Catatan Kata Kelana

Pro dan Kontra Musik Congrock 17

Banyak musisi keroncong mengatakan bahwa bentuk alat musik keroncong adalah baku. Seringkali hal ini menjadi hambatan bagi para musisi muda untuk mengenal serta mendalami musik keroncong. Dalam hal ini sering pula para kelompok musik remaja mendapat kecaman dari para “musisi tua” keroncong.

Ada juga pendapat yang mengatakan selama itu tidak menghilangkan khas dari musik keroncong, hal itu dianggap wajar-wajar saja. Sesuai dengan perjalanan waktu, pengembangan musik keroncong terus terjadi dan bisa memancing tanggapan pro- kontra, salah satunya apabila itu menyangkut improvisasi vokal, organ, gitar, dan bass elektrik dalam musik keroncong. Permainan-permainan improvisatoris yang ditunjang dengan derasnya perkembangan musik modern Indonesia, secara tidak langsung akan membentuk gaya yang merupakan ciri dari kelompok-kelompok musik keroncong di Indonesia.

Pembawaan secara berkelompok ini yang menghasilkan timbulnya orkes keroncong di Indonesia sering berlainan, dan hal inilah yang mengakibatkan timbulnya berbagai gaya musik keroncong di Indonesia. Di tengah perkembangan pesat kelompok musik Congrock 17, dalam masyarakat musik saat itu khususnya masyarakat musik keroncong di kota Semarang terjadi pro dan kontra perihal corak musik yang disuguhkan dan alat musik yang digunakan oleh kelompok musik ini. Congrock 17 dituding sebagai “perusak” musik keroncong oleh sebagian kalangan musisi keroncong yang kontra terhadap suguhan musik yang disajikan oleh kelompok musik Congrock 17

Pihak yang tidak setuju mengganggap kelompok musik Congrock 17 tidak lebih hanya ingin merusak pakem musik keroncong yang ada. Seluruh ide dan gagasan kreativitasnya, baik dari sisi instrumen, pola permainan, penggunaan cengkok, hingga lagu-lagu yang dibawakan dianggap keluar dari koridor tradisi yang biasanya berpegang pada gaya moresko, langgam, dan stambul sebagaimana umumnya musik keroncong. Seperti yang dikatakan oleh Soebarjo H.S., tokoh musik keroncong:“Orang mau membikin keroncong dengan cara apa saja atau dimainkan dengan model bagaimana saja silakan. Tapi jangan melanggar aturan, keroncong itu kan punya pakem? Keroncong juga punya format standar”. Tidak diijinkannya kelompok musik ini untuk mengikuti lomba keroncong yang diselenggarakan oleh “buaya-buaya” keroncong HAMKRI di RRI pada tahun 1984 merupakan salah satu pelarangan yang ditujukan oleh kelompok musik karena alat musiknya tidak standar dan musik keroncongnya tidak asli.

Congrock yang ketika itu masih bernama Keroncong Remaja 17 tidak dapat mengikuti perlombaan tersebut karena menurut pihak penyelenggara mereka tidak mempunyai pemain biola, sedangkan persyaratan yang disebutkan oleh pihak penyelenggara (RRI) adalah harus ada pemain untuk cello, cak, cuk, biola, gitar, bass, dan flute. Menurut Hari Joko, sebetulnya mereka ingin ikut berpartisipasi dalam lomba tersebut dan soal menjadi pemenang atau tidak itu nomor sekian (bukan tujuan utama menjadi pemenang), akan tetapi sebetulnya mereka ingin menampilkan musik keroncong yang berbeda dari yang lain, karena saat itu seperti yang diakuinya bahwa mereka masih muda dan menginginkan suatu perubahan.

Namun terlepas dari anggapan tersebut, Congrock 17 berprinsip bahwa pakem itu terletak kepada birama, bunyinya dan bukan terletak pada alat-alatnya. Musisi-musisi keroncong memang tidak boleh meninggalkan alat-alat yang sudah baku, seperti: banjo, flute, biola, ukulele, bass betot dan gitar. Hal inilah yang kemudian tidak sepaham dengan kelompok musik Congrock 17, ketika ada alat-alat musik tersebut, Congrock 17 justru menambahnya dengan alat-alat musik lain dan lantas kemudian diangap “merusak”, selain faktor di atas, temponya juga telah berubah menurut “buaya-buaya” HAMKRI. Marco Manardi mengatakan Pakem keroncong itu menurut (hamkri), harus terdiri atas tujuh alat: gitar, ukulele, cak, bass, dan sebagainya) dan itu tidak boleh dilanggar. “Kami pun bertanya bahwa yang memakemkan keroncong itu siapa dan yang membuat pakem itu siapa. Kami menyebutkan, karena pada waktu itu alatnya hanya itu saja, maka itu menjadi pakem keroncong, sekarang kenapa ada alat-alat musik lain kenapa tidak bisa menjadi pakem keroncong juga” kata dia.

Marco Marnadi mengibaratkan Congrock 17 pada saat itu seperti masuk ke dalam sebuah “penjara”, yang dimaksud Congrock 17 disini ialah dipenjara oleh seniman-seniman keroncong itu sendiri. Namun Congrock 17 bersikukuh untuk tetap berpendirian pada komitmen yang telah disetujui oleh para anggotanya dan tudingan hamkri tersebut, Congrock 17 membiarkan dan terus jalan. Terlepas dari tudingan tersebut, tujuan dari format musik yang disajikan oleh kelompok ini, seperti yang dituturkan oleh Marco Marnadi lebih ditujukan tentang bagaimana memasyarakatkan musik keroncong agar lebih disukai oleh generasi muda khususnya dan masyarakat luas pada umumnya, selain karena musik keroncong yang ditekuni oleh kelompok ini memang tidak linier.

Bagi masing-masing personil Congrock 17, mereka bukan hendak ingin menyepelekan musik keroncong, tetapi mereka membutuhkan penyegaran format musikal. Ciri khas musik pada kelompok musik ini bertumpu pada komposisi musik keroncong yang sebelumnya terdengar statis dan mendayu-dayu diubah menjadi lebih variatif dan dinamis dengan cara memasukkan beberapa unsur-unsur musik lain seperti: rock, salsa, rumba, jazz, dan sebagainya. Pada pembentukan karakter komposisi musiknya juga banyak dipengaruhi oleh masukan dari musisi-musisi ternama. Congrock 17 tidak ingin merusak dan hanya ingin menampilkan sesuatu yang lain, selain itu agar keroncong bisa disukai masyarakat yang lebih luas dan mempunyai generasi selanjutnya.

Karena dengan adanya Congrock banyak anak muda yang ingin belajar keroncong. Congrock 17 masih tetap memainkan musik keroncong yang tidak diselewengkan, contohnya sewaktu kelompok ini membawakan lagu keroncong yang berjudul Sapu Lidi, di dalam lagu tersebut tidak ada yang “diplesetkan” dari segi melodi maupun liriknya dan ini merupakan bukti bahwa mereka masih menghormati kesucian dari musik keroncong.

Walaupun Congrock 17 juga menyadari bahwa mereka memang “merusak” musik keroncong, tetapi kelompok ini berusaha untuk bertanggung jawab dan bentuk tanggung jawab itu terlihat dari cara Congrock 17 dalam memainkan idiom-idiom musik keroncong yang masih tetap dijaga. “Walaupun pada saat itu kami dianggap merusak musik keroncong, tetapi kami sangat menghargai ide-ide leluhur, dan jika ada yang meminta kami untuk memainkan keroncong dengan benar maka kami siap, hal itu kami lakukan sebagai bentuk tanggung jawab kepada musik keroncong”kata BJ Haryanto.

Almarhum Kelly Puspito, maestro musik keroncong Indonesia dalam menganggapi kelompok musik Congrock 17 mengatakan bahwa musik mereka tidak seperti layaknya musik keroncong lainnya yang pernah ada. Dalam salah satu pentas musik Congrock 17 yang dihadiri oleh Kelly Puspito, ia menanggapi permainan yang dibawakan oleh Congrock 17″Thuthukan drame Ferry Dharyadi, aneh-aneh suarane. Juga petikan cuk yang sak karepe dhewe, sampai-sampai bikin intro dan ending musiknya bisa beda, namun nyaman di telinga” tuturnya. Kelly Puspito merupakan salah satu musisi keroncong yang mendukung kehadiran kelompok musik Congrock 17, di saat musisi-musisi keroncong lainnya menyerang mereka habis-habisan pada dasawarsa tahun 1990-an.

Apabila ada yang bertanya apakah Congrock 17 itu merusak atau tidak pakem musik keroncong. Kelly Puspito mengatakan kelompok ini tidak merusaknya karena masing-masing musisi mempunyai kemauan dan selera masing-masing serta masih terdapatnya bunyi cuk di dalam lagu-lagunya dan seperti inilah dasarnya dan di musik Congrock 17 sendiri masih terdengar bunyi instrumen cuk-nya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Kartiman yang merupakan penggiat HAMKRI Semarang, beliau setuju dengan kreativitas musikal yang Congrock 17 lakukan, walaupun kelompok ini masih sedikit banyak memprioritaskan pada lagu-lagu pop, dan hanya satu atau dua buah lagu keroncong yang keluar (ditampilkan). Congrock 17 merupakan trendsetter bagi “penyelewengan” musik keroncong, walaupun begitu, dalam perkembangan selanjutnya, muncul kelompok-kelompok musik keroncong lainnya yang membawakan warna musik yang sama dengan warna musik Congrock 17. Tidak jauh berbeda dengan yang diungkapkan oleh “bapak asuh” di awal kemunculannya Congrock 17 yaitu Ir. Budi Santoso yang berkata bahwa Congrock 17 telah menjadi inspirasi bagi kelahiran musik- musik kolaborasi generasi berikutnya. (Bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 23 October 2012 by in Lintasan Musik, Musik Keroncong, Sejarah Musik Indonesia.
%d bloggers like this: