Catatan Kata Kelana

Para Superstar Si Putih Biru UMS

Kunjungan singkat saya ke lapangan klub legendaris UMS beberapa waktu yang lalu ternyata meninggalkan sebuah pertanyaan yang terus menghantui soal para pemainnya dahulu. Katanya sih banyak yang legendaris, tapi siapa sajakan pemain yang pernah dihasilkan oleh klub bola yang telah berusia seabad lebih ini.

Buka sana buka sini dan ternyata UMS bukanlah klub sepakbola yang bisa dipandang remeh, tercatat banyak pemain bintang era dulu yang berhasil dilahirkan di klub yang berada di daerah Mangga Besar ini.

Sebut saja Surya Lesmana, pada dekade 1970 tidak banyak pemain sepak bola Indonesia yang berhasil merumput ke klub-klub sepakbola di Luar Negeri, tetapi salah satu anak asuh UMS ini berhasil direkrut oleh klub asing karena kemampuannya dalam mengolah bola.

Surya Lesmana berhasil mencatatkan dirinya sebagai salah satu pelopor pemain Indonesia yang merumput di luar negeri. Ia dikontrak sebagai pemain klub Mac Kinan Hongkong selama satu musim pada tahun 1974 dengan gaji HK$ 2.000 per bulan, jumlah yang cukup besar ketika itu.

Surya Lesmana mengawali karier sepak bola di Klub Union Makes Strength (UMS) pada tahun 1958, seangkatan dengan Mulyadi (Tek Fong). Di bawah bimbingan pelatih Endang Witarsa (Lim Soen Joe) kemampuannya semakin terasah. Berkat kemampuan individunya yang bagus, Ia pun kemudian diminta bergabung dengan Persija Jakarta pada tahun 1962, lalu diminta memperkuat tim nasional pada tahun 1963.

Liem Soei Liang alias Surya Lesmana ini lahir di Balaraja, Tangerang, 20 Mei 1944 adalah seorang pemain sepak bola terkenal Indonesia di era tahun 1960an. Ia memperkuat tim nasional PSSI selama 10 tahun (1963-1972) dan Persija Jakarta selama 14 tahun (1962-1975).

Surya Lesmana pun dikenal sebagai pemian gelandang yang memiliki kemampuan menyerang atau pun bertahan sama baiknya. ia pun pensiun dari tim nasional pada tahun 1973.

Ada lagi Tek Fong atau Hadi Mulyadi alias Mulyadi yang lahir di Serang, 19 September 1943 dan m meninggal 30 Januari 2011. Pada tahun 1960 Tek Fong diterima masuk Union Makes Strength (UMS) setelah Dokter Endang melihat ada kelebihan dalam mengiring bola. Hampir bersamaan dengannya, masuk pula Surya Lesmana, Reni Salaki, Kwee Tik Liong, dan Yudo Hadianto.

Tek Fong adalah satu dari sekian banyak murid terbaik Endang Witarsa. Endang tak hanya menjadikannya sebagai libero andal di masanya, tetapi juga mengajarkan bagaimana menjalani hidup di luar lapangan. Ketika Endang dipercaya menjadi pelatih Persija Jakarta pada tahun 1963, Ia juga membawa Tek Fong untuk bergabung.

Tek Fong bersama dengan Soetjipto Suntoro, Taher Yusuf, dan Domingus Wawayae berhasil membawa Persija menjadi juara Perserikatan 1963. Tek Fong kemudian pindah ke klub Pardedetex Medan pada tahun 1969. Tek Fong bertahan selama delapan tahun di tim nasional.

Ia tidak hanya membawa Persija Jakarta menjadi juara Perserikatan pada tahun 1963, akan tetapi juga ikut mempersembahkan empat gelar juara bagi tim nasional Indonesia, yaitu; King’s Cup 1968, Merdeka Games 1969, Anniversary Cup 1972, dan Pesta Sukan 1972. Tek Fong menganggap drg Endang Witarsa sebagai guru besarnya dan Dokter Endang sendiri adalah pelatih ketika Tek Fong memperkuat UMS, Persija Jakarta, Warna Agung.

Selain itu, ada pula pesepakbola Djamiat Dalhar. Mengikuti jejak ayahnya yang juga pemain bola di kota asalnya, pemain yang pertama kali merumput di PSIM ini adalah pemain pribumi pertama yang berhasil dirangkul untuk bergabung sebagai pemain di UMS pada dekade 1950-an.

Hadirnya Djamiat dalam squad UMS sebagai pembuktian bahwa klub sepakbola ini bukanlah klub bola yang ekslusif yang hanya etnis tionghoa saja yang dapat bergabung bergabung dengan UMS. Sejak tahun 1950, pemain yang satu ini banyak dielu-elukan olehpara fanatik sepakbola dan berulang kali pula dia dipilih oleh Persija dan PSSI. Berlanjut ke Ong Liong Tik (Chris Ong) saat itu dia berumur 32 tahun waktu bergabung dengan UMS sekembalinya dari Hoakio Hongkong Tour.

Chris menjadi kapten kesebelasan UMS sedari tahun 1950-an, selain itu juga berkali-kali terpilih untuk memperkuat Persija dan PSSI. ia pun pernah menerima piala kehormatan sebagai pemain terbaik dan sangat sportif dalampertandingan-pertandingan yang diselenggarakan. Tahun 1948 dia pernah dipilih oleh Chinese Olympic Team (COT untuk turut serta dalam pertandingan-pertandingan Olimpiade di Inggris. Kemudian ada lagi pesepakbola Kwiee kiat sek.

Pemain yang dilahirkan di Jakarta tahun 1935 ini adalah mahasiswa fakultas kedokteran gigi, sama seperti Dr Endang witarsa. Di umur 17 tahun, berkat permainannya ia pun lantas ditarik untuk memperkuat kesebelasan dan PON Jakarta Raya tahun 1951 dan telah masuk dalam jajaran pemain Timnas hampir 50 kali dalam perbagai pertandngan internasional di dalam maupun di luar negeri.

UMS juga mencetak pemain yang dikenal sebagai seorang yang mempunyai loyalitas tinggi. Dia adalah Thio Him Tjiang, Ia tetap setia bermain untuk UMS walaupun pernah diminta untuk bermain di Klub Tjung Hwa (sekarang PS Tunas Jaya), musuh bebuyutan Klub UMS.

Di bawah bimbingan pelatih Endang Witarsa (Lim Sun Yu), prestasi Thio Him Tjiang semakin bersinar. Ia bukan hanya berprestasi di UMS melainkan juga masuk menjadi pemain inti Persija dan tim nasional PSSI. Thio Him Tjiang yang bermain sebagai gelandang pun memperkuat Tim Merah Putih selama 8 tahun (1951-1958). (berbagai sumber)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 24 October 2012 by in olahraga and tagged , , , .
%d bloggers like this: