Sebutlah dia Ita seorang wanita muda penjaja diri di sekitar perempatan jatinegara, berbincang-bincang dengannya ditemani oleh keremgan lampu jalan dan kopi hangat di sebuah kedai minuman pinggiran jalan. Banyak cerita, Ia pun berkisah tentang pengalamannya ketika dia interview oleh seoarang wartawan dari salah satu stasiun TV di Jakarta.

Panjang lebar ia bertutur, ternyata menarik juga ceritanya sampai ia mau untuk diwawancarai oleh wartawan tv itu. Sedikit gambaran bahwa Ita ini merupakan salah satu dari beberapa wanita yang tetap setia mengadu demi sesuap nasi dan kelangsungan hidupnya di daerah jatinegara tidak jauh dari pintu rel dan stasiun kereta jatinegara.

Duduk di warung minuman setiap malam seraya berharap ada seseorang yang mampir di kedai tempatnya mangkal dan mengajaknya untuk berkencan. Singkat kata kehidupan wanita malam ini cukup menarik untuk disimak cerita sekaligus deritanya jadi bagimana kisahnya.

Alkisah berawal pada suatu malam, wartawan itu berdiri di dekat tempat biasanya ia mangkal di warung minuman itu, mungkin karena penasaran melihat pria itu hanya berdiri saja sambil merokok dan menoleh kesana kemari, Ita pun menghampirinya dan bertanya kepadanya “mas, mau kemana jalan yuk daripada disini saja”kata ita, si wartawan itu pun menanggapinya dengan berkata,” mbak mau gak saya wawancarai kalau gak mau siapa saja deh nanti saya bayar temannya juga boleh”. Ita berpikir mungkin dia adalah seoarang wartawan, tetepai hatinya masih ragu apakah benar ia adalah wartawan karena penampilannya tidak seperti wartawan dan sepertinya tidak peduli wanita yang akan diwawancarainya itu berusia muda atau pun tua yang penting ia bekerja sesuai dengan profesinya.

Pada awalnya Ita enggan untuk diajak interview, dan ia bertanya untuk keperluan apa dia diwawancarai. Wartawan itu berupaya menjelaskan maksud dan tujuannya ”kalau gak mau juga tidak apa, tapi kalo gak ada yang lain mbak sajalah saya yang wawancarai” ungkap dia.

Ita pun akhirnya mengiyakan ajakan wartawan itu untuk menginterview dirinya dan mengajaknya ke tempat motel yang biasa ia berkencan denga tamunya dan tentunya dengan harga yang telah disepakati oleh keduanya, motel kelas melati itu terletak masih dalam kawasan jatinegara.

Sesampainya disana apakah wartawan itu hanya interview saja atau adakah ada aktivitas lainnya di dalam kamar seharga Rp. 60.000 untuk sekali kencan shorttimenya. “yah saya juga akhirnya kencan juga sama dia di ranjang” ungkap Ita sambil tertawa. Kencan di ranjang maksudnya, ternyata wartawan itu juga tak lebih dari seorang manusia biasa yang dilengkapi dengan nafsu birahi.

Lantas bagaimana dengan permainannya memuaskan tanya penulis, ”sayang mainnya cepat karena gak lama ia sudah “keluar”” kata Ita dengan jujurnya. Soal apa yang ditanyakannya, ita menjawab dia banyak menanyakan soal berapa lama dia bekerja seperti ini, berapa penghasilannya yang biasa diterimanya dalam semalam, dan alasan kenapa bekerja seperti ini dan yang lain-lainnya. “ bayarannya full kok jadi ya saya ladeni aja” kata Ita.