Hilangnya Warga Tionghoa di Lapangan Hijau

Pada awal abad ke 20 peran etnis tionghoa ini sangat menonjol di lapangan hijau, bahkan diantaranya menjadi pemain terkenal dan perkumpulan olahraganya sendiri menjadi cikal bakal klub sekolah sepakbola yang banyak melahirkan para pemain legendaris Sebut saja nama-nama seperti Kwee Kiat Sek dan Tan Liong Houw di dekade 1950-an yang kerap memperkuat timnas Indonesia.

Pada dekade 1960 dan 1970-an ada nama-nama seperti Atjong, Ng Che Kwang, Harry Tjong, Mulyadi dan Surya Lesmana yang cukup akrab ditelinga para penggemar bola ditanah air. Prestasi yang mereka torehkan bersama timnas tidak main-main, terbukti era 1950 hingga 1970-an adalah keemasan bagi pesepakbolaan Indonesia.

Dan mereka-mereka ini “terlahir” awalnya dari sebuah klub sepkbola. Ketua klub sepakbola tertua di Jakarta beberapa waktu yang lalu mengatakan bahwa zaman itu memang masa jayanya orang tionghoa dalam sepakbola, orang-orang tionghoa bermain bola salah satunya adalah untuk menyalurkan hobbynya dalam bermain bola, maka tidak heran klub-klub sepakbola berdiri karena mereka-mereka para pendahulunya mempunyai hobby yang sama.

Senada dengannya, Andreas salah seoarang Pengurus UMS pun bilang mereka memang hobby yang sama dalam bermain bola lantas termotivasi unuk mendirikan sebuah klubsepakbola,”mereka total dalam bermain bola sehingga terkadang sampai lupa dengan pendidikan, para orang tuanya pun dulu akan berpikir dua kali apabila anaknya akan serius menggeluti olahraga ini” kata dia.

Dia mengatakan tidak jarang pula apabila ada anak-anak tionghoa ketika dulu akan berlatih sepakbola di lapangan, mereka harus “kucing-kucingan” dengan para orangtuanya yang tidak setuju dengan anaknya yang akan bermain sepakbola, ” kenapa dulu orang tionghoa bermain bola, selain karena adanya benefitnya juga karena mereka termotivasi untuk menjadi pemain top sepakbola indonesia, mulainya harus sembunyi-sembunyi”kata dia.

Benar juga, awal berkiprah di rumput hijau, seoarang Tan liong pun tidak didukung oleh pihak keluarganya.Adiknya, Tan Liong Pha, yang bermain untuk Persib Bandung Junior juga terpaksa berhenti karena tidak mendapatkan izin. Sedangkan Tan Liong oleh ibunya, Ong Giok Tjiam, akhirnya dikirim ke Semarang, Jawa Tengah.

Selain untuk bersekolah di sana, tentu tujuan keluarganya adalah menjauhkan dia dari aktivitas bola kaki. Namun, hal itu tidak menghentikan hobinya itu. Lantas dia harus sembunyi-sembunyi untuk tetap bermain bola. Bahkan, beberapa kali dia ikut melakukan pertandingan lawatan ke luar kota.

Namun zaman keemasan masyarakat keturunan Tionghoa di lapangan hijau mulai berakhir pada dekade 1980-an, orang tionghoa semakin jarang terlihat beraksi di lapangan hijau. Perubahan itu disebabkan oleh beberapa faktor,diantaranya garis kebijakan pemerintajh yang cenderung rasial, terlebih lagi karena rasa traumatis peristiwa G 30 S, sentimen rasial dari rakyat Indonesia sendiri yang menganggap etnis tionghoa bukan bagian dari masyarakat Indonesia, pragmatisme yang menjangkiti etnis tionghoa sendiri dalam melihat sepakbola.

Tan liong Houw atau latif Haris memberikan dua jawaban mengapa etnis tionghoa menutup diri dari sepakbola, pertama masih kuatnya rasa sentimen rasial dalam masyrakat Indonesia teradap enis tionghoa. Hal ini menurutnya sudah berlangsung lama semenjakl dirinya masih menjadi seoarang pemain.

Tan liong mengungkapkan dirinya kerap diteriaki cina,cina, cina bahkan juga pernah dianggap sebagai mata-mata cina. Dan rasa sentimen itu terasa sekali, ada sebagian masyrakat yang belum bisa menerima etnis tionghoa sepenuhnya. Tapi ia berkata dirinya adaalah Indonesia lahir di sini makan di sini berak di sini dan mati juga di sini seraya menegaskan bahwa ia mencintai Timnas terlebih lagi Indonesia.

Hal kedua menurutnya juga adalah kebijakan diskriminatif yang diberlakukan oleh pemerintah, menurutnya pemerintah masih membedakan antara masyrakat pribumi dan non pribumi, ia pun mempertanyakan sejatinya semua masyarakat adaalah rakyat Indonesia baik itu yang pribumi maupun non pribumi.

Selain itu, tidak sedikit pula dari pemain bola tionghoa banting stir tidak melanjutkan menjadi pemain bola lantaran terbentur oleh keinginan orang tuanya yang tidak berharap anaknya berkarir di dunia bola kaki ini termasuk juga para pemain UMS, ” saya juga dulu pernah main bola tapi ya itu, pilihan nya sulit juga akhirnya saya pun harus gantung sepatu dan milih untuk menjadi dokter” Lantas ia pun membenarkan adanya diksriminasi kala iitu walaupun sudah berkali-kali ia mengatakan bahwa dirinya adalah warga negara indonesia, tapi pikiran sebgaian besar orang tidak seperti itu, “kami tetaplah dipandang sebagai warga bukan negara Indonesia” kata Andreas.

Untuk menarik kembali etnis tionghoa berlaga di lapangan hijau tenyata tidak segampang membalikkan tangan, Iswadi mantan Direktur Kompetisi dan Turnamen PSSI di era Agum Gumelar pun mengatakan sepertinya mereka masih trauma dan lebih memilih olahraga perseorangan seperti bulu tangkis dan tenis meja. Dan mereka memang banyak yang tampil di cabang beregu seperti basket, tapi kebanyakan klub-klub basket milik mereka juga.

Mantan pemain Timnas merah putih yang juga pernah mmemeperkuat tim Persija pada decade 1970-an, Andjas Asmara, mengatakan bahwa pada decade itu dan decade sebelumnya banyak pemain Tionghoa bermain sepakbola, misalnya surya lesmana, Kiat Sek, DJamiat Dhalhar dan sebagainya,

“lantas Kenapa sampai orang tionghoa tidak ada lagi yang bermain sepakbola dan memilih cabang olahraga individual seperti bulu tangkis mungkin karena olahraga sepakbola sarat dengan banyak terjadinya kerusuhan di lapangan dan diksriminasi ras itu factor belakangan…” kata dia.

Ia tidak menepis anggapan bahwa orang tionghoa jago dalam mengolah bola,” pemain-pemain Tionghoa pada waktu itu cukup unggul dalam teknik individual di lapangan dan banyak dari pemain-pemainnya itu cukup disiplin dan tangguh di lapangan hijau” tutur dia. (berbagai sumber)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s