Congrock 17 Go Internasional

Kelompok musik keroncong asal kota Lumpia ini tanpa dinyana juga pernah menjajal panggung di luar negeri di tahun 90-an. Adalah negeri Belanda, Jerman dan Suriname, ketiga negara itu pernah mereka singgahi.

Tapi sebelum kelompok musik Congrock 17 melakukan perhelatan ke benua Eropa, mereka terlebih dahulu pentas di sebuah acara yang diberi tema ‘Reuni Musik’ di TBRS, Jl. Sriwijaya, Semarang. Congrock 17 pun sempat disewa oleh pihak penyelenggara dari Bali untuk tur keliling berbagai kota di Indonesia selama sebulan penuh dari pertengahan bulan Desember hingga Januari 1994.

Awalnya Congrock 17 melakukan pementasan di negeri Belanda bermuara dari penyanyi Titiek Puspa yang begitu terkesan pada kelompok musik ini, sehingga Titiek Puspa dan Vony Sumlang berencana mengajak Congrock 17 untuk keliling Eropa dan Amerika Latin selama satu bulan penuh pada April tahun 1995. “Saya tertarik Congrock 17 itu karena unik. Warna musiknya juga baru, tetapi gampang melekat. Ketika saya bawa dan kenalkan di Eropa dan Amerika Latin, ternyata penggemarnya luar biasa” kata Titiek Puspa. Congrock pun menganggapi positif ide lawatan ke berbagai negara di Eropa, seperti yang dikatakan oleh Marco, vokalis kelompok musik tersebut merasa sangat berterima kasih kepada Titiek Puspa karena telah mengajak Congrock 17 keliling Eropa.

Dalam organisasi seni, tidak terkecuali dalam suatu pertunjukan seni sering dibutuhkan adanya penyokong dana atau sponsor seperti misalnya dari instansi pemerintah yang menjadi sumber dana potensial. Instansi tersebut misalnya Dinas Pariwisata Seni dan Kebudayaan yang merupakan bagian dari pemerintah provinsi maupun pemerintah kota yang mempunyai fasilitas fisik maupun anggaran untuk mendukung bahkan mendorong kesenian. Hal yang sama berlaku bagi perwakilan pemerintah negara asing.

Dalam acara keliling mancanegara Congrock 17 yang mengusung tema misi kebudayaan Indonesia tersebut tidak terlepas dari peran suatu instansi yang memberi kucuran dana. Dalam penyelenggaraan misi kebudayaan ini peran dari kedutaan besar negara-negara yang akan disinggahi Congrock-lah yang memberikan sponsor demi jalannya perhelatan tersebut. Kelompok musik Congrock 17 dipercaya Departemen Luar Negeri RI untuk menjadi Duta Seni ke Suriname pada tanggal 16 hingga 23 Januari 1995.

Mereka diminta untuk membawakan lagu-lagu Jawa, misalnya tembang Dolanan, Ronce-ronce dan Cublak-cublak Suweng, atau lagu Walang Kekek-nya Waldjinah, mengingat bahwa sebagian penduduk negara yang terletak di Amerika Selatan itu adalah keturunan Jawa yang banyak menyukai musik-musik keroncong dan tembang Jawa.

Rombongan ini sedianya akan ditemui oleh Walikota Sutrisno S untuk berpamitan sekaligus meminta izin bagi ketiga pemainnya yang kebetulan adalah pegawai Pemerintah Daerah Kotamadya Semarang, tetapi karena kesibukan Pak Walikota, maka mereka diterima oleh Sekretaris Wilayah Daerah (Sekwilda) untuk kemudian diberi izin melakukan perhelatan sebagai duta seni Indonesia.

Setelah melalui berbagai macam prosedural menjelang keberangkatan, Congrock 17 pun akhirnya pentas di Belanda, Suriname, dan Jerman bersama Titiek Puspa, di kedua negara yaitu Belanda dan Suriname mereka mendapat jatah waktu pentas selama 3 jam. Gedung Stars (Suriname) yang mampu menampung 1.500 penonton merupakan saksi di mana musik Congrock 17 mampu menghidangkan sajian spesial bagi para pecinta musik negeri tersebut. Tetapi pada awalnya, waktu 3 jam merupakan waktu lama untuk pergelaran sebuah kelompok musik baru yang dan belum pernah dipentaskan sebelumnya, lalu yang terbayang kemudian pergelaran ini akan diwarnai pada rasa kejemuan yang diselimuti oleh kebosanan.

Namun berkat pengalaman seorang Titiek Puspa yang mempunyai kematangan dalam meramu paket duta budaya dapat membuktikannya di atas pentas mereka masih memukau dan penonton pun terpesona sehingga tidak merasakan panjangnya pergelaran, hingga akhir pertunjukan selalu muncul permintaan tambahan lagu dari penonton. Congrock 17 dalam perhelatan kali ini membawakan lagu Jawa yang berjudul Suwe Ora Jamu dalam kemasan aransemen musik baru yang mereka garap, kemudian disusul dengan sederet lagu-lagu Barat Here I Am, Ticket To Ride, I Feel Good, dan lagu Indonesia yang berjudul Sapu Lidi. Titiek Puspa ikut memanaskan suasana dengan nyanyian-nyanyian lagu yang diiringi musik garapan Congrock 17.

Pada saat Congrock 17 tampil di Gedung Olahraga Ness (Belanda), keadaan tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di Gedung Stars, Gedung Olahraga Ness ini mampu menghadirkan kurang lebih 8.000 jumlah penonton yang dipenuhi oleh berbagai macam golongan masyarakat. Hal ini dapat dijadikan sebagai suatu indikasi yang menunjukkan bahwa musik yang disuguhkan Congrock 17 dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Penonton tidak ingin beranjak keluar dan kerap meminta encore.

Kelompok musik ini pun menyanyikan kembali 1 atau 2 buah lagu sebelum menyelesaikan konsernya. Selain dihadiri oleh masyarakat dari berbagai macam ras di Suriname, dalam pertunjukannya kali ini turut hadir pula presiden Suriname. Marco mengatakan banyak dari keturunan Hindustan yang hadir, keturunan kreol, di samping orang-orang keturunan jawa itu sendiri. Sehingga Congrock 17 merasa bisa menyatukan penduduk suriname tersebut dalam satu gedung.

Sang presiden seperti yang dikatakan Marco, ingin sekali melihat pertunjukan Congrock dan ingin mengetahui seperti apa “kehebohan” musik Congrock yang berbeda dengan keroncong lainnya. Congrock 17 tampil di Jerman dalam serangkaian tur manca negara tersebut. Di sana Congrock menunjukan kebolehannya guna bermain musik dan menghibur seluruh anggota kedutaan besar RI untuk Jerman.

Acara yang bertempat di Kedubes RI tersebut dihadiri oleh para keluarga besar Kedubes RI dan para tamu undangan lainnya.”Saat kami tampil di Jerman (Kedubes RI), tanggapan yang diberikan oleh para audience tersebut, terutama yang diperlihatkan orang-orang Jerman terhadap Congrock sangat baik serta lebih bisa menerima kehadiran Congrock 17. “Hal itu sangat membanggakan bagi Congrock”. ungkap Marco. Congrock 17 menganggap bahwa lagu-lagu yang Congrock tampilkan berkenan di hati para penonton di Jerman tersebut. Audience yang hadir di kedubes tersebut mencapai sekitar 300-500 orang dan itu menjadi bukti musik congrock dapat disukai oleh para penonton. (bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s