Nama Alice Cooper mungkin terdengar asing bagi telinga anak muda sekarang dan lagu-lagunya mungkin telah dimasukkan dalam kotak musik dengan kelas khusus klasik rock yang apabila kita ingin mendengarnya pun terasa sangat jadul sekali. Namun begitu, sosoknya begitu tidak terlupakan apabila kita kembali bertanya tentang kontribusinya dalam memberikan wajah sekaligus atribut musikal kepada musisi rock indonesia pada dekade 1970-an.

Adalah Vinvent Damon Furnier sangat identik dengan Alice Cooper, bahkan tidak sedikit penggemarnya keliru dan menduga bahwa Alice Cooper adalah nama vokalisnya bukan grup musiknya. Itu terjadi karena peran dan trik-trik teatrikal Furnier saat tampil di panggung. Furnier mengubah nama grupnya menjadi Alice Cooper karena nama grup yang awalnya bernama the spider and The Nazz sudah dipakai oleh grup musik lainnya. Menurut Furnier, dirinya adalah reinkarnasi dari seorang nenek sihir yang hidup di abad 17 yang bernama Alice Cooper. Sosok grup musik Alice Cooper menggambarkan secara seimbang antara kengerian film horor, trik teater di pentas, kegalakan musik Black Sabbath dan led Zeppelin. Grup musik ini dibuat untuk kepentingan show dengan menampilkan properti yang berkesan sadis, seperti kursi listrik, guilotin, tiang gantungan, peti mati, dan ular.

Tidak berbeda dengan penetrasi musikal dari grup musik Queen maupun Deep Purple bagi grup-grup musik Indonesia pada decade 1970-an Menurut pengamat musik Denny Sakrie, kelompok Bimbo pernah meminjam beberapa bar melodi dari lagu Bohemian Rhapsody pada lagu Di Jembatan Semanggi (dari album Bimbo rekaman Remaco 1975). Demikian juga lagu How dari grup Superkid yang diusung Deddy Stanzah, Deddy Dorres dan Jelly Tobing juga mencuplik bagian awal dari lagu Bohemian Rhapsody, begitu juga dengan pengaruh Deep Purple; Deddy Dores menjadi salah satu musisi pop-rock Indonesia angkatan 1970-an yang sangat dipengaruhi aliran musik Purple, Superkid, salah satu band rock era 1970-an asal Bandung yang beranggotakan Deddy Dores, Jelly Tobing, dan Deddy Stanzah, memasukkan potongan lagu Smoke on the Water di album pertama mereka, Trouble Maker (1975), dan lain-lainnya.

Pengaruh musikal yang sering ditampilkan oleh penyanyi Alice Cooper juga membawa pengaruh yang signifikan bagi para musisi rock di Indonesia pada dekade 1970-an. Bagaimana tidak sebab apabila kita menyimak kembali hampir dari sebagian besar musisi rock Indonesia pada dekade tersebut mengadaptasi gaya, busana maupun atraksi panggung Alice Cooper ketika mereka pentas di panggung pertunjukannya, sebut saja misalnya Grup musik AKA, The Fanny, Ternchem, maupun God Bless, dan sebagainya.

AKA menampilkan atraksi yang waktu itu belum pernah diperkenalkan oleh grup mana pun seperti coitus interaptus, teatral ala kebiasaan suku Indian kuno, peti mati, dan tiang gantunga. Aksi gaya AKA berlanjut di pentas-pentas musik selanjutnya, seperti dalam salah satu pertunjukan musiknya yang dihadiri tidak kurang 5000 penonton di Gedung Gelora Olahraga 10 November Surabaya. AKA dengan maskotnya Ucok membuka acara dengan bertingkah seakan-akan kemasukan setan, ia naik tangga, naik ke tiang gantungan dengan kaki terikat ke atas kepala menjulur ke bawah sambil terus menyanyi lalu ditusuk-tusuk hingga keluar darah. Pada akhir pertunjukan Ucok digotong dan dimasukkan ke dalam mobil ambulance. Aksi serupa juga diperlihatkan dalam pentas AKA di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada tahun 1972. Pada akhir acara, Ucok dirajam oleh para algojo dan kemudian dimasukkan ke dalam sebuah peti mati yang lalu dipaku. Banyak orang menilai keeksentrikan gaya Ucok AKA yang diperlihatkan panggung sering dikaitkan dengan unsur magik, tetapi menurut Ucok AKA gaya yang dipertunjukannya itu tidak lebih sebatas atraksi panggung.

Bernard vokalis dari grup musik Ternchem berekpresi seperti orang kesurupan di atas pentas musiknya. Grup Terncem dari Solo terkenal juga karena aksi panggung pertunjukannya yang mempertunjukkan ular, api, dan peti mati. Aksi panggung grup musik The Fanny tidak jarang menampilkan aksi pertunjukan dengan menggunakan peti mati, suntik, makan api, kembang api, dupa, dan sebagainya yang dilakukan dengan maksud untuk menambah kekaguman publik. Sang vokalis melakukan aksi panggung dari mengayun-ayunkan tangkai mick dan menyembur-nyemburkan api dari mulutnya sampai memakai jubah hitam bertongkat tengkorak manusia kemudian melakukan adegan bunuh diri dan terakhir digotong dimasukkan ke dalam peti mati.

Aksi panggung ini dipertunjukkan kembali dalam Jambore Band Se-Jateng di Semarang. Grup The Fanny’s tidak lupa untuk mempertunjukan aksi bunuh diri Juju sang vokalis setelah ia mendemostrasikan atraksi penyemburan api dari mulut. Sebagai sumber referensi untuk gaya pertunjukan grup-grup musik tersebut didapat melalui berbagai majalah musik terbitan Amerika atau Eropa, seperti majalah Music Express, Melody Maker, atau Pop Foto dan foto sampul PH. PH tidak sekadar menjadi acuan musikal tetapi juga menjadi inspirasi penampilan visual.

Akhirnya apa yang ditampilkan di panggung oleh grup-grup musik rock Indonesia menimbulkan kesan spectacle yang serupa tetapi dalam wujud asli orang pribumi yang timbul akibat ekses globalisasi yang menjurus kepada pola adaptasi grup-grup musik gaya pertunjukan alice Cooper tersebut. Akan tetapi orisinalitas terkadang tidak patut untuk dipertanyakan karena itu merupakan sesuatu yang wajar apabila hal itu ditempatkan dalam konteks insiprasif, di mana musisi yang yang satu memberikan semacam insiprasi kepada musisi yang lainnya demi kemajuan musisi yang di insiprasinya.

Gaya aksi panggung yang teatrikal lumrah saja dilakukan karena atmosfir pentas musik Indonesia ketika itu dipenuhi musik yang diistilahkan sebagai musik ”sweet pop” dengan Koes Plus dan grup-grup pengikutnya semacam The Mercys, Bimbo, Dlloy’d, The Favorites group, dan Panbers dan untuk mengalihkan perhatian para musisi rock membuat atraksi yang sangat berbeda yang mengarah kepada aksi teatrikal. Grup musik rock pada dekade 1970-an berlomba-lomba untuk tampil atraktif di atas panggung apabila ingin tetap mempertahankan eksistensinya (Tulisan berbagai sumber)