Kiprah Rocker Gaek Ucok Harahap

Berdiri-berdiri di atas awan
Melayang-melayang setinggi bintang
itulah tujuan cita-citaku
diri ku haruslah menggapai bulan
(Mencarter Roket, Duo Kribo)

Bagi yang mereka yang pernah muda pada dekade 1970-an pasti tidak asing lagi dengan potongan lirik lagu di atas. Sepenggal lirik yang diambil dari Album Duo Kribo (duet Ucok bersama Ahmad Albar) dengan judul Mencarter Roket. Lagu ini merupakan salah satu dari banyak lagu keras yang diciptakan oleh Ucok Harahap selepas ia hengkang dari grup musik rock AKA yang membesarkan namanya. Ia merupakan sesosok roker fenomenal yang sarat dengan sensasi pada masanya.

Kehadirannya menyemarakkan dekade di mana ketika itu gema musik rock terdengar begitu menggelora walaupun terlintas hanya sebatas gejala musiman. Dengan rambut kribo dan dandanan eksentrik yang menjadi trademark-nya, ditambah dengan aksinya yang selalu mengundang kontroversi di dalam maupun di luar panggung pertunjukan, kisah cinta dan kehidupannya, Ucok menderapkan langkah gegap gempita hidupnya sebagai seorang rocker gaek yang tidak pernah mengenal kata usia.

Ucok Harahap lahir di dunia pada tanggal 25 Mei 1944, banyak orang mengira bahwa darah yang mengalir di tubuh Ucok Harahap adalah darah arek Suroboyo murni, tetapi sebenarnya ia merupakan keturunan dari Tapanuli. Perjalanan hidupnya sebagai seorang musisi telah dijalani semenjak kecil. Pada umur 6 tahun ia sudah mendirikan sebuah grup band cilik dengan nama Kancil dan ia pun dididik keluarganya untuk mengenal tuts-tuts piano Ayahnya pak Harahap bukanlah seorang musisi, melainkan seorang pengusaha yang mengharapkan agar anak laki-lakinya ini bisa menggantikan kedudukannya kelak sebagai pemilik dan pengusaha apotik di Jl Kali Asin Surabaya.
Ucok ketika remaja mempunyai hobbi yaitu mendaki gunung dan menyepi sewaktu bersekolah. Hobby ini ia lakukan karena putus cinta gara-gara seorang wanita. Berawal dari cita-citanya yang ingin menjadi musikus yang mempunyai nama dalam blantika musik populer di Indonesia. Keinginan sang ayah untuk menjadikan Ucok sebagai penggantinya sirna sudah karena pembawaan darah Ucok lebih kuat pada bidang seni . Ketika usia beranjak dewasa dia melepaskan sisi kebocahannya dalam sebuah kelompok band dewasa.

Sebelum bergabung dengan AKA, Ucok telah keluar masuk sebanyak sembilan kali dalam band-band yang ada di Surabaya. Band-band yang pernah Ucok singgahi antara lain, band Safari, Varianada, Blue Jeans Box, Black Shadows, Bie Bos, dan lain-lainnya. Diantara banyak band yang pernah ia singgahi, ia kemudian merasa berada pada satu titik jenuh untuk terus ikutan-ikutan dalam sebuah band. Ia pun kemudian berinisiatif untuk membentuk bandnya sendiri, yang kemudisan diberi nama AKA. Nama AKA sendiri merupakan kepanjangan dari nama usaha ayahnya Apotik Kali Asin. AKA ketika terbentuk pada tanggal 23 Mei 1967 mendapat dukungan penuh dari orang tua Ucok, oleh karena itulah usaha keluarga berupa sebuah apotek di Surabaya menjadi sponsor utama dari AKA.

Namun demikian sampai dua tahun grup ini masih mencari-cari warna musiknya dan belum mendapatkan pemain yang tetap serta mutu yang meyakinkan. Baru kemudian setelah tahun 1970 tersaringlah empat orang anggota tetap, Ucok sebagai organis dan vokalis, Arthur Kaunang sebagai bassis, Soneta Tanjung sebagai gitaris, dan Syech Abidin sebagai drummer. Antara tahun 1969-1971, AKA sempat bermain beberapa kali di West Point Garden, Singapura.

Lagu dalam album pertama AKA berhasil menduduki tangga lagu pertama lagu-lagu Barat di radio Australia. Ucok mengakui, AKA banyak berkiblat kepada grup-grup musik dunia seperti Beatles, Led Zeppelin, Deep Purple, Black Sabbath, Grand Funk, dan Bee Gees. Tidak jarang AKA dalam pementasan panggungnya sering membawakan lagu-lagu yang digemari ketika itu oleh para pencinta musik rock tanah air, seperti lagu-lagu dari grup musik Blind Faith, Led Zeppelin, Deep Purple, James Brown dan Black Sabbath.

AKA perlu memainkan lagu-lagu dari kelompok musik luar negeri karena grup-grup besar itu sangat digemari di Indonesia. Ucok mendapatkan inspirasi musikal dari grup musik dan vokalis yang ia sukai yaitu, Deep Purple, alice Cooper, dan James Brown. Tetapi terdapat suatu keunikan bagi grup musik ini, karena diantara hingar bingar musik rock yang dinyanyikannya AKA dapat pula membawakan lagu-lagu Indonesia populer, tidak terkecuali lagu-lagu yang berlangggam Jawa.

Mengutip artikel yang berjudul Sejarah Musik Rock Indonesia yang ditulis oleh Wendi Putranto (Editor Majalah Rolling Stones Indonesia) yang menjelaskan bahwa Embrio kelahiran musik rock underground di Indonesia sulit dilepaskan dari evolusi rocker-rocker pionir era 1970-an sebagai pendahulunya. misalnya God Bless, Gang Pegangsaan, Gypsy(Jakarta), Giant Step, Super Kid (Bandung), Terncem (Solo), AKA/SAS (Surabaya), Bentoel (Malang) hingga Rawe Rontek dari Banten. Mereka adalah generasi pertama rocker Indonesia.

Istilah Underground digunakan majalah musik dan gaya hidup pionir asal Bandung itu untuk mengidentifikasi band-band yang memainkan musik keras dengan gaya yang lebih `liar’ dan `ekstrem’ untuk ukuran jamannya. Padahal kalau mau jujur, lagu-lagu yang dimainkan band- band tersebut di atas bukanlah lagu karya mereka sendiri, melainkan milik band-band luar negeri macam Deep Purple, Jefferson Airplane, Black Sabbath, Genesis, Led Zeppelin, Kansas, Rolling Stones hingga ELP. Tradisi yang kontraproduktif ini kemudian mencatat sejarah namanya sempat mengharum di pentas nasional

Berbicara mengenai konteks jaman ketika kali pertama istilah musik Underground itu tercipta pada dekade 1970-an, dikatakan bahwa Underground adalah suatu gerakan seni rock yang muncul di penghujung dasawarsa 1960-an. Underground hadir sebagai jawaban untuk musik yang mempunyai dua konteks, yaitu musik yang melawan arus komersial dan musik yang berani melakukan eksperimen bunyi dengan suara gegap gempita. Konotasi Underground menjadi semacam perlawanan terhadap trend musik yang berkembang pada saat itu.

Underground merujuk pada jenis musik hingar-bingar yang dibarengi dengan berbagai atribut nonmusikal, seperti rambut gondrong, pakaian awut-awutan, serta atraksi panggung yang teatrikal dan sensasional. Tidak berbeda dengan gaya Glamour Rock (istilah yang diciptakan oleh media cetak ketika itu) yang melanda musisi-musisi rock Indonesia. Ciri-ciri yang menonjol dari mode ini bisa dilihat dari tubuh yang sengaja dibiarkan kena angin, dada di tattoo, dilukis dengan cat minyak yang berwarna-warni. Pipi dicoreng-coreng atau diberi pewarna, rambut dibiarkan terurai ke muka sampai bahu Mode ini dapat dilihat dari band Ternchem dari Solo, dalam pertunjukannya di Surabaya, seluruh pemain-pemainnya dicat dan memakai Eye Shadow, Band God Bless dalam pertunjukan musik Summer 28, seluruh pemainnya juga dicat dan berpakaian unik-unik dengan begitu dengan warna-wana aneh itulah mereka berhasil memancing penonton untuk meresapi musik yang dimainkannya

Istilah underground dalam khasanah musik populer di Indonesia diperkenalkan pertama kali oleh majalah Aktuil. Istilah ini biasanya diidentikkan dengan grup band rock. Selain karena jenis musiknya, grup band rock kerap kali menyajikan aksi-aksi dan gaya panggung yang tidak umum dalam pertunjukan musiknya.. Band-band tersebut menghususkan dirinya dalam lagu-lagu yang keras, baik dalam pengungkapan orkestrasinya maupun dalam susunan melodinya yang memang menjauhi aliran nada-nada yang manis.

Tidak cukup banyak grup mengklaim dirinya sebagai pemusik underground itu atau dikalim oleh media dan Grup AKA merupakan penganut musik aliran ini walaupun masih dalam tahap experimen. AKA mengikuti aliran underground karena aliran musik ini sesuai dengan jiwa dan corak dari masing-masing personilnya. Akan tetapi untuk menyesuaikan dengan publik atau penonton, dalam setiap pertunjukannya AKA tidak harus selalu menyajikan musik underground saja. Menurut pengertian AKA, musik underground sendiri adalah musik yang diciptakan oleh musisi yang luar biasa, sebab di dalam underground terlebur segala macam aliran musik. AKA juga sanggup memainkan aransemen mulai dari keroncong sampai musik jazz yang berat atau menampilkan orcestra symphoni. Dengan nada merendah AKA memang menganut underground atau “ngandergrond”, tetapi AKA bukan atau belum merupakan band top underground di Indonesia.

Gaya panggung musik rock di Indonesia sudah meniru grup musik Barat sejak kemunculannya pada akhir tahun 1960-an dan salah satu grup band yang sering melakukan aksi ‘gila’ dalam pertunjukan panggung musiknya adalah AKA. AKA dengan vokalisnya Ucok Harahap semejak tahun 1969 sudah mulai merintis teori kijang dengan memperlihatkan gaya-gaya sinting dan gila. AKA menampilkan satu atraksi yang waktu itu belum pernah diintrodusir oleh grup manapun seperti coitus interaptus, teatral ala kebiasaan suku Indian kuno, peti mati dan tiang gantungan Seperti yang pernah diperbuatnya, ia membawakan permainan kesurupan dalam lagu Sex Machine dan yang amat sering mendemonstrasikan atraksi-atraksi kesurupan dengan rela dicambuk badannya.

Menyanyi sambil berlari-lari, bermain organ sambil memanjat ke sana dan ke sini dan ia pun bersedia dimasukkan ke dalam peti mati sebagai pelengkap atraksi panggungnya. Konsep performance yang terkesan raw seperti ini memang telah direncanakan sebelumnya sebagai sebuah hiburan tersendiri bagi audiences yang datang dari berbagai pelosok daerah. Komposisi hiburan panggung AKA sendiri kurang lebih 60% adalah musik sementara 40% adalah performance. Walaupun performance seperti ini seringkali dimaksudkan untuk menutupi ketakutan dan demam panggung Ucok AKA sendiri

Kerancakan Ucok dengan AKA-nya dapat terlihat dalam pertunjukan musiknya selama dua malam pada tanggal 9 dan 10 November 1973, AKA untuk pertama kalinya tampil dalam konser di TIM. Walaupun belum bisa disebut sebagai penampil musik bawah tanah yang sebenarnya, mereka memang sudah sepatutnya ditempatkan pada urutan pertama dalam deretan pemusik heavy rock and sound. Ucok AKA dalam pertunjukan diatas panggung menyambut para penonton cukup dengan sikap lengan keatas, tanpa ada secercah senyuman. Komunikasinya dengan penonton tidak begitu harmonis. Ucok hanya memperlihatkan kebolehannya saja, di samping raut mukanya yang keras dan jarang sekali tersenyum dan baginya tidak perlu berbasa-basi dan itu merupakan prinsip Ucok yang konon untuk mendapatkan predikat musisi yang disegani.

Dalam salah satu aksi pertunjukan musiknya, Ucok beraksi sambil membawa lagu yang berjudul Sex Machine, ia seakan-akan kesurupan dan memeragakan adegan bersenggama dengan salah satu alat musiknya. Kemudian dia keluar dari panggung, memanjat tembok dan ke atas genteng. Ketika muncul lagi di pentas, ia langsung buka baju. Membiarkan dirinya “dihajar” dua algojo, kakinya diikat dan digantung. Setelah “ditusuk” dengan pedang, ia dimasukkan ke dalam peti mati.

Di panggung ia mengenakan kostum semi ketat dan memang tidak padat disangkal bahwa tingkahnya di atas panggung Ucok Harahap tercatat sebagai yang paling gila diantaa musisi rock yang berkiprah di masanya. Ia sering kali muncul dengan goyangan-goyangan seperti seseorang yang sedang bersenggema. Adegan menggantung diri atau masuk ke dalam peti mati. AKA band memang gemar menampilkan aksi-aksi Ucok Harahap yang sensasional seperti Alice Cooper. Alice Cooper adalah musisi yang berasal dari Amerika yang setiap kali dalam pementasan musiknya selalu menghadirkan atraksi teatrikal di atas panggung, misalnya masuk dalam peti mati atau diikat di tiang gantungan, selain itu Alice Cooper dalam pertunjukannya juga menggunakan ular sebagai pelengkap aksi teatrikalnnya.

Dalam satu pertunjukan yang dihadiri tidak kurang 5000 penonton di Gedung Gelora Olahraga 10 November Surabaya, band AKA dengan maskotnya Ucok membuka acara dengan bertingkah seakan-akan kemasukan setan, ia naik tangga, naik ke tiang gantungan dengan kaki terikat ke atas kepala menjulur ke bawah sambil terus menyanyi lalu ditusuk-tusuk hingga keluar darah seperti di dalam film-film. Pada akhir pertunjukan Ucok digotong dan dimasukkan ke dalam mobil ambulance. Kejutan lain yang diperlihatkan oleh Ucok adalah ketika AKA bertemu Rollies di panggung Stadion Gelora 10 Nopember pada tanggal 8 Juli 1972. Ketika Rollies membawakan lagu-lagu Gone Are The Song of Yesterday, I Had To Leave You, dan sebuah lagu dari Iron Butterfly berjudul A Gadda Da Vida, tiba-tiba seorang muncul dari kerumunan penonton menuju ke depan panggung sambil memegang tongkat. Penonton gemuruh dan bersorak karena orang itu bukan lain adalah Ucok Harahap yang sengaja berada di antara penonton menyaksikan Rollies.

Dalam salah satu pentas AKA di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) tahun 1972, pada akhir acara, Ucok dirajam oleh para algojo dan kemudian dimasukkan ke dalam sebuah peti mati yang lalu dipaku. Seperti yang dituturkannya sebagai berikut : “Saat saya mau masuk peti, tiba-tiba di dalam peti seperti sudah ada orang lain. Saya masuk juga. Tubuh perempuan itu dingin sekali. Saya tendang-tendang tutup peti sampai pecah,” Ketika berhasil keluar, Ucok berlari karena dikejar “perempuan” tadi. Ia berlari tanpa takut ke atas genteng. Atraksi itu membuat penonton histeris. Bahkan, ketika Ucok jatuh setelah tersetrum listrik, para penonton masih histeris. Banyak orang menilai keeksentrikan gaya Ucok AKA yang diperlihatkan panggung sering dikaitkan dengan unsur magik, tetapi menurut Ucok AKA gaya yang dipertunjukannya itu hanya sebatas atraksi panggung.

