Catatan Kata Kelana

Union Makes Strength Riwayatmu kini

Sore itu, sepertinya tidak ada yang tidak tahu dimana letak lapangan sepakba nan legendaris itu bagi warga yang tinggal di daerah mangga besar, saban kali menanyakan dimana persisnya lokasi lapangan tersebut, dari tukang ojek sampai tukang parkir pasti akan mengarahkan dengan tepat jalan kami menuju kesana. ‘ ya mas tinggal ikuti jalan ini saja belok kiri lalu lurus, pas belokan nahh udah keliatan lapangannya”kata salah satu warga.

Dan benar saja tinggal mengikuti petunjukkanya kami sudah sampai di sisi samping lapangan. Sebenarnya tidak sulit juga untuk menemukan lapangan ini, dari wilayah jayakarta, mangga besar, memutar kearah sebaliknya sebelum pasar dan ketemu jembatan sungai lantas belok ke kiri, jalan ubi pun akan menyambut di depan. Dan memang sedikit jauh apabila kita startnya dari daerah taman sari, kelokan-kelookan jalan pasti akan sedikit membingungkan tapi bukan masaah juga, karena seperti yang kami jelaskan diatas, sebagian warga sana tahu dimana lapangan itu ada.

Sesampainya disana, pintu pagar masuk nampak tertutup, namun untung saja ada celah yang terbuka sedikit dan kami pun masuk. Beruntung karena salah satu warga yang sedang duduk disana mengatakan setiap sorenya lapangan ini pasti dibuka, ya untuk sekedar melepas penat warga yang ingin duduk-duduk menanti sore tengelam. Kok sepi tanya kami, ia pun menjawab mulai bulan depan baru rame kembali mass sama anak-anak yang latihan, bulan ini sama sekalai gak ada akticitas” kata warga. Dan memang nampak tak ada satupu n anak didik yang latihan pada hari itu, lapangan hanya diisi oleh mereka yang sibuk mengurusi rumput-rumput hijau. “dari lebaran kemaren memang sudah tak ada aktivitas lapangan” katanya.

Ramaikah suasana lapangan tanya kami, ia pun menjawab persis seperti yang pernah ketua yayasan UMS katakan pada kami beberapa waktu yang lalu, lapangan sekarang malah justru ramai sekarang-sekarang ini. ” kadang-kadang bisa sampai macet mas” kata pria keturunan tionghoa ini sambil jarinya menunjuk seraya mengatakan tempat parkiran ini akan penuh dengan kendaraan bermotor.

Papan nama besar tepat di depan pintu masuk yang sedarinya terpampang nama lapangan kini telah tiada, menurut warga setempat tadinya nama itu ada tetapi setelah proses eksekusi berlangsung , papan nama itu sudah tidak ada lagi namanya mungkin sengaja diturunkan kata salah satu warga yang ditemui kami sedang asik menghabiskan sorenya duduk di tribun penonton.

Begitu juga dengan papan besar yang ada di pinggir lapangan, yang tadinya terlihat jelas nama UMS sekarang hanya papan putih yang tinggal.” rumah-rumah di samping lapangan yang jadi korban, warga sini tetap mempertahankan lapangan agar terus ada”. Ia pun kemudian menunjuk sambil berkata lampu sorot yang jumlahnya empat tiang itu, Gubernur foke lah yang dulunya meresmikan di tahun yang dia sendiri agak sedikit lupa kapan persisnya.

Ya, itulah lapangan sepakbola legendaris Klub Union Makes Strength atau yang biasa disingkat UMS, lapangan bola plus klubnya ini sudah berdiri sejak lama, bahkan ia telah ada sebelum negara ini memekikkan kemerdekaannya tahun 45. Alkisah Klub sepakbola UMS ini berdiri pada tanggal 15 Desember 1905 oleh almarhum Song Chong Sin, sebagai pendiri ia lantas ditunjuk sebagai ketua UMS untuk yang kali pertamanya. Nama UMS ini sendiri merupakan nama kedua karena awalnya bernama Tiong Hoa Hwee Koan Scholar Footbal Club. Banyak anggotanya berasal dari etnis tionghoa, markasnya sejak klub ini ada terletak di lapangan petaksinkian sampai sekarang.

Lapangan ini dulunya adalah sebuah kebun singkong, akan tetapi waktu sudah ditanami kebun singkong lagi pemiliknya lantas menyewakan kepada anak-anak Tiong Hoa Hwee Koan untuk dijadikan sebagai tempat latihan sampai tahun 1912. Searang tuan tanah Betawi yang bernama Haji manaf dengan senang hati menyewakan tananhnya ke UMS mulai tahun 1913.

Harga sewa ketika itu sebesar 6 gulden dan disertai ijin untuk menebang pohon kelapa yang tumbuh disekitarnya. Hanya saja penebangan setiap pohon itu juga dikenakan biaya. Untuk setiap pohon tua sebesar 5 gulden, dan setiap pohon muda dikenakan ongkos 12.50 gulden. “…..Tanpa memungut dermaan dari orang luar, beaja meratakan tanah lapang itu dipikul oleh Sdr. Oey Keng Seng dan Louw Hap Ie dengan tjara jang sangat mengharukan hati. Sdr. Oey Keng Seng telah menjumbangkan sebuah sepedanja jang masih baru, diturut oleh Sdr. Louw Hap Ie jang memberikan sepedanja jang lama. Sepeda itu jang sangat diperlukan oleh Sdr. Oey dan Louw telah salin rupa mendjadi tanah lapang sepakbola UMS kini…..”

UMS bukanlah satunya-satunya klub bola yang berdiri pada awal abad ke 19 di ibukota pada masa pemerintahan Hindia Belanda, tercatat ada pula Voetbalbond Indische Omstreken Sport atau VIOS yang bermarkas di Viosveld (Taman Menteng) dan yang lainnya. Kemudian ada VIJ (Voetbalbond Indonesish Jakarta) yang merupakan cikal bakal Persija dan bermarkas di Petojo. Stadion VIJ ini menjadi sejarah perjalanan klub sepakbola Jakarta, Persija. Di Surabaya ada klub Patjarkeling yang didirikan oleh haji Muhamad Zen di tahun 1902. Muhamad Zen memimpin klub ini sampai tahun 1922. Di Surakarta, muncul klub sepakbola Romeo, Mars, Kars, Truno Kembang, Maz Dez, Tjahja Kwitang, Star dan lainnya. Klub-klub sepak bola Tionghoa yang muncul antara lain Tiong Hoa Oen Tang Hweee-UMS di Batavia; Tionghoa Surabaya; YMC Bandung dan Union Semarang.

UMS ketika itu dikenal bukan hanya jagoan kandang tetapi telah menjelma sebagai perkumpulan yang suka “menyambangi” perkumpulan sepakbola lainnya di luar Jakarta. Pada tahun 1917 UMS melakukan lawatan untuk bertanding ke Cirebon dan berhasil memenangi pertandingan. Berkali-kali UMS menjuarai kompetisi VBO, seperti di tahuh, 2930,1932,1933,1934,1937, 1938 dan 1939.

Walaupun sebagin besar klub sepakbola yang didirikan dan mayoritas pemainnya berasal dari Etnis Tionghoa, namun UMS berbeda lantaran klub olahraga ini tidak bersifat ekslusif, awalnya memang UMS hanya merekrut pemain-pemain non-priobumi, akan tetapi pada tanggal 26 Februari 1950 bukan hanya warga tionghoa saja yang bisa diterima menjadi pemain, dan pemain pribumi pertama yang masuk di dalamnya adalah Djamiat Dhalhar.

Klub sepakbola ini merupakan sekolah bola pabrikan yang banyak melahirkan pemain-pemain handal di masanya berkat sistem pembinaan yang diterapkannya, dapat disebutkan mulai dari Tio Him Tjiang pada dekade 1950-an. Bukan saja di era Tio Him Jiang saja, UMS pun menjadi juara antar klub Persija. Sebab di bawahnya masih ada lagi pemain-pemainm berikutnya yang tidak asing lagi di dasawarsa 1960-an, seperti Reni Salaki, Yudo Hadiyanto, risdianto. Belum lagi Mulyadi, Surya Lesmana, Sugeng Haryanto,Kiak Sek, Sin chiang yang olympiade dulu tahun 50-an yang lawan Rusia dan yang lainnya. dari dulu pemain-pemain UMS selalu menjadi andalan Persija dalam berbagai kompetisi dan turnamen

Pada dasawarsa 1950-an dengan diarsiteki oleh legenda persepakbolaan nasional Endang Witarsa yang telah tutup usia di tahun 2006, UMS berhasil menorehkan prestasi sebagai juara kompetisi perserikatan Persija sebanyak tiga kali. Pada musim kompetisi 1969-1960, UMS bahkan keluar sebagai juara yang tidak terkalahkan.

berbicara soal Sepak bola pada dekade 1950-an dan 1960-an ketika itu sekitar 50 persen pemain tim nasional (timnas) Indonesia adalah warga etnis Tionghoa. Namun sejak peristiwa berdarah G30 S warga keturunan Tionghoa mulai menjauhi dunia sepak bola.

PKI yang menjadi kambing hitam dalam tragedi nasional ini diidentikan dengan etnis tionghoa sehingga mereka takut melakukan aktivitas massal di ruang terbuka. Hal ini juga diperparah dengan kebijakan pemerintah dimasa lalu yang kerap mendiskriminasikan etnis Tionghoa diberbagai bidang kehidupan termasuk diantaranya di arena olahraga. Sepakbola saat itu dianggap sebagai cabang olahraga yang nampaknya hanya pantas dimainkan oleh warga pribumi.

Sejak akhir dekade 1970-an dan awal 1980-an pemuda keturunan Tionghoa seperti kehilangan minat pada sepakbola, mereka cenderung memilih tenis, bulutangkis dan bola basket sebagai ajang olahraga yang digelutinya.Namun dalam eksitensinya selama bertahun-tahun, UMS telah membina ratusan pemain di lapangan rumputnya dan diangkat ke tingkat yang berkualitas, sebagiannya menjadi pemain andalan untuk Persija Jakarta dan sebagiannya lagi mampu untuk bercokol lama di bawah bendera merah putih PSSI. Yang terakhir, UMS berhasil melahirkan mantan penyerang Tim nasional Indonesia, yaitu Widodo Cahyono Putro yang tidak lain adalah penyerang yang mencetak gol terbaik di Piala Asia tahun 1996 dengan gaya khas saltonya.

Sebagai sebuah klub olahraga, UMS ini juga mengalami pasang surut, klub yang berlokasi di kawasan Jakarta Barat ini pun didera masalah dalam pembinaan dan minimnya sarana dan prasarana yang akhirnya harus “berpuasa” dalam menyumbangkan pemain-pemain binaan untuk tim Garuda merah putih. Seperti yang diungkapkan mantan Ketua I UMS Yohannes Mulyadi” Ya, kami akui UMS sekarang tidak seperti dulu. Kami mulai kesulitan melahirkan pemain-pemain yang bisa diproyeksikan untuk timnas” kata dia kepada penulis beberapa waktu yang lalu

Akan tetapi perlahan tetapi pasti, UMS tak patah arang dalam membina dan mencari bibit unggul para pemainya dan sekarang UMS sendiri malah memiliki pemain dari usia 8 tahun hingga pemain senior di atas 20 tahun yang keseluruhannya mencapai 400. Banyaknya mereka yang tergabung dalam UMS ini merupakan bukti bahwa antusiame pun tidak kalah apabila dibandingkan dengan zaman dulu, ”Soal antusiasmenya justru kalau kita lihat sekarang luar biasa kemarin saja saya lihat, orang tua ibu-ibu sama bapak-bapak sampai mengantarkan anaknya ke lapangan, parkiran motor sampai penuh puluhan motor ada disana” kata dia.

Roda zaman terus bergerak, UMS pun tergerus oleh prahara yang menggendap yang akhirnya muncul ke permukaan,lapangan sepakbola yang menjadi tempat latihannya anak asuh UMS sejak berdirinya di awal abad 19 masuk dalam ranah hukum. Hak kepemilikan mereka atas lapangan petaksingkian digugat oleh pihak lain yang mengkllaim tanah itu adalah miliknya. Seperti berdiri di atas rumput yang bergoyang, status kepemilikan tanah lapang UMS sewaktu-waktu dapat berpindah tangan dan diklaim oleh pihak lain sekaligus mengancam eksistensi dari UMS.

Prahara gugat menggugat itu dimulai ketika UMS menyewa kebun milik Haji Manaf di tahun 1913 untuk digunakan sebagai lapangan sepakbola, kemudian pada tahun 1953 UMS membeli lapangan itu dari Manaf. Namun saat pihak UMS mengurus surat-surat di Badan Pertanahan Nasional , anaknya Abdul Manaf ternyata menjual lapangan itu kepada pihak yang lain. Tahun 1974 UMS dan pihak pembeli mulai terlibat saling klaim atas lapangan itu dan urusan sengketa ini cukup lama tersangkut di BPN (Badan Pertanahan Nasional). Akan tetapi pada tahun 1998 BPN memutuskan lapangan itu atau lapangan petaksinkan itu adalah sah milik UMS, namun hal ini belum berakhir karena akibat keputusan itu BPN lantas digugat oleh pihak keempat atau pihak pembeli tanah.

Lewat abdul manaf, BPN digugat di pengadilan tata usaha negara karena mengeluarkan keputusan itu., UMS juga ikut digugat karena dianggap mengintervensi keputusan BPN tersebut. Pengadilan TUN (Tata Usaha Negara) itu memenangkan pihak keempat dan karena merasa dirugikan UMS mengajukan banding ke pengadilan tinggi tata usaha negara. Putusan pengadilan tata usaha negara itu memenangi pihak UMS, akan tetapi pihak keempat mengajukan permohonan Kasasi ke MA atas keputusan itu.

Tahun 2000 keputusan (Mahkamah Agung) MA menguatkan UMS sebagai pemilik sah tanah itu, pihak keempat belum merasa puas, pada tahun 2001 mereka menggugat UMS secara perdata di pengadilan negeri Jakarta barat dan pengadilan negeri Jakarta barat memenangi pihak sana bukan UMS. Seperti yang dikatakan oleh salah satu pengurus UMS “….Di Tahun 2001 penggugat menuntut secara perdata, dan dari sana pihak kita kalah terus. Perkara perdata entah bagaimana karena kita ada yang mengurusi soal pengadilan ini, pengacara kita sifatnya lebih ke sukarela dan telah berusaha semaksimal mungkin. Selama ini kita hanya mengurusi soal sepakbola saja dan tidak hal lainnya seperti kasus yangmenimpa kami ini sekarang…” kata salah satu pengurus UMS.

Lapangan hijau pun harus berakhir oleh ketukan palu di meja hijau, Putusan PN Jakarta Barat pada 5 september 2002 memenangkan penggugat. Dalam (Peninjauan kembali) PK di MA pada 12 Juni 2008 majelis memutuskan memperkuat putusan PN Jakarta Barat sehingga ahli waris wagiyanto, yaitu tetti hertika, wibisonono, arie lesmana dan andy krisnandhy berhak menguasai lapangan yayasan UMS. Eksekusi PN Jakarta Barat pun dilakukan oleh juru sita B Sitanggang, dengan pengawalan ketat dari ratusan petugas gabungan TNI/Polri, dan Satpol PP.

Banyak dari mereka menyesalkan hilangnya lapangan ini, nampak ratapan kehilangan tanah lapang UMS dari raut muka Paulinus Rapang (16) siswa sekolah sepak bola UMS. Dengan mata berkaca-kaca ia mengaku sedih dengan kejadian tersebut. Padahal, selepas SMP ia jauh-jauh datang dari Papua hanya untuk menjadi pemain sepak bola profesional seperti idolanya “Saya tidak tahu harus bersikap seperti apa, karena dengan telah diambilnya lapangan ini saya dan teman-teman lainnya bingung harus berbuat apa dan nantinya akan berlatih di mana kalau lapangan ini tidak ada? Kata dia. (berbagai sumberdan gambar dari beritajakarta.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 23 October 2012 by in olahraga.
%d bloggers like this: