Pembabakan musik keroncong dibagi menjadi 3 bagian, yaitu: musik keroncong sampai awal abad ke-20, masa perkembangan tahun 1920-1944, dan zaman setelah Indonesia merdeka tahun 1945-1970. Adapun garis besar perkembangan musik keroncong:

Tradisi diatonik dalam khasanah musik di Nusantara kali pertamanya masuk ke daerah Indonesia bagian timur (IBT) melalui orang-orang serta para pelaut Portugis dan Spanyol dalam konteks imperialisme abad ke-16. Tradisi diatonik ini telah memasukan nada solmisasi bagi tradisi vokal di IBT, dengan konsentrasinya di sekitar wilayah perbentengan orang-orang Spanyol dan Portugis di Santiago, Sulawesi Utara. Solmisasi karya seorang rahib Dominikan, Guido d’Areezo di abad ke-11 telah digunakan secara meluas di abad ke-17 dan 18, melalui Filipina masuk ke Sulawesi Utara dan sekitarnya sekitar akhir abad ke-16. Mereka datang ke IBT tanpa mengenalkan musik seni Eropa, tetapi mengenalkan musik Barat dengan iringan cavaqunho, yang di Hawaii disebut ukulele, biola, gitar, dan sebagainya sebagai sarana hiburan para pelaut di sekitar pemukiman benteng Portugis di IBT dan tempat lainnya.

Menurut tulisan Dr. W de Haan, diduga pelaut-pelaut Portugis yang mendarat di Tugu sebagai pembawa alat-alat musik keroncong yang waktu itu belum disebut keroncong, yaitu alat musik gitar kecil (ukulele). De Haan juga menyebut lagu Nina Bobo sebagai salah satu contoh yang dibawa oleh pelaut-pelaut Portugis dan “dioper” (diberi kata-kata Indonesia). Penulis Pedro de la Varda dalam ”Purtuguese Influences in the Nederlands Indies” menulis pengaruh-pengaruh musik Portugis melalui dua buah lagu, yaitu Nina Bobo dan juga Moresco.

Kekalahan tentara Portugis di Malaka oleh pasukan Belanda pada tahun 1641 membuat tradisi diatonik kerakyatan itu diteruskan oleh orang-orang Belanda pada abad ke-17 lewat agama Kristen dan mereka yang berada di sekitar perbentengan Belanda di IBT dan Jawa. Kekalahan orang-orang Portugis itu telah membawa konsekuensi lanjutan bagi para pemandu dan pembantu orang-orang Portugis dalam perdagangan mereka di Nusantara, karena mereka itu terdiri atas orang-orang pribumi dari Malabar, Bengalen (kini Bangladesh), dan sebagainya, yang telah menjadi orang-orang merdeka sebelum tahun 1641. Orang-orang ini yang sejak tahun 1641 telah menjadi tawanan orang-orang Belanda yang diasingkan ke Tugu, sebuah tempat di sebelah timur Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Dalam pengasingan di “Penjara Alam” Tugu, mereka melahirkan suatu genre dalam tradisi musik di Nusantara, keroncong dengan instrumen musik: gitar, biola, bass, cello, seruling, ukulele, yang mampu menghasilkan bunyi: crong…crong…crong…, hingga permainan musik mereka itu disebut keroncong. Rasqueado dalam bahasa Spanyol sebagai sinonim dari istilah arpeggio dalam memainkan alat musik ukulele, merupakan salah satu bukti asal-usul keroncong itu sebelum ia menjadi sesuatu jenis musik di lingkungan musik tradisi dengan solmisasi waditra Barat yang banyak digemari oleh orang-orang di pulau Jawa pada masa sebelum Perang Dunia II. Lagu-lagu yang mereka ciptakan bersifat riang gembira seperti lagu Moresco dan Prounga. Lagu-lagu tersebut mengandung ciri-ciri Moor dan ketimuran, serta alat musik yang digunakan disebut ukulele. Itulah sebabnya rakyat Nusantara segera dapat menerima lagu-lagu irama tersebut, dan musik itu kemudian “dibumbui” oleh kata-kata bahasa Indonesia lalu dimainkan dengan instrument musik buatan sendiri.

Keroncong Tugu mengembangkan jenis musik keroncong sejak tahun 1661 sampai awal abad ke-19. Pada awalnya jenis musik keroncong ini dimainkan oleh 3-4 orang dengan gitar sambil menyanyikan lagu-lagu melankolis. Jenis gitar yang digunakan mula-mula ada 3 macam, yaitu gitar Frounga ukuran besar dengan 4 senar, gitar Monica ukuran sedang dengan 4 senar, dan gitar Jitera yang berukuran kecil dengan 5 senar. Kemudian dikembangkan serta ditambahkan dengan alat-alat musik lainnya seperti: seruling, rebana, mandolin, cello, dan gendang.

Keroncong Tugu mempergunakan 2 buah ukulele, masing-masing dengan kencrungan tunggal dan kencrungan ganda, di samping biola, cello, dan bass. Beberapa orkes keroncong asal kampung Tugu kemudian mengkombinasikannya dengan jenis musik setempat. Sajak-sajak Melayu dan lagu-lagu Belanda pun mulai menggunakan melodi keroncong. Orkes musik kesenian asli kampung Tugu mulai bermunculan. Salah satunya adalah orkes Keroncong Tugu di bawah pimpinan Fernando Quiko yang memiliki anggota sekitar 4-6 orang. Setiap dalam pentas pertunjukannya, para pemainnya selalu menggunakan syal yang dililitkan di leher masing-masing pemain.

Musik Keroncong mulai diminati masyarakat, ketika kelompok Komedi Stambul di bawah pimpinan August Mahier dan Yap Goan Tay pentas di Surabaya dan beberapa kota di seluruh pulau Jawa pada tahun 1891. Salah seorang aktor Stambul yang terkenal yang sering membawakan lagu-lagu keroncong ialah F. Cramer yang kali pertama menyanyikan lagu Keroncong Moresco. Lagu ini berbahasa Portugis dan lagu-lagu lainnya yang tercipta kemudian antara lain: Prounga, Old Song, dan Craddle Song. Orang-orang di kampung Tugu tetap mempertahankan tradisi membuat sendiri alat musik keroncongnya.

Mereka membuatnya dari kayu pohon Waru atau kayu pohon Kenanga yang dicetak di dalam tanah. Kata Moresko atau Moresco berasal dari Moresca, sejenis tari pedang dari abad ke-15 dan 16 yang menggambarkan penyerangan bangsa Moor terhadap kekuasaan bangsa Spanyol di Afrika. Amir Pasaribu dalam bukunya yang berjudul Musik dan Selingkar Wilayahnya, menyebutkan Keroncong Moresco serta umumnya dianggap sebagai contoh standar daripada keroncong yang sesungguhnya.

Keroncong di daerah Tugu menjadi inspirasi lahirnya lagu Keroncong Kemayoran sekitar tahun 1918-1919, lagu ini konon diciptakan seorang keturunan Indo-Belanda, tetapi namanya tidak diketahui sampai sekarang, inisial penciptanya ditulis dengan N.N. Sinyo-sinyo Belanda pada masa itu mencoba memasukkan unsur jazz yang menghasilkan keroncong dengan bunyi crong…crong…crong yang lebih improvitatif dan menambah variasi akord. Di kampung Kemayoran pernah bermukim beberapa musisi keroncong terkenal antara lain: Atingan, J Dumas, Jan Schneider, Kramer, M Sagi, Any Landow, dan Ismail Marzuki. Berawal dari musisi-musisi di kampung Kemayoran itu lahir sebuah lagu yang berjudul Keroncong Kemayoran.

Sulit untuk melusuri siapa sebenarnya pencipta lagu keroncong tersebut, namun bisa dipastikan bahwa lagu tersebut diciptakan oleh salah seorang “buaya” keroncong yang kerap berkumpul dan berlatih musik di kampung Kemayoran, karena di wilayah tersebut banyak musikus keroncong yang tinggal dan mengadakan latihan musik di kawasan tersebut. Walaupun memiliki persamaan dengan lagu-lagu keroncong di kampung Tugu, tetapi syair dalam Keroncong Kemayoran berbeda dengan syair keroncong di kampung Tugu, karena Keroncong Kemayoran menggunakan syair berbahasa Melayu dan bersifat improvisatoris dan syair lagu ini tidak pernah tepat setiap kali dibawakan. Orkes Kemayoran ini sedikit banyak membawakan lagu-lagu khas Betawi karena, pemainnya sendiri berasal dari daerah Betawi.

Lagu keroncong Portugis pertama-tama yang juga cukup populer adalah Prounga, khusus untuk penyanyi solo sesuai dengan artinya yaitu tunggal. Lagu ini sangat disenangi penduduk kampung Bandan, Jakarta, hingga menyebutnya Keroncong Kampung Bandan. Pada akhir abad ke-19, di Batavia ada sekelompok remaja Indo yang sering berkeliling ke luar masuk kampung sambil memainkan musik keroncong. Mereka tidak perduli akan waktu, kadang-kadang sampai larut malam. “Gerombolan liar” itu kemudian terkenal dengan nama de Wandelende Krontjong. Rombongan ini apabila lewat di kampung-kampung, para remaja yang mendengarnya akan tergoda dan segera meninggalkan rumah kemudian mengikuti rombongan tersebut. Bersemai di Kampung Tugu kemudian Kemayoran, musik keroncong terus menyebar ke berbagai daerah di tanah air. (berbagai sumber)