AKA dan Freeman tampil dalam pertunjukan di Stadion Teladan Medan tanggal 3 dan 9 Agustus 1974. dalam pertunjukan ini sebenarnya tidak ada yang berbeda dari yang pernah mereka berikan kepada penonton-penontonnya di kota lain yang pernah mereka kunjungi, akan tetapi dalam pertunjukannya kali ini Ucok sama sekali tidak memperlihatkan gerakan-gerakan bersenggamanya, mungkin karena ia segan karema menganggap Medan adalah kampung halamannya.Ucok di atas pentas masih menampilkan cambukan dan tikaman pisau oleh seorang pembantu AKA. Setelah digantung, tubuh Ucok dimaksukkan dalam peti mati. Peti mati itu kemudian diusung ke dalam mobil ambulance yang sudah menunggu di belakang panggung.

Tidak semua aksi panggung yang ditampilkan musisi rock mendapatkan respon positif dari penonton. Hal ini seperti yang terlihat dalam pertunjukannya di Malang, Ucok Harahap lagi-lagi mendemonstrasikan aksi adegan bersenggama. Do you know sex tanya Ucok beberapa kali kepada penonton, kemudian ia langsung mengeliatkan-geliatkan tubuhnya di lantai dan di atas orgen, seperti orang yang sedang melakukan perbuatan senggama.

Pertunjukkan yang dinilai jorok itu tidak mendatangkan heboh di kalangan penonton. Begitu juga ketika mereka tampil di kota Tasikmalaya pada Juni 1972, di kota ini gaya panggung Ucok dan kawan-kawan tidak terlalu disukai oleh pecinta musik rock. Meskipun para penonton sempat meneriaki mereka, untungnya pertunjukan tidak berakhir dengan kerusuhan karena Band Rhapsodia, yang tampil sesudah mereka, berhasil menjinakkan penonton dengan lagu-lagu ala Santana serta lagu-lagu lokal.

Peristiwa serupa kembali berulang ketika AKA tampil di Gedung Kridosono Yogyakarta pada Juni 1974 bersama grup Giant Step asal Bandung. Para penonton yang tidak suka melihat atraksi Ucok tidak dapat dibendung lagi. alhasil mereka berteriak-teriak dan merusak gitar Arthur Kaunang, Ucok pun terkena lemparan kursi, dan kening Sunatha terluka parah akibat potongan kayu dan besi yang dilempar penonton. Ketiganya dirawat di RS Panti Rapih, Yogyakarta.

Terkadang AKA tampil biasa saja dalam pertunjukan musiknya. Seperti saat tampil bareng dengan grup musik rock Ternchem, asal Solo di Gelora Pancasila, Surabaya pada Maret 1973. AKA membuat kejutan di hadapan penggemar fanatiknya dengan tidak menonjolkan aksi-aksi yang eksentrik dan gila-gilaan seperti sebelumnya. Bahkan pembawaan Ucok ketika itu terlihat kaku, berbeda dengan Arthur Kaunang (bass, vokal) dan Sunatha Tanjung (leadguitar/vokal) yang justru lincah bergaya dalam aksi panggungnya.

Namun, aksi kalem Ucok ini ada latar belakangnya. Rupanya, Ucok seringkali mendapat surat teguran dari pihak berwenang. Lama kelamaan penonton kecewa dengan sikap Ucok. Untungnya, ia tidak kehilangan akal. Dalam satu pertunjukan, Ucok mengenakan dandanan ala priyayi Jawa, sorban, dan baju blangkon. Acara tersebut dihadiri juga pejabat kepolisian setempat. AKA yang tampil biasa-biasa saja tanpa peti mati dan tiang gantungan diperlihatkan juga ketika mereka pentas di Taman Hiburan Rakyat Surabaya tahun 1975.

Latar belakang penampilan AKA menyajikan segala macam gaya sensasi eksentrik menurut para anggota personilnya karena disesuaikan dengan lagu dan jiwa bandnya. Ekpresi dan kreasi seni ada bermacam-macam dan gaya underground adalah pilihan bagi AKA Ucok Harahap melakukan aksi pertunjukan sebagaimana yang dibayangkan oleh syair-syair lagu dari grup barat yang sering dibawakannya.Ucok menggolongkan penggemarnya dalam dua kategori, kategori pertama adalah golongan anak muda, mereka bagi ucok memeliki keasyikan tersendiri untuk melihat pertunjukannya, golongan kedua adalah golongan tua, golongan ini menurutnya hanya ingin mengetahui apa yang disebut sebagai musik Underground dan gaya yang eksentrik.

Selain itu gaya aksi panggung yang teatrikal wajar saja dilakukan di saat atmosfir pentas musik Indonesia dipenuhi oleh musik yang diistilahkan dengan ”sweet pop” yang diambil alih Koes Plus dan band band ”follower”nya semacam seperti The Mercys, Bimbo, Dlloy’d, The Favorites group dan Panbers. Untuk mengalihkan perhatian para musisi rock kemudian mencoba membuat atraksi yang sangat berbeda yang sifatnya teatrikal. Misalkan dengan mempertontonkan aksi penyembelihan kelinci yang dilakukan Mikey Bentoel, masuk peti mati dan digantung yang dimainkan oleh Ucok Harahap pada pertunjukan AKA, atau aksi bakar gitar

Terkadang bayang bayang sex, drugsdan rock n’ roll yang menstereotipkan kegilaan Ucok AKA memang telah melekat kuat dalam benak masyarakat. Walaupun untuk permasalahan drugs sendiri Ucok menyanggah dengan keras, ”Setiap performance saya selalu gila gilaan, butuh tenaga tinggi buat lompat lompat, jungkir balik sana sini dan digantung gantung, kalo saya pake drugs, gimana saya bisa kayak gitu” ujar dia

Walaupun lahirnya Orde Baru memberikan harapan cerah bagi para seniman musik karena seniman bisa dengan bebasnya mengekpresikan karya-karya yang menampilkan tema-tema serta gaya ungkap sesuai dengan gejolak hati nurani mereka. Akan tetapi kebebasan pada dasawarsa 1970-an masih dirasakan sebagai kebebasan yang semu karena masih terjadi aksi penyetopan acara-acara pertunjukan musik yang menampilkan aksi gaya panggung rocker yang dinilai ”ngak-ngik-ngok dan tidak sesuai dengan kepribadian nasional. Bahkan sebelum dekade 1970-an, pelarangan pentas suatu kelompok musik terjadi pada akhir dekade 1960-an. The Props dari Semarang dilarang pentas oleh tentara karena aksi pertunjukannya tidak sesuai dengan kepribadian nasional. Pernah juga ada yang ditahan karena seseorang yang bernama Martinus menyanyikan lagu-lagu frantik ala gitaris Jimmy Hendix sambil tidur-tiduran. Remy sylado dalam salah satu artikelnya yang termuat dalam majalah Aktuil mempertanyakan apakah itu kepribadian nasional.

Ia berpendapat semenjak kongres nasional tahun 1928, sebenarnya kita belum menemukan satu corak kepribadian yang benar-benar merupakan cakupan satu jiwa nasional dari sabang sampai merauke, selanjutnya didalam membentuk satuan yang nasional dalam musik, kita tidak usah terlalu fanatik terhadap ekses karena bagaimana pun juga kita tidak bisa menolak hukum akulturasi bahwa kebudayaan bukanlah milik satu bangsa dan kaum yang terpagar rapat-rapat. Setiap generasi mempunyai derap langkah yangberbeda-beda antara satu dengan yang lainnya dan berilah kebebasan kepada mereka sebab mereka hendak atas kebebasan itu.

Aksi dan gaya panggung para musisi rock sudah mampu membuat pusing kepala para aparat keamanan. Tepatnya di Surabaya pada tahun 1972 Ucok Harahap dengan AKA-nya berkali-kali berurusan dengan pihak berwenang setempat dan pertunjukannya diancam akan dibubarkan karena diangap tidak sesuai dengan kepribadian nasional. Banyak terjadi bahwa kebudayaan ditentukan oleh selera siapa yang berkuasa dan memangku jabatan.

Dalam wawancara oleh majalah Midi dengan anggota grup AKA, Ucok mengungkapkan: “Dalam show saya memang sering bisa mempengaruhi anak-anak muda yang menonton dengan teknik performace saya yang tersendiri, misalnya saya sampai “ Fly” maka anak-anak muda penonton pun ikut-ikutan. Padahal sebetulnya saya hanya berusaha mewujudkan teks lagu yang justru bermaksud untuk memberi nasihat agar jangan suka mengisap ganja, dan sebagainya. Tetapi rupanya mereka meniru begitu saja tanpa melihat keseluruhan teks lagu dan menurut pihak kepolisian saya dianggap berbahaya karena bisa mempengaruhi anak-anak muda walaupun itikad saya sendiri sama sekali tidak jelek”.

AKA tidak lagi selalu menampilkan peti mati, kulit sapi, tengkorak dan lain-lainya dalam pertunjukan karena ada larangan dari pemerintah. Oleh karena itu AKA hanya mengadakan pertunjukan ala kadarnya. Memang bagi AKA sendiri hal itu sangat tidak menguntungkan, tetapi apa daya. Selain di pulau jawa, Ucok Harahap dari AKA juga masuk black list di Bali sama seperti Mickey Mickelbach dari Band bentoel Malang. Ucok mengatakan “Hampir setiap pertunjukan AKA, terutama di daerah yang masyarakatnya belum terlalu terbuka, selalu dijaga ketat dan diawasi. Sebetulnya bukan masyarakatnya yang menolak AKA, tetapi penguasa setempat”. Dalam salah satu pertunjukannya, AKA tampil di Taman Hiburan Rakyat Surabaya tanpa atraksi peti mati dan keanehan lainya, mereka hendak menyuguhkan musiknya saja. Tetapi meski tanpa adanya peti mati, Ucok masih mampu menyemarakkan atraksinya, seperti terjun ke tepi kolam dan menari-nari sambil mengitari air mancur.

Berbicara mengenai lagu-lagunya AKA, di dalam grup AKA sendiri semua anggotanya dapat menciptakan lagu, tidak terkecuali Ucok. Tiap lagu yang diciptakan Ucok adalah buah dari pengalaman pribadinya yang paling berkesan. Menurutnya, pada waktu ia sedang menderita banyak ilham hinggap pada dirinya dan perasaan ini paling enak dirasakannya untuk menciptakan sebuah lagu. Pada setiap album, AKA selalu menyelipkan lagu-lagu pop manis selain nada rock yang garang. Ucok AKA mengatakan bahwa AKA membedakan antara penyajian musik dalam rekaman dan dalam show karena menurutnya kedua hal itu harus disesuaikan dengan keadaan. AKA mempunyai prinsip dalam pertunjukan harus berbeda dari waktu rekaman.

Tidak seperti dalam pertunjukannya yang sering menampilkan lagu-lagu bertema sex, dalam rekaman AKA belum berani menciptakan lagu seperti itu walaupun itu bukan lagu Indonesia, soalnya dalam mencipta lagu, AKA juga harus menjaga nama baik dan lagi masyarakat Indonesia belum bisa menerima lagu-lagu semacam itu. Ke-undergrounan AKA sejak dulu tidak ada dalam lagu-lagu ciptaannya. Di atas panggung mereka memainkan lagu yang sesuai dengan trend musik hard rock pada waktu itu. Sedangkan album rekaman mereka, selain beberapa lagu berbahasa Inggris, AKA juga menampilkan lagu-lagu pop Indonesia yang cengeng, misalnya Akhir Kisah Sedih, atau Badai Bulan Desember.

Dalam berbagai pertunjukan musiknya, grup AKA selain membawakan lagu-lagu heavy juga membawakan lagu-lagu pop Indonesia ataupun pop melayu. Seperti yang dikatakan oleh Ucok, bahwa musik adalah seni dan musik melayu juga ada seninya dan mereka berusaha memenuhi selera masyrakat lewat dua objek, yakni panggung dan plat atau piringan hitam. AKA mengeluarkan album pertama mereka, Do What You Like (1970), yang berisi tiga lagu bernuansa rock keras berbahasa Inggris (Do What You Like, I’ve Gotta Work It Out, dan Glennmore) dan juga lagu-lagu pop Indonesia seperti Akhir Kisah Sedih dan Di Akhir Bulan Lima yang liriknya sangat bertolak belakang dengan semangat musik yang dibawakannya waktu di panggung.

Dalam setiap albumnya, AKA selalu menyelipkan lagu-lagu pop manis selain lagu rock yang garang. Setelah Do What You Like, album-album AKA berikutnya adalah Reflections (1971), Crazy Joe (1972), Sky Rider (1973), Cruel Side Of Suez War (1974), Mr. Bulldog (1975), Pucuk Kumati (1977). AKA juga pernah membuat album pop melayu dan pop kasidah. Perubahan corak musik yang terjadi datang dari masing-masing anggota personilnya yang menyadari bahwa musik rock yang sering mereka bawakan di atas panggung ternyata tidak disambut positif ketika jenis musik ini direkam pada sebuah kaset dan diperjualbelikan, oleh karena itu mereka menciptakan musik yang dapat lebih diterima oleh masyarakat. Walaupun Ucok dan AKA telah banyak merekam lagunya di studio, tetapi studio rekaman dimata Ucok, jika dibandingkan dengan luar negeri kondisi di sini masih jauh dibawah mutu internasional. Mungkin menurutnya hal ini disebabkan karena studio di Indonesia masih telalu komersial.

Terlepas dari opini Ucok tentang studio rekaman, tidak sedikit yang merasa kecewa dengan sikap AKA yang tidak terlalu konsisten dalam bermusik. Deddy Dores mungkin segelintir orang yang tidak mau bandnya seperti AKA , yang dikatakannya sebagai band yang salah jalan. Karena sesungguhnya baginya sebagai band yang suka membawakan musik keras AKA sudah banyak penggemarnya. Tetapi sangat disayangkan sekali, mereka rekaman lagu-lagu qasidah sehingga efeknya penggemar AKA menjadi menurun. Ia berpendapat grup musik rock kurang mendapatkan jangkauan komersial dan menurutnya lebih baik mencari tempat penampung untuk rekaman dalam menyelematkan diri. Grup AKA pada Tahun 1973 mencetak Album Qasidah Modern dengan warna rock, diantara lewat lagu yang berjudul Bersyukurlah, Insyallah dan Amal Ibadah

Perjalanan Ucok dengan AKA berhenti pada tahun 1974 dan tahun ini adalah sebuah angka penting yang mengklimakskan perjalanan AKA band. AKA bubar jalan ketika mencapai puncak kejayaan, dan Grup ini kemudian dinonaktifkan pada tahun 1975 karena Ucok H sibuk membentuk kelompok musik baru yaitu, Ucok and His Gang dan kemudian ketiga personil lainnya, Syeh Abidin, Arthur Kaunang, dan Sonata tanjung membentuk kelompok baru juga yang bernama SAS tanpa diperkuat oleh Ucok Harahap trio ex-AKA.

SAS mendapat julukannya sebagai Emerson Lake Palmer-nya Indonesia tetapi memainkannya dengan aransement sendiri sesuai dengan musiknya SAS. Lalu sebenarnya apa yang membuat AKA band runtuh pada waktu itu ? Perempuan adalah kata kuncinya. Ucok AKA yang telah beristri dan beranak ini, larut dalam buaian asmara yang memabukkan bersama seorang fans wanitanya. “saya jatuh cinta dengan seorang wanita dan kemudian lari bersamanya, sialnya dia anak pejabat”, demikian kata Ucok AKA. Ucok memang jatuh cinta dan kawin lari bersama seorang perempuan cantik jago karate bernama Farida. Kenyataan inilah yang kemudian meruntuhkan kejayaan dinasti imperial AKA band.

Namun justru saat hidup bersama Farida inilah, nama Ucok AKA benar benar terasah sebagai seorang seniman kelas atas. Adalah seorang anak muda bernama Ali Shahab, seorang sutradara film yang di kemudian hari cukup disegani sebagai salah seorang maestro film Indonesia, yang menemukan Ucok bersama istrinya yang sedang hamil tua, duduk menggelandang di stasiun Gambir Jakarta. Perkenalan ini kemudian membuka jalan Ucok AKA dan istrinya kedalam dunia layar lebar dan Ratno Timoer yang kemudian menjadi dokter yang melahirkan film pertama yang dibintangi Ucok AKA pada tahun 1977 yaitu Ciuman Beracun. Semenjak itulah Ucok AKA rajin mondar mandir di layar lebar, kebanyakan film dengan judul judul butut, yaitu mulai dari film Manusia Purba, Darah Muda, Lonceng Maut, Gara Gara Gila Buntut, Tante Sun, Ratapan Anak Tiri II, dll.

Selepas dari keluarnya ucok dari AKA, lantas tidak membuat pria kribo ini menghentikan aktivitas musikalnya. Ia kemudian mendirikan semacam wadah organisasi seniman yang diberi nama Ucok and his gang. Ide membuat organisasi ini memang datangnya dari ucok sendiri dan sudah keinginannya untuk membuat sesuatu yang baru yang dapat diterima secara lebih terbuka kepada masyarakat. Ucok in his gang tidak hanya berkutat dalam masalah musik saja, melainkan juga melebarkan sayap pada usaha yang bermacam-macam jenisnya, seperti usaha butik, toko kaset, usaha recording, dan lain-lainnya walaupun itu hanya sebatas rencana. Dalam hal ini Uhisga nantinya akan memproduksi kaset sendiri, melengakapi butiknya dengan desainer sendiri di bawah pengawasan dari kekasihnya Ucok, Farida.

“Terus terang memang agak sulit bagi kami untuk memupuk Ucok and His Gang ini karena grup ini terdiri atas 15 orang yang mempunyai keinginan sendiri-sendiri dan berbeda satu sama lainnya, tetapi kita mau mencoba dengan segenap kemampuan yang ada, dengan 15 orang ini akan kita jadikan satu dalam masing-masing kegiatan yang sifatnya bisa berlainan dan kita memang sedang mencari kesesuaian yang ada dalam grup kita ini.” ungkap Ucok

Sebagai langkah awal merealisasikan usahanya organisasi ini akan terlebih dulu berkonsentrasi pada soal musik. Soal formasi susunan dari kelompok musik ini, Ucok akan didukung oleh 15 orang yang terdiri atas grup dancing (penari) sekaligus memakai band pengiring. “Untuk bandnya ada 8 orang diketuai oleh Johnny R, kemudian anggota dari grup penarinya dipimpin oleh Henny Hakim dan semuanya tergabung dalam Ucok and His Gang, seperti yang penulis kutip dari majalah Junior.

Kegiatan Uhisga ini tidak menimbulkan pantangan-pantangan bagi ucok untuk melakuakan pentas di sembarang tempat dan ia pun akan menyesuaikan di mana uhisga akan tampil, baik itu di night club, pesta pesta, panggung terbuka, maupun di tempat-tempat resepdi pernikahan. “jadi kami akan bermain menyuguhkannnya tergantung dimana tempat lingkungannya”, ujar pria berambut kribo ini

Selain proyek Ucok and His Gang, ia juga melangkahkan kaki seninya dalam suatu proyek kolaborasi. Proyek kerja sama ini muncul ketika AKA alias Apotik Kali Asin pimpinan Ucok pecah dan Achmad dengan God Bless-nya mulai sepi order manggung. Duet ini memang sangat berhasil apalagi album-album Duo Kribo meledak di pasaran sampai terjual 100.000 kaset. Angka tersebut pada dekade 1970-an sudah sangat fenomenal bagi ukuran musik rock yang memang waktu itu pasar jenis musik ini sangat kecil. Keberhasilan album-album mereka didasarkan pada rasa penasaran para pecinta musik rock. Mereka ingin tahu seperti apa sih kalau duo superstar bersatu dalam satu album rekaman. Koki musik dari album-album Duo Kribo ditangani oleh gitaris God Bless, Ian Antono, yang dibayar Rp 300 ribu – untuk satu album. Duo Kribo memiliki 4 buah album yang semuanya meraih sukses besar. Album pertamanya yang bertajuk Duo Kribo Volume 1 (Irama Tara, 1977) terdiri atas 8 lagu yaitu ‘Monalisa’, ‘Neraka Jahanam’, ‘Rahmat dan Cinta’, ‘Cukong Tua’, ‘Discotique’, ‘Wadam’, ‘Kenangan’ dan ‘Kami Datang’

Album tersebut menghasilkan hits legendaris seperti ‘Neraka Jahanam’, ‘Rahmat dan Cinta’, dan ‘Monalisa’. Lagu ‘Neraka Jahanam’ kemudian dipopulerkan kembali oleh penyanyi rock, Pungki Deaz, di era 1980-an yang termuat dalam Album 20 karya arranger, Ian Antono, (Musica Studio, 1999) serta oleh grup rock top saat ini, Boomerang dalam album Segitiga (Logis Record, 1998). Sementara itu, lagu ‘Cukong Tua’ dinyanyikan kembali oleh mantan penyanyi rock grup Dara Puspita, Titiek Hamzah, dalam album Tragedi (Jakson Record, 1982).Sukses album pertama membuat Duo Kribo merilis Volume II (Irama Tara, 1978). Album ini terdiri atas 9 buah lagu, yaitu ‘Pelacur Tua’, ‘Hidup Sederhana’, ‘Penari Jalang’, ‘Pacaran’, ‘Menunggu’, ‘Tertipu Lagi’, ‘Rumah Hantu’, ‘Fajar Menikam’, dan Hujan. Ian Antono dalam album kedua ini mengajak sesama rekannya di God Bless, Yockie Suryoprayogo, untuk mempermanis lagu-lagu slow lewat sentuhan jarinya pada piranti keyboard. Album kedua ini melahirkan hits legendaris seperti ‘Penari Jalang’ dan ‘Pelacur Tua’. Lagu ‘Fajar Menikam’ dan ‘Hujan’ kembali dinyanyikan oleh Grace Simon dalam album Grace Simon 1979 (Musica Studio, 1979). Lagu ‘Hujan’ dan ‘Tertipu Lagi’ juga kemudian di daur ulang oleh Achmad Albar, Nicky Astria, dan Ian Antono, dalam bentuk akustik yang tertuang dalam album Jangan Ada Luka (HP Record, 1996)

Dekade pun berganti, ucok AKA pada dekade 1980-an banyak mengalami pasang surut kehidupan. Pada tahun 1982 menjadi tahun yang mengejutkan bagi Ucok AKA.di tahun tersebut ayahnya yang sakit memaksa dirinya pulang ke Lawang, distrik utara kota Malang. Rumah besar yang baru saja dimiliki di bilangan Sawangan, Jakarta Pusat ditinggalkan Ucok AKA dan Farida beserta kedua anak mereka begitu saja demi bakti kepada orang tua. Namun yang paling parah adalah ketika istrinya meninggalkannya. Rumah tangga Ucok AKA dan Farida yang memang tidak pernah direstui oleh orang tua. Hubungan cintanya dengan Farida berakhir ketika seorang pesuruh dari keluarga orang tua Farida datang ke Lawang menjemput pulang Farida dan kedua anaknya. Peristiwa ini selain mengakhiri kisah romantis dari pasangan kekasih bohemian rock n’roll, disatu sisi mempengaruhi mental Ucok AKA dalam perjalanan kehidupannya kedepan.

Apabila membicarakan mengenai kehidupan ucok AKA pastilah tidak terlepas dari beberapa wanita yang kemudian pernah mendampingi statistik hidup Ucok AKA, beberapa bahkan terpaut usia belasan tahun dengan Ucok AKA. Bahkan istri ketiganya, merupakan sebuah bukti trauma pasca perceraian Ucok AKA dari perkawinan sebelumnya, di mana istri ketiganya ini secara fisikal cukup mirip dengan Farida. Ucok AKA kemudian harus menyadari sebuah kebenaran ungkapan klise yaitu cinta tidak harus saling memiliki. “Kalo boleh memilih saya ingin sukses dalam keluarga dibanding dalam musik rock, cuma Tuhan punya rencana lain, saya terus terusan dibelokin, jadinya malahan sukses di musik bukan di keluarga”, sebuah pernyataan pahit yang manusiawi bagi seorang Ucok AKA yang kemudian terbukti dalam berbagai hubungan rumah tangganya yang berantakan.

Pamornya yang mulai meredup kian terasa pasca trauma 82, di tahun taberikutnya bagi Ucok AKA ibarat sebuah kisah komedi gelap berdurasi panjang. Berbagai pekerjaan dilakoninya, agar asap dapur tetap mengepul. Bolak balik dari Malang ke Jakarta pun dijalaninya, karena Jakarta baginya adalah kota industri yang selalu mengepulkan asap dapur rumahnya di Malang. dapat dilihat, mulai dari penata ilustrasi musik untuk berbagai film, menjadi pengurus PARFI, membuka usaha batako, menjadi kutu loncat untuk berbagai band rock dari Warrock Power Band, hingga Coksvanska [yang kesemuanya kurang sukses di pasaran], bahkan hingga menjadi paranormal. seperti dikatakannya bahwa ketika teman-temannya yaitu Arthur Kaunang telah bermain musik untuk Tuhan, Sonata Tandjung menjadi pendeta, dan Sjech Abidin menjadi ustadz, maka Ucok memilih menjadi paranormal. Baginya menjadi paranormal, pendeta ataupun ustadz adalah profesi yang sama, yaitu memiliki tujuan untuk menolong orang lain. Walaupun ia tidak memungkiri bahwa niatnya menjadi paranormal juga disebabkan karena ia tidak ingin bersekolah terlebih dahulu seperti ketika hendak menjadi ustadz ataupun pendeta.(berbagai sumber)

Advertisements

4 thoughts on “Kiprah Rocker Gaek Ucok Harahap

  1. wah, diantara artikel-artikel tentang AKA yang saya temukan, ini adalah artike tentang AKA yang paling lengkap yang ada di web.

    nice!

    mau ngobrol-ngobrol dong kalau bisa. saya juga sedang membuat tulisan tentang perjalanan grup AKA

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s