Berapa banyak band-band Indonesia dapat melakukan lawatannya ke luar negeri khususnya ke Asia pada dekade 1960-an, Jumlahnya mungkin banyak dan dua dari band yang melakukan perjalanan itu adalah The Step dan The Disc.

Dengan pimpinannya Tinton Suprapto, ia mengawal The Step pergi ke Singapura dengan biaya sendiri tanpa ada kontrak dari siapapun. Konon uang yang dibawa oleh The Step hanya untuk makan sekedarnya, sehingga setibanya disana terpaksa mereka harus mencari pertolongan dari warga Indonesia yang tinggal di Singapura. Pertolongan pertama datang dari teman ayahnya salah satu personil The step yang memberikan 2 buah kamarnya untuk penginapan The Step. Sebuah kamar dipakai oleh Sandra Sanger dan May Sumatna, sedangkan kamar satunya oleh Iman, ismet, ferly, didi Hadjoe dan Tinton Soerapto.

Aktivitas grup yang dulunya bernama Diselina ini di Singapura dimulai dengan datangnya bintang penolong yaitu Lee H King atau mister Lee. Lee H King bekerja di Phillip sebagai manajer bidang recording menjadi salah seoarang yang membantu The Step untuk rekaman selama disana. Mister lee ini ikut berperan memajukan reputasi band itu di forum Internasional.

Peranannya ia menjadi penolong hampir semua artis-artis Indonesia atau musisi yang datang dan mengalami kesusahan di Singapura. Selain rekaman, The Step juga diberikan kesempatan untuk unjuk gigi di panggung negara dan dan mendapat kontrak untuk pentas di Night Club di Singapura.

Sukses yang dicapai The Steps dalam pertunjukan di panggung negara ini membawa grup tersebut ke arah jalan terang untuk masa depannya. Salah seoarang manager Night club singapura yang menyaksikan show tersebut telah datang dan meminta agar The Step bersedia manggung dalam Night Club tersebut. Dengan berhasilnya The Steps mendapat kontrak untuk bemain dalam suatu Night Club dapat dikatakan bahwa The Step adalah satunya-satunya band yang pertama bermain dalam night club di Singapura Kuala Lumpur dan Hongkong.

Memang sebelumnya The Steps menginjakkan kakinya di kota-kota tersebut sudah ada band-band yan berasal dari Indonesia yang datang dan bemain di Singapuradan Kuala Lumpur tetapi band-band tersebut hanya pentas dalam pertunjukan tertentu saja dan kemudian balik kembali ke Indonesia. Sebaliknya The Step setelah bermain dalam Night Club-club tersebut terus menetap di kota-kota itu

Sebelum The Step behasil dan dipercaya untuk bemain dalam night Club maka band-band dari Philipina lah yang mendominasi dan memegang supremasi untuk bermain di Night-night club di Singapura, Kuala Lumpur, Hongkong banyak dikuasai oleh band-band dai Philipina. Demikian dipercayanya band-band Philipina ini menawarkan diri untuk main di sebuah Night Club di kota-kota tersebut, pastilah 99% akan dipercaya untuk tampil.

Di Hongkong semua Night Club diisi oleh band-band Philipina an satu-satunya band Indonesia yang mana disini adalah The Step sendiri tidak kalah dengan band-band dari Philipina baik dalam teknik maupun dalam peralatan. Untuk bersaing The Step pun mempergunakan instrumen musik tiup karena band-band Philipina mempergunakan instrumen ini.

Dalam jangka waktu 4 bulan disana, The Step mereka 156 judul lagu di Phillip, Polydor, Pop Sound. Dari 156 judul yang diselesaikan pada atahun 1969. The Step sendiri merekam 44 judul sedangkan yang lainya adalah merupakan rekaman the Step dalam mengriringi artis musik pop seperti Sangar, Marini, Aida Mustapha, Norma Sanger, Diah Iskandar, Elly Kasim, dan Myriam Frances.

Selama di Singapura The Step bersama Sandra dan Marini sering mngisi acara-acara di TV dan Radia Singapura. Disamping itu The Step pun pernah muncul pula di pertunjukan yang menghidangkan acara-acara bersama Siah Iskandar dan Elly Kasim yang kebetulan datang ke Singapura.

Pada akhir April 1969 The Step muncul di Kuala Lumpur yaitu di Federal Hotel. Kesempatan yang baik ini tidak dilewatkan demikian saja oleh TV Malaysia dan The Step pun akhirnya berhasil dikontraknya untuk mengisi 10 acara yang diselenggarakannya. Sandra Sanger dan Marini keduanya sangat mahir menyanyikan bermacam-macam tipe lagu dalam bahasa Indonesia, Inggris, Jermab dan Belanda. Di Singapura, Sandra Sanger terkenal dengan lagunya Why Say Goodbye dan Ayo Mama, sedangkan Marini terkenal karena dua lagu yang merpakan pemenag I dan II dalam European Song Festival yaitu La La La dan “Congratulation”. Suara emas Sandra Sanger akan diedarkan oleh Polydor dalam bentuk LP album yang diberi judul Rain and Tears serta Time Will Never Change My love. The Steps yang para pemainnya terdiri atas: MA Imran (Lead gitar), Ismet Yanuar (Rhytem Gitar dan vokalis), May Sumarna (Bass Gitar), MS Ferly (Drum), Didi Hadju (organ/piano). The Step pada tahun 1969 telah menyelesaikan pula sebuah album yang diberi judul Non-Stop Soul 1969.

Ada dua dua tugas yang diperjuangkan oleh para anggota band ini ketika berada di Singapura, pertama bermain di club amalam. Kedua selama berada di Singapura mereka menampilkan berbagai lagu-lagu Indonesia sampai ke lagu keroncong. Mereka banyak menyajikan beat keroncong yang dikemaskan dengan lagu-lagu yang disajikan. Suksesnya The Step juga ikut ditentukan oleh kehadiran penyanyi Sandra Sanger dan Marini.

Kehadiran sebuah grup band di luar negeri merupakan promosi bagi kebudayaan Indonesia. Karena melalui musik dari The Step, bukan saja pendudukn negeri ini yang mengenalnya tapi juga para wisatawn yang datang dari luar.

Selain kedua penyanyi itu masih ada beberapa penyanyi lainnya yang tampil bersama The Step seperti Ivo Nilakresna yang tekun membawakan lagu-lagu Indonesia antara lain ciptaan Arimah/Maladi, di bawah Sinar Bulan Purnama, Bandar Jakarta (ciptaan Iskandar), Mutiarakau (Harry Singgih) jail-jali, Serangkai Bunga Mawar (Oei Yok Siang)

Bagaimana dengan The Step, The step adalah salah satunya band hiburan yang muncul di Jakarta sejak tahun 1969. Melihat dari urutan nama-nama pemainnya yang terdiri atas remaja-remaja yang cukup berpengalaman dalam bidang musik pop, walaupun sebelumnya mereka berasal dari macam-macam band, cukuplah memberiakan bukti bahwa band ini bukanlah band sembarangan. Lima anak muda yang berbakat musik itu,. Arnold Portier (gitar), Gatot Sudarto( Bass) ex-Buana Suara , Jopi Item (Melodi) ex-Buana Suara dan Eka Sapta, Andy (organ) ex pemain organ band sonata dan Riza’s dan Moteh Mokoginta (drum) muncul di cakrawala musik hiburan sejak Agustus 1969 di Jakarta.

Band ini didirikan berkat usaha dari sponsor karena tanpa sponsor dan tanpa pendorong dari pendirinya HW Sibbald band ini mungkin susah untuk muncul ke permukaan. Peranan dari sponsor juga tidak dapat dikesampingkan, sponsor menyediakan kebutuhan perlengkapan alat musiknya. Keberadaan alat musik itu ditunjang dengan kemampuan musikalitas yang dimiliki oleh para anggotanya.

Setelah beberapa tahun, jika kehadiran awal The Disc hanya dimotori oleh lima anggotanya maka kemudian ikut bergabung Yance (Bass), Gandrung (Saksofon). Diakui jika pada aransemen musik ada istilah change key, pertukaran nada, kenyataan dalam band ini ada beberapa anggotanya beralih dengan hormat ke band lain seperti Yopi Item dan Mohek Mokoginta. Hal ini lumrah terjadi di dunia permusikan seperti yang dikatakan oleh Gatot Sudarto. Untuk mempertahankan kehadiran tetap The Disc, setiap pemain dalam band ini mampu memainkan beberapa alat musik. Gatot Soedarto bisa tampil sebagai pemain gitar, Johnny Swadie dapat bermain drum.

Mengenai prestasi The Disc antara lain pengalaman di pentas penampilan di TVRI ditempuh, sempat terjun dalam dunia rekaman sebanyak empat kali. The disc pun pernah mencicipi pentas di luar negeri dan sempat mengadakan pertunjukan di Imperial Hotel Singapura, Tropicana Night Club, dan beberapa negara Eropa. Berbekal pengalaman di luar negeri, dapat terlihat bagaimana sambutan penonton, selera mereka, pengunjung, akustik panggung, tata suara dan lampu dan penyusunan acara.

Walaupun The Disc bukan sejenis band rekaman ada sedikit rekaman yang dihasilkannya, namun tak jarang pula band ini mendapatkan undangan ke daeah-daerah seperti Bandung, Cirebon, Yogyakarta dan Surabaya. Namanya juga band pengring, beberapa penyanyai pernah diiringanya, seperti penyanyi Sitompul Bersaudara, Ida Royani dan Nenny T

Lagu Kota Jakarta yang dinyanyikan oleh biduawanita yang tak lekang dimakan zaman ,Titik Puspa merupakan hasil ciptaan Gandung (The Disc), selanjutnya juga lagu Mama, Setitik Embun dan Kau Pergi. Selain itu mereka juga pernah dipercaya sebagai pengigi ilustrasi Film Bing Slamet sibuk dan pernah bermain dalam film Di balik dosa

Band yang mempunyai singkatan Djakarta International Saddle Club karena para anggotanya menyukai kegiatan berkuda, ini pernah memperoleh penghargaan sebagai band pengiring terbaik Indonesia dan tak ada kata tua dalam kamus musik meurut Gatot Soedarto karena sampai sekarang anggota The disc tetap setia sebagai musisi walaupun sudah jarang muncul di depan umum. Formasi lengkapnya Arnold Portier, Andyono Arie, Gandrung suardi, Johnny Swadie dan Yance yang dulu pernah mengiringi penyanyi Rita Nasution. (berbagai sumber)