan siaran langsung di radio VORO dan BRV. Tahun 1927 adalah tahun yang spesial bagi kelompok musik ini karena berhasil melakukan siaran langsung di radio NIROM. Momen itu menjadi suatu prestasi tersendiri bagi kelompok Lief Java, karena dapat melakukan siaran langsung di radio milik pemerintah Belanda itu. NIROM membagi siaran dalam dua kelompok untuk pendengar bangsa Eropa dan pendengar ketimuran. Lief Java berperan sebagai pengisi acara ketimuran di radio tersebut. NIROM berperan penting dalam menyebarluaskan lagu-lagu termasuk mempopulerkan nama-nama penyanyi dan pemusik Lief Java. Kemudian dari tahun 1926 sampai tahun 1942, Lief Java selalu menjadi pemenang dalam lomba keroncong yang diadakan di Pasar Gambir, Jakarta.

Selain dari Lief Java, Orkes Belloni ikut meramaikan kancah pementasan musik keroncong. Orkes Belloni memainkan musik keroncong dengan adaptasi off beat dance. Belloni merupakan seorang pemain biola yang sebelumnya adalah anggota sebuah perkumpulan musik yang bernaung di bawah sebiah perkumpulan orang-orang Belanda yang bernama Concordia Respavae Crescunt (CRC). Pengalaman musik di CRC ini mempengaruhi warna permainan musik Belloni yang mengadaptasi musik keroncong dengan off beat dance. Orkes Belloni cenderung lebih dekat dengan keroncong Tugu atau keroncong sebelum abad ke-20 (keroncong lama). Lagu-lagu yang diciptakan oleh Orkes Belloni adalah percampuran antara keroncong lama dan off beat dance yang kental. Lagu-lagu yang sempat terekam oleh piringan hitam, antara lain: Legende de Borobudur, Oud Indische, dan Serenade Oriental. Selain merekam lagu-lagu ciptaannya tersebut, orkes ini juga merekam lagu-lagu yang sudah ada dan populer ketika itu, seperti: Moresko, Keroncong Dieng, Tjih en de Banana’s, Keroncong Manis, dan Stambul Melati.

Lief Java dan Orkes Belloni adalah kelompok penting dalam wilayah musik keroncong Indonesia pada awal abad ke-20. Kelompok musik ini memiliki kesan Barat, karena disebabkan oleh irama permainan musiknya terdapat unsur-unsur off beat dance dan Hawaiian dan juga alat-alat musik yang dipakainya, selain itu, dasar-dasar permainannya bercirikan Barat. Kesan Barat juga terlihat dari nama kelompok musiknya yang tidak menggunakan nama Indonesia dan anggota pemain musiknya yang berkebangsaan Barat atau berdarah Barat (Indo-Belanda), terlebih pada masa itu banyak lagu keroncong yang tercipta dengan menggunakan bahasa campuran antara bahasa Melayu dan Belanda.

Dalam lingkungan musik keroncong, dikenal dengan istilah “buaya” keroncong. Istilah ini dilekatkan kepada pemain keroncong karena sering melakukan pentas dengan keluar masuk dari satu kampung ke kampung lainnya dalam usaha mencari nafkah dan memikat hati perempuan pada kurun waktu dasawarsa tahun 1920-an sampai 1930-an. Istilah “buaya” keroncong berasal dari nama sebuah kelompok pemain keroncong Indo-Belanda di kampong Kemayoran. De Krododilen (buaya-buaya) yang sangat terkenal pada akhir abad ke-19. Keterampilan mereka memainkan instrumen dan menyanyikan lagu-lagu cinta membuat para gadis-gadis “tergila-gila”

Kedinamisan musik keroncong diperlihatkan dengan semangat baru pada tahun 1935 di Surabaya yang diprakarsai oleh Kusbini, melalui karyanya yang berjudul Keajaiban Manusia. Di sini ia menambah instrumen-instrumen baru dalam orkes keroncong yang selama tiga abad hampir tidak pernah disentuh dalam musik keroncong, seperti trompet, saksofon, klarinet, trombon, piano, dan sebagainya. Sementara itu instrumen-instrumen yang dikenal dan dipakai selama 3 abad di Tugu hanya terdiri atas 7 instrumen, yaitu: biola, suling, gitar, cello, bass, dan ukulele. Tindakan ini sekaligus telah merubah status musik keroncong dari sifatnya yang improvisasi menjadi lebih rumit seperti orkes simponi yang berdasarkan atas teori-teori musik.

Musik keroncong berkembang di pulau Jawa pada awal abad ke-20. Musik keroncong juga berkembang di Solo sejak adanya pemancar radio pada masa sebelum Perang Dunia II. Kota itu telah menjadi kancah bagi perkembangan tradisi musik keroncong di kalangan masyaakat Jawa, hingga keroncong yang semula lahir di Tugu, Jakarta Utara pada abad ke-17 telah bergeser dan diatributkan pada masyarakat Jawa. Jawa Tengah khususnya di Solo dan kota Yogyakarta, musik keroncong dipengaruhi oleh gamelan jawa yang menggunakan tangga nada pentatonic (pelog dan slendro) yang pada akhirnya melahirkan jenis keroncong Langgam Jawa.

Fungsi alat-alat musik keroncong diidentikkan dengan fungsi alat musik dalam gamelan, bass diidentikkan dengan gong, cello dengan kendang, gitar dan biola atau seruling dengan gambang dan rebab, keroncong 3 dan 4 senar dengan ketuk, kenong, dan kempul serta gender. Lagu-lagu yang berasal dari Solo dan juga di kota Yogyakarta lebih tenang dan lembut. Irama dan perpindahan nadanya lebih lambat sehingga memungkinkan banyak cengkok dalam menyanyikan lagunya. Cara menyanyi dengan banyak cengkok juga identik dengan cara menyanyi lagu-lagu Jawa. Keroncong dengan Langgam Jawa dimulai dengan beberapa nama yaitu: Ismanto, Sapari W S Nardi, Anjar Any, dan S. Dharmanto.

Perkembangan musik keroncong di Solo sudah berlangsung sejak tahun 1930-an, ditandai dengan munculnya orkes-orkes keroncong besar dan kecil. Orkes keroncong besar waktu itu antara lain adalah Monte Carlo dan Kembang Kacang, di mana Gesang mengembangkan dirinya sebagai penyanyi dengan suara yang khas, karena dianggap memiliki ciri sendiri di banding penyanyi keroncong lainnya. Meskipun sesungguhnya ada tiga gaya permainan keroncong, gaya permainan dalam orkes keroncong Jakarta, gaya permainan keroncong Surakarta (Solo), dan gaya permainan keroncong Lama.

Pada masa kependudukan militerisme Jepang musik ini mendapatkan “angin segar” dari mereka yang mengemari musik keroncong, karena kebudayaan Barat yang dibawa oleh orang asing terkikis oleh Jepang. Jepang memiliki misi yang mereka sebut dengan “perang suci” melawan imprealime Barat. “Perang suci” itu dilakukan dalam segala sendi kehidupan, termasuk dalam kebudayaan. Melalui lembaga kebudayaannya, Keimin Bunka Shidosho yang berada di bawah badan propaganda Sendenbu, Jepang berusaha menghapus unsur-unsur budaya Barat dalam kesenian asli Indonesia dan secara bersamaan mengembangkan serta memasyarakatkan kesenian asli Indonesia dan Jepang. Semua itu dilakukan dalam semangat sebagai bagian dari bangsa Asia Raya. Keroncong yang sebelumnya telah memiliki “cap Barat” mendapat perhatian khusus. Jepang melakukan ini sekaligus pula dalam rangka menjalankan misi propagandanya.

Berbagai event diselenggarakan oleh Jepang untuk keroncong sebagai langkah nyata dari kebijakannya. Pada bulan Februari di Bandung, dan bulan April di Surabaya, Jepang mengadakan malam keroncong untuk amal yang hasilnya disumbangkan kepada Badan Pembantu Heiho. Di radio Jakarta, setiap hari tetap diperdengarkan lagu keroncong. Pada bulan September, di gedung Tonil Balai Kesenian di jalan Simpang 90, Surabaya, diadakan malam keroncong amal. Tampil dalam acara itu para penyanyi yang sudah terkenal yaitu: Miss Netty, Any Landouw, Miss Rukiah dan Oerip. Pada bulan yang sama di Surabaya, diadakan lomba keroncong. Kusbini, Ismail Marzuki, Tabib Tobroni dan Suma Tjoe Sing bertindak sebagai juri dalam lomba itu.

Para seniman keroncong giat mengarang aneka jenis lagu Indonesia, khususnya musik keroncong dan ini menimbulkan jenis lagu hiburan karena diiringi oleh orkes keroncong atau dengan iringan band. Kusbini beserta dengan musisi keroncong lainnya, seperti: Ismail Marzuki, C Simanjuntak, A Pane, Sudjojo masuk ke radio Hoso Kanri Kyohu dan Keimin milik Jepang, kemudian menciptakan lagu barunya. Lagu-lagu ciptaannya itu meliputi, Rela, Padi Menguning, Lagu ku, Ratapan Ibu, dan kumpulan lagu-lagunya.

Akan tetapi musik keroncong pada masa kependudukan Jepang dari tahun 1942 hingga tahun 1945 tidak memberikan perkembangan baru dalam tradisi musik diatonik di Indonesia, dan hanya meneruskan apa yang sudah ada, misalnya tentang solmisasi dengan beberapa lagu Jepang dan sebuah terjemahan lagu rakyat dari Irlandia yang berjudul Auld Lang Syne ke dalam bahasa Jepang yang kemudian disalin ke dalam bahasa Indonesia sebagai lagu perpisahan. Orang-orang Jepang juga menyukai lagu Bengawan Solo dan mungkin karena orisinalitas puitiknya dari lagu tersebut, walaupun sederhana pengungkapannya yang di padu dengan melodi, namun bagi orang Jepang lagu ini terasa “eksotik”. ( berbagai sumber)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s