Siapa yang mengawali dan menciptakan permainan sepakbola itu masih menjadi misteri yang tersimpan dalam catatan sejarah, tapi mengenai dimana sejarah awalnya? jawabannya ya ada dimana-mana, ya karena Setiap negara mempunyai cerita sejarahnya sendiri mengenai asal usul permainan sepakbola ini, mulai dari Cina, Jepang, Inggris, hingga Prancis dan yang lainnya.

Permainan sepakbola di Cina lebih dikenal dengan nama TSu Chu, yang berarti Tsu menerjang bola dengan kaki dan Chu yang artinya bola dari kulit dan isinya. Olahraga ini biasanya dimainkan ketika ada perayaan ulang tahun Kaisar dan para prajuritnya lah yang dijadikan sebagai pemain. permainan ini meru[akan bagian dari latihan militer para prajurit yang dimainkan di istana dan banyak raja menggemari permainan ini sehingga membangun lapangan untuk bermain Tsu Chu sekaligus mewajibkan sekolah-sekolah untuk mengajarkan permainan ini.

Ya mungkin rada-rada mirip karena sepakbola sekarang dimainkan oleh dua regu dan yang banyak memasukkan bola itulah yang menang, tapi berbeda dengan yang ada di cina karena dua regu itu jumlahnya bisa mencapai puluhan orang. Kedua regu bergantian menyepak bola dan bola dianggap masuk apabila setelah ditedang bisa menerobos lubang jaring yang didirikan pada dua buah tongkat bambu.

Untuk bolanya sendiri masih terbuat dari kulit binatang yang diisi oleh rumput kerint di dalamnya. Selain itu bedanya kalau sekarang yang halah dan menang juga mendapat penghargaan, di cina yang kalah malah mendapat cemoohan atau bahkan penganiayaan dan yang menang justru mendapat kehormatan. tapi ada satu yang istimewa karena dalam permainan itu sudah ada wasitnya yang memimpin pertandingan dan menghitung skor dan bola pun tidak boleh dipegang sama seperti sekarang.Awalnya memang Tsu chu dimankan oleh para prajurit tetapi lama kelamaan menjalar ke rakyatnya karena itu Tsu Chu cepat populer seantero negeri.

Di Jepang, gara-gara Cina lah permainan ini didopsinya oleh negeri sakura ini pada kurang lebih abad ke-8, mereka menyebut sepakbola ala Cina dengan istilah Kemari. orang Jepang memainkan Kemari ini sebagai kegiatan seremonial dalam pesta-psta tertentu, seperti pesta kerajaan atau upacara religius. Permainan ini sedikitnya dimainkan oleh kurang lebih 8 orang untuk masing-masing regunya dan para pemain biasanya berasal dari kalangan ningrat terutama anak-anak raja atau panglima perang, pakainnya pun tidak seperti sekarang karena pakaian yang digunakan pemain berupa jubah yang terbuat dari sutra.

Kalau di Cina gawangnya ada lubang jaringnya, di Jepang gawangnya hanya berupa dua pohon yang berdiri sejajar. Permainan ini sangat riuh karena para pemainnya saling berteriak jika sedang mengendalikan atau yangakan menendang bola,walaupun berisik tapi setiap pemainnya tidak dibolehkan menjegal atau melukai kawan.

Kalau di dua kerajaan itu permainan bola kaki masih dimainkan secara lebih beradab, namun itu berbeda dengan di Inggris dan Prancis, permainan itu justru dimainkan lebih tidak beradab, brutal plus kekerasan. Sepakbola di Inggris dulu di abad ke-8 dilakukan secara beregu dan pemainnya pun jumlahnya berjibun sampai ribuan orang dan dilakukan di jalanan. bola yang digunakan berasal dari usus embu yang digelembungan sehingga mudah untuk disepak dan tidak keras di kaki.

Karena permainan ini tidak mengenal aturan alias menghalalkan segala cara, maka tak pelak lah banyak kerusakan yang diakibatkannya, mulai kaca pada pecah-pecah, pengeroyokan, kejar-kejar dan perkelahian dan tak jarang pula yang memakan korban jiwa, tapi anehnya semuaa itu dilakukan dengan senang hati dan populer di masyarakat.

Namun saking brutalnya, maka sang mpunya negara sampai-sampai melihat olahraga ini sebagai olahraga setan yang dibenci Tuhan, Raja Edward II sampai Ratu Elizabet 1 pun melarang rakyatnya untuk bermain permainan “gila” ini, terutama untuk kalangan ningrat lantaran rasa kuaatirnya kepada pasukan yang kadang-kadang sampai lupa daratan untuk latihan berkuda dan panahan demi pertahanan negara. Larangan bukan hanya dihimbau oleh raja saja, tetapi juga oleh kalangan gereja, orang-orang yang mencuri bermain bola dan ketahuan akan dimasukkan ke penjara selama seminggu.

Di negara se benuanya yaitu Prancis, sama saja permainan yang disebut Cholue dan dimainkan setiap minggu selepas kebaktian di gereja ini juga tidak mengenal aturan. Kekerasan adalah salah satu hal yang biasa terjadi, para pemain boleh saling menyikut, menendang, memukul dan sebagainya. Permainan yang biasa dimainakan oleh dua desa dan para pemainnya juga para penduduk desa itu, juga pernah dilarang untuk dimainkan oleh Raja Philippe dan raja Charles tahun 1369.

Brutalnya permainan sepakbola ini tidak hanya terjadi di Benua Eropa saja, tapi juga terjadi di Amerika Tengah. Suku Indian dan Astek ratusan tahun yang lalu juga sudah memainkan sepak bola. Hanya saja permainan bola pada suku Aztek merupakan gabungan sekaligus dari permainan basket, voli dan sepak bola . Di kalangan orang Indian, sepak bola lebih mirip perang antar suku yang digelar di lapangan maha luas dan berharihari jika skor masih imbang. Dengan pemain setiap tim berjumlah 500 orang, pasuckaukohowog menghasilkan korban yang cedera berbulan-bulan. Sebelum bertanding para pemain melakukan ritual seperti sebelum maju perang. Mereka mengecat tubuh dan wajah dengan gambar tertentu untuk menolak bala. (berbagai sumber)