Catatan Kata Kelana

Lagu Cengeng VS Pemerintah

Era tahun 1980-an, masa dimana saya baru saja lahir di dunia ini lagu-lagu yang mendominasi blantika pop Indonesia adalah lagu yang mendayu-dayu, bertempo lambat dan cenderung berkesan “cengeng”.Nama-nama seperti Rinto Harahap, Pance Pondaang, A. Ryanto, dan Obbie Mesakh adalah para bintangnya pop yang cukup produktif di era itu. Dapat dikatakan bahwa lagu-lagu yang dihasilkannya telah memasuki era baru yaitu patah hati. Penyanyi-penyanyi seperti Betharia Sonata, Ratih Purwasih, Iis Sugiarto, adalah spesialis dalam mendendangkan lagu-lagu patah hati.

Beberapa lagu sempat menjadi fenomenal,diantaranya lagu Gelas-Gelas Kaca dan Hati yang Luka yang dinanyikan oleh Betharia Sonata. Lagu yang berjudul Aku Masih Seperti yang Dulu, yang dinyanyikan Dian Piesesha itu bahkan terjual hingga 2 juta kopi. Angka yang sangat fenomenal untuk ukuran kaset rekaman pada masa itu. Tapi Lagu Hati yang Luka gubahannya Obbie Mesakh itu mendapat reaksi dari pemerintah yang dianggapnya sebagai lagu cengeng. Setidaknya, Menteri Penerangan saat itu, yaitu Harmoko, melarang lagu itu diputar di TVRI dan RRI.

Dia menyebut lagu tersebut sebagai “ratapan patah semangat berselera rendah dan menghimbau agar lagu kelas krupuk dan cengeng seperti itu dihentikan penayangannya. Menteri memang tidak menyebut judul lagu maupun menunjuk contoh acara pembuat patah semangat tersebut. Tapi melihat keretakan rumah tangga yang terkesan cengeng tampil dengan kuat dari lagi Obbie Messakh dengan hati yang luka. Lagu ini sering muncul di TV yang dinyanyikan oleh berbagai penyanyi.

Kemudian disusul dengan lagu sejenis yang sejenis baik dalam bangunan musik maupun liriknya. Lagu bernada cengeng dituding oleh pemerintah melalui Deperteman Penerangan sebagai lagu yang melemahkan sekaligus mematahkan semangat dan tidak berjiwa pembangunan seperti yang didengung-dengungkan dalam jargon ekonomi pembangunan pada era orde baru. Pernyatannya itu dilontarkan oleh Pak Menteri pada ulang tahun TVRI yang membuat industri lagu pop Indonesia mengalami kegoncangan sementara.

Penciutan sementara siaran lagu yang masuk kategori cengeng menurut criteria TVRI mungkin menyebabkan hadirnya lagu-lagu rock dengan lebih leluasa. Pemerintah beranggapan ketika itu bagaimana kita bisa membangun Indonesia dengan jiwa dan semangat yang berapi-api bersikap tegar seperti karang, kalau setiap hari di telinga kita yang terdengar hanyalah nada-nada sumbang yang cengeng yang jelas-jelas bisa melemahkan semangat dan membuat kita lemah. Ia pun mengingatkan, semangat kerja tidak tumbuh jika mata acara TVRI banyak diwarnai ratapan, keputusasaan, dan keretakan rumah tangga”. “Dalam keadaan patah semangat dan cengeng, sulit mengajak orang untuk bekerja keras,” katanya, mantap!

Tapi tudingan itu justru kesannya menjadi ironis karena di saat yang bersamaan lagu-lagu itu menjadi laris bak kacang goreng pada masanya. Kontan saja musisi yang tidak mau dirinya dilabeli oleh kata cengeng, Rinto harahap mantan the Mercys berkomentar bahwa alasan penghentian penayangan karena selera rendah dan kecengengan sangat bertolak belakang dengan kenyataan dan sangat gegabah , dirinya pun sangat terkejut dengan lontarannya oleh Pak Menteri yang mantan wartawan itu.

Seakan tidak mau dituding sebagai biangnya lagu cengeng, Rinto pun beranggapan bahwa lagu dangdut juga ada yang cengeng seperti lagu Gubuk Derita yang berlirik soal penderitaan. “sekarang kita berbicara dengan sesuatu yang tidak jelas, lagu cengeng itu difinisinya apa dan saya hanya menciptakan lagu sentimentil dan tidak cengeng” kata Rinto.

Senada dengannnya Titik Hamzah juga menanyakan definisi cengeng itu apa, penulis lagu dan penyanyi ini bahkan rada masygul demi mendengar banyak istilah yang tak tepat untuk menilai lagu-lagu pop Indonesia itu. Agak sedikit berbeda dengan rekannya sesama musisi dalam menaggapi hal ini, Titik Puspa memang merasa sedikit jemu dengan menjamurnya lagu-lagu semacam itu, “ini sudah terlalu banyak” kata dia, tapi dia beranggapan musik semacam ini hanyalah mode yang lewat sambil lalu saja yang nanti akan hilang dengan sendirinya.

Ada yang resah ada pula yang pasrah, Betharia Sonatha adalah salah satunya yang menurutnya apabila pelarangan itu baik dan masyarakat menganggap juga demikian, dirinya merasa tidak apa-apa. “Saya kan sekadar hanya membawakannya” katanya. Berbeda dengan Almarhum Harry Roesli yang sedikit kritis menanggapi ini, seniman yang pernah tergabung dalam Harry Roely and his Gang ini berpendapat justru ia mertasa kuatir dengan pelarangan, walaupun tidak melarang orang lain mendengarkan, lantaran nantinya banyak yang membuat lagu dengan tema lain tapi tanpa pendalaman masalah.

Benar juga lagu-lagu itu terkadang melukiskan pikiran cekak, buntu menghadapi nasib, tak lagi kreatif dan hanya mengutak-atik irama dan cengkok yang sedang laris, entah menjiplak lagu impor atau produk lokal. (Berbagai Sumber)

Advertisements

11 comments on “Lagu Cengeng VS Pemerintah

  1. satriyadiwibowo
    11 February 2013

    Izin untuk copy link post ini ke blog saya ya 🙂

    Like

  2. Pingback: (Generalisasi) Mindset Bangsa « Welcome to -bcl- mind

  3. Pingback: LAGU CENGENG, TAK PANTASKAH DIMUSNAHKAN? | Psychological Student of Brawijaya University

  4. happybogi
    6 May 2014

    permisi, mau nanya nama lengkapnya penulis ini siapa ya? soalnya saya mau ngutip beberapa artikel untuk di skripsi saya yang lagi bahas tentang gaya vokal Nicky Astria. namanya harus saya masukan ke daftar pustaka biar tidak disangka plagiat.. terimakasih.. ditunggu untuk respon cepatnya.. 😀

    Like

  5. Pingback: Lagu Cengeng, Tak Pantaskah Dimusnahkan? | SECANGKIR KATA

  6. D.Situmorang
    26 November 2015

    Izin share mas

    Like

  7. Mia
    11 January 2016

    Hallo, jika boleh tau daftar pustaka dari artikel inii apa saja ya?
    Ditunggu responnya
    Terimakasih

    Like

    • katakelana
      12 January 2016

      halo juga,wah sy lupa mbak tapi sepertinya sy mengambil beberapa sumber dari media, koran dan majalah yang terbit di tahun 80-an

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 24 October 2012 by in Lintasan Musik, Sejarah Musik Indonesia.
%d bloggers like this: