Congrock 17

“Wah mas saya sekarang saya ada di Solo karena ada festival keroncong internasional dan kemaren habis dari malaysia” katanya melalaui sambungan telepon . Ya jawaban itu datang dari salah seoarang personil sebuah kelompokm musik keroncong asal kota lumpia kepada saya hari ini.

Entah dalam rangka apa dia ke Solo mengingat waktu yang tidak tepat untuk sekedar cipika-cikipi dengannya, tapi yang pasti berbicara soalnya tak bisa terlepaskan dari kelompok musik yang menamakan dirinya Cong rock 17.
Bagaimana kiprah grupnya ini dalam jagad musik keroncong? tanpa panjang lebar, kelompok musik Congrock 17 ini terbentuk tepatnya pada tanggal 17 Maret 1983 dari acara “kumpul-kumpul” sebagian mahasiswa Universitas 17 Agustus Semarang. Mereka yang sering berkumpul di dalam komunitas yang belum mempunyai nama itu antara lain: Alm Suluh (flute), Alm Bogie (gitar), B.J. Haryanto (melodi), Hary Djoko (cello), Ricky (banjo), Widowati (vokal), dan Marco Marnadi (vokal).

Marco Manardi mengatakan, walaupun para anggotanya ada yang menyukai jazz, country, rock, tetapi itu tidak menjadi halangan dalam membentuk suatu konsep musik yang sama, maka jadilah itu yang disebut sebagai keunikan dari kelompok musik yang mereka bentuk. Dalam acara “kumpul-kumpul” tersebut, mereka kemudian mencoba untuk bermain musik, mengaransemen, dan berkreasi dalam berbagai aliran musik country, jazz, pop sampai vokal grup. Berawal dari acara “kumpul-kumpul”, mereka pun kemudian memberi nama kelompok musik itu dengan nama Keroncong Remaja 17.

Kelompok ini pun semenjak berdirinya kerap mengikuti sekaligus memenangi arena lomba musik. Misi merupakan alasan dasar mengapa membentuk grup seni pertunjukan dan musik. Misi ini juga tercantum dalam anggaran dasar organisasi. Organisasi dalam seni pertunjukan sering kali merupakan organisasi yang digerakkan oleh misi, sehingga misi selalu menjadi motivator dasar bagi berdirinya organisasi seni pertunjukan.

Salah satu trend musik pada dasawarsa tahun 1980-an adalah trend vokal grup country, kelompok musik Keroncong Remaja 17 pun juga sering memainkan musik country dan jenis musik lainnya, namun semakin lama kelompok musik ini merasa jenuh melihat begitu banyaknya persaingan, seperti menjamurnya band-band di kota Jakarta, Bandung atau kota-kota besar lainnya, akhirnya Keroncong Remaja 17 berinisiatif membuat warna musik yang berbeda dengan kelompok musik lainnya.

Dalam perkembangannya, mereka berpikir untuk menciptakan musik dengan corak yang baru sehingga muncullah ide untuk membuat musik yang unik sekaligus “nyentrik”. Untuk merealisasiakan ide itu, B.J. Haryanto (Yanto) dan Hari Djoko bersama dengan teman-teman yang lain dari Keroncong Remaja 17 berinisiatif mengambil warna musik keroncong, dan setelah mereka memainkan jenis musik ini ternyata merasa cocok, walaupun pada awalnya mereka tidak cukup mengerti dengan musik keroncong.

Pola garap aransemen kelompok ini ketika itu lebih kental dengan gaya anak muda yang sering menuruti selera, misalnya dengan anggota yang menyukai musik rock, dimainkannya warna musik rock, begitu juga dengan yang menyenangi alunan musik jazz, mereka memasukkan unsur dari musik jazz ke dalam penggarapan musik kelompok ini. Jika keroncong hanya dimainkan seadanya (seperti yang dimainkan dalam keroncong asli dan menggunakan alat-alat baku tersebut), maka keroncong akan sulit untuk bisa masuk ke segmen anak-anak remaja dan orang-orang yang mempunya pola pikir ke depan.

Kelompok musik ini menginginkan agar setiap orang yang mendengarkan keroncong, terutama bagi anak-anak muda agar mereka nantinya dapat mendengarkan keroncong seperti layaknya mereka mendengarkan musik dari band-band yang biasa mereka dengar, tidak seperti lagu-lagu keroncong yang biasa mereka dengar. Hal yang sedikit berbeda diutarakan Marco Marnadi, sesungguhnya, awal berdirinya Congrock tidak lepas dari kekhawatiran saya, melihat eksistensi keroncong yang mulai meredup. Hal itu dimulai ketika saya membaca koran yang memberitakan bahwa 20 tahun ke depan keroncong bakal punah. Berangkat dari kekhawatiran inilah, saya tertarik untuk berbuat sesuatu dengan keroncong.

Marco Manardi pun, tidak lebih sama seperti alasan Hari Joko yang menambahkan Congrock 17 mencoba untuk membuat musik yang orang lain atau grup musik lainnya tidak pernah membuat. Kalau ia beserta grupnya ini membuat band, orang sudah banyak yang membentuk grup. Pada masa itu Congrock 17 sudah mempelajari dan mencari-cari, akan tetapi tidak ada kelompok musik yang membuat musik seperti Congrock. Kalau orang atau grup yang membawakan lagu-lagu Barat yang dikeroncongkan mungkin ada, tetapi yang seperti Congrock 17 itu tidak ada.

Hal senada juga dikatakan Almarhum Kelly puspito beberapa waktu silam kepada penulis, Congrock 17 ingin bermain musik keroncong yang berbeda dengan musik keroncong-nya “orang-orang tua”, dan biasanya pada diri anak-anak muda, mereka ingin merubah dengan menjadikan musik tersebut lebih “nge-rock”, “nge-jazz”, atau yang lain-lainnya.Pada saat awal pembentukan kelompok musik ini, mereka memainkan musik keroncong dengan sebisanya. Dalam perkembangan selanjutnya, untuk lebih masuk ke dalam “ruh” musik keroncong maka direkrutlah Pamuji (bass) dan Yono Kancil (cuk) untuk bergabung ke dalam kelompok musik Keroncong Remaja 17.

Mereka merekrut pemain cuk dan cak yang memang merupakan asli pemain musik keroncong. Para pemain yang direkrut tersebut berguna supaya mereka dapat menghindari agar tidak terlalu melenceng dan keluar dari keroncong, sehingga jazz nya, rocknya tetap ada dan keroncong itu tidak hilang dari kelompok Congrock 17. Angin segar berembus, pihak Universitas 17 Agustus Semarang lewat sang Rektor waktu itu Drs. Hari Soeharno (alm), serta Ketua Yayasan Mbah Mario (alm) memberi respon positif terhadap kelompok ini.

Respon itu direalisasikan dengan membeli seperangkat alat musik keroncong yang pada saat itu seharga Rp 1.050.000 dan disumbangkan pada kelompok musik baru tersebut. Marco dan kawan-kawan bertambah serius untuk melakukan latihan bermain musik. Mereka menambah formasi anggota dengan menempatkan Atik Sumatri sebagai vokalis, Atik juga mahasiswi dari Universitas 17 Agustus.
Seperti halnya dengan kelompok musik lainnya, kelompok musik ini pun pernah mengalami penambahan dan pergantian personil. Pada tahun 1984, masuklah Budi yang dipercaya memegang biola.

Pada tahun berikutnya, personil Congrock 17 bertambah lagi dengan bergabungnya Anang (bass), Ninik (biola), Rivai (flute), serta Bambang Kempos (vokal), selang dua tahun berikutnya giliran Jieprasetyo yang direkrut ke dalam kelompok ini dan dipercaya untuk mengisi posisi untuk vokal. Saat ini, setelah terjadi banyak pergantian personil, komposisi Congrock 17 berjumlah 13 orang yang terdiri dari: Marco Marnadi (vokal), Sastro Pramuji (vokal), Marius Hendra (vokal), B.J. Haryanto (leader gitar-backing vokal), Abraham Ricky Reinold (banjo-backing vokal), Darmaji (cello), Sumartono (banjo), Ferry Dharyadi (drum-perkusi elektrik), Hendi Catur Prasetyo (keyboard), Herie Syahrie (bass), Andrianto (biola), Yono Kancil (cuk), Rivai (flute), dan Hari Djoko Santoso (Koordinator). Menurut Marco Marnadi, ngrock 17 itu merupakan suatu gambaran aliran musik keroncong yang pada saat Ia bersama grupnya membuatnya, kemudian mengaransirnya dengan berbagai unsur musik, baik itu country, jazz, rock, dan pop.

Istilah rock itu sendiri melambangkan kebebasan musik dari Congrock 17, jadi Congrock 17 bukan hasil dari penyatuan antara musik jenis keroncong dengan musik rock. Sedangkan Hari Joko berpendapat untuk istilah rock yang ada pada nama kelompok ini sebenarnya bukan dalam arti musik rock yang sesungguhnya, akan tetapi maksudnya rock disini adalah lebih “keras” daripada musik keroncong yang telah ada.

Grup musik ini merupakanwujud kebebasan dalam berkesenian. Penggunaan angka 17 yang ada di belakang nama Kelompok musik ini karena mereka adalah mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Semarang dan juga sesuai dengan angka kelahiran kelompok musik ini yaitu pada tanggal 17 Maret 1983. Angka 17 bagi Congrock sendiri mempunyai makna yang mendalam bagi para personilnya. Kelompok musik ini bukannya “menebeng” ketenaran grup musik Dewa 19, kendati Congrock juga menggunakan embel-embel angka (17) di belakang nama kelompok.

Hal ini seperti yang diutarakan Marco Marnadi yang mengatakan angka 17 pada nama Congrock ini sebenarnya sudah terlahir jauh sebelum grup musik Dewa 19 lahir di blantika musik Indonesia. Dari dulu memang sudah memakai angka nama. Istilah untuk Congrock itu sendiri bukan pengertian musik rock secara harafiah dan mereka tidak pernah benar-benar memberikan nama congrock dan nama congrock itu sendiri berawal pada saat mereka berada di atas panggung.

Sebutan musik keroncong yang “nge-rock” ini menjadi perbincangan banyak orang, terlebih lagi ketika mereka manggung pada tahun 1986. Saat Congrock melakukan penampilan di pentas ajang Sejuta Bintang yang bertempat di GOR Jawa Tengah (kini Ciputra) bersama dengan artis dari Jakarta, penonton yang hadir pada acara tersebut sangat responsif, dan mengatakan “keronconge nge-rock”. “Nge-rock” yang di maksud ini bukan seperti musik rock yang keras dan penuh alat musik elektrik. “Nge-rock” yang dimaksud mengandung unsur keunikan bahwa irama musik keroncong dapat dibuat “jenaka” dengan menyelipkan unsur-unsur dari musik jazz atau country di dalamnya.“Di dalam perlombaan tersebut kami tampil sebagai pengisi acara dan menampilkan sesuatu yang baru disamping keroncong yang lain. Saat kami tampil, banyak penonton yang menyeletuk bahwa menurut mreka keroncong kami itu ngerock” kata Hari Joko.

Seperti yang dikatakan oleh Marco Manardi pencantuman angka 17 memang bukan sembarangan untuk kelompok musik Congrock 17 dan angka itu merupakan angka keramat. Congrock 17 terlahir dan dibidani oleh segenap civitas akademika Universitas 17 Agustus 1945 Semarang dan terbentuk pada tanggal 17 Maret 1983. Angka 17 ternyata juga punya makna yang sangat penting bagi setiap orang, karena hampir setiap orang selalu menganggap usia 17 tahun sebagai sebuah masa yang sangat berarti baginya, dan misalnya bagi bangsa Indonesia angka 17 begitu “keramat” karena republik ini merayakan proklamasi kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus, sehingga tanggal 17 Agustus tidak mungkin dilupakan begitu saja oleh segenap bangsa Indonesia.

Nama Congrock 17 sepertinya membawa berkah tersendiri, alhasil, Congrock 17 pun langsung melesat ke kancah dunia permusikan Jawa Tengah. Tawaran untuk berpentas datang dari berbagai instansi maupun masyarakat. Congrock 17 mulai sibuk untuk melakukan pentas di berbagai tempat dalam berbagai macam acara. Lantas sebagai konsekuensi kerja, profesionalisme merupakan hal yang mutlak maka diangkatlah seorang manajer yang bernama Wahyu Adi yang di kalangan pemusik kota Semarang saat itu beliau cukup mempunyai nama dan seoarang koordinator. (bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